Arina.id - Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita menyaksikan perilaku zalim yang dipertontonkan secara terang-terangan. Keserakahan yang melampaui batas, kekuasaan yang disalahgunakan, dan hak-hak orang kecil yang diinjak tanpa belas kasihan menjadi potret nyata dari kezaliman yang merajalela. Di tengah ketidakberdayaan menghadapi mereka, berdoa menjadi bentuk ikhtiar batiniah agar hati tetap tenang dan iman tetap teguh.
Islam mengajarkan bahwa doa adalah senjata orang beriman, terutama saat menghadapi kezaliman yang tampak tak terbendung. Ketika kita melihat orang zalim semakin serakah, jangan biarkan hati larut dalam amarah atau keputusasaan. Sebaliknya, kembalikan semua kepada Allah sambil membaca doa yang diajarkan oleh para ulama dan bersumber dari Nabi, agar kita tetap berada dalam lindungan-Nya. Berikut adalah tiga doa yang bisa kita baca ketika menyaksikan kazaliman.
1. Doa Agar Keserakahan Diberhentikan
Salah satu doa yang bisa kita baca ketika melihat keserakahan orang-orang zalim adalah doa agar perbuatan buruk tersebut segera dihentikan total oleh Allah swt. Berikut doanya yang dikutip dari salah satu hadits Nabi riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ
Allâhumma innâ naj‘aluk(a) fî nuḥûrihim, wa na‘ûdhu bika min syurûrihim.
Artinya, "Ya Allah, sesungguhnya kami menyerahkan mereka kepada-Mu dan memohon perlindungan-Mu dari kejahatan mereka."
Doa tersebut bersumber dari hadits berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَافَ قَوْمًا قَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ
Artinya, "Muhammad bin al-Mutsannā meriwayatkan kepada kami, katanya: Mu‘āż bin Hishām telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Qatādah, dari Abū Burdah bin ‘Abdillāh, dari ayahnya, bahwa Nabi saw apabila merasa khawatir terhadap suatu kaum, beliau biasa berdoa: “Ya Allah, kami jadikan Engkau sebagai penyanggah di hadapan mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” (HR Abu Dawud dan Nasa'i)
2. Doa agar Terhindar dari Kezaliman
Salah satu doa yang bisa kita baca juga adalah doa agar terhindar dari keburukan atau musibah akibat kezaliman orang-orang serakah. Berikut adalah teks doanya:
رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Rabbanâ lâ taj‘alnâ fitnatan lil-qawmiẓ-ẓâlimîn.
Artinya, "Ya Tuhan kami, jangan jadikan kami sasaran fitnah atau ujian bagi kaum yang zalim.” (QS. Yunus: 85)
Doa tersebut berasal dari Al-Qur'an surat Yunus ayat 85 sebagai berikut:
فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۖ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: "Maka mereka pun berkata: Kami bertawakal hanya kepada Allah. Ya Tuhan kami, jangan jadikan kami sasaran fitnah atau ujian bagi kaum yang zalim.”
Berkenaan ayat di atas, Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud doa dalam ayat tersebut bertujuan agar kita tidak terkena imbas dari perbuatan zalim atau dosa orang lain. Agar keserakahan mereka tidak berdampak buruk bagi orang lain, maka kita dianjurkan membacanya. Ath-Thabari menjelaskan:
وَقَدِ اخْتَلَفَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي الْمَعْنَى الَّذِي سَأَلُوهُ رَبَّهُمْ مِنْ إِعَاذَتِهِمْ أَنْ يَكُونُوا فِتْنَةً لِقَوْمِ فِرْعَوْنَ، فَذَكَرَ ابْنُ وَكِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي الضَّحَّى فِي قَوْلِهِ: (رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ)، قَالَ: لَا تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا، فَيَزْدَادُوا فِتْنَةً، وَرَوَى ابْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَكَامٌ، عَنْ عُنْبُسَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ أَبِي بَزَّةَ، عَنْ مُجَاهِدٍ فِي قَوْلِهِ: (لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ)، قَالَ: لَا تُصِبْنَا بِعَذَابٍ مِنْ عِندِكَ وَلَا بِأَيْدِيهِمْ، فَيَفْتَتِنُوا وَيَقُولُوا: "لَوْ كَانُوا عَلَى حَقٍّ مَا سُلِّطْنَا عَلَيْهِمْ وَلَا عُذِّبُوا
Artinya, "Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna yang dimaksud oleh doa mereka agar Allah tidak menjadikan mereka sebagai fitnah bagi kaum Fir‘aun. Diriwayatkan dari Abuḍ-Ḍaḥḥā bahwa makna firman-Nya “Ya Tuhan kami, jangan jadikan kami sebagai fitnah bagi kaum yang zalim” adalah: jangan Engkau beri mereka kekuasaan atas kami, sehingga mereka semakin sesat dan terfitnah. Sementara Mujāhid menafsirkan bahwa maksudnya adalah: jangan Engkau timpakan kepada kami azab dari sisi-Mu atau melalui tangan-tangan mereka, sehingga mereka menjadi terfitnah dan berkata, “Kalau mereka berada di jalan yang benar, niscaya kami tidak akan diberi kuasa atas mereka dan tidak akan diazab.” (Ath-Thabari, tanpa tahun: juz 10, h. 168)
3. Doa agar Kezaliman Berbalik Arah
Doa berikut ini merupakan permohonan agar kezaliman, kejahatan, atau perbuatan buruk seseorang tidak sampai mencelakai orang lain, melainkan justru berbalik arah dan menimpa kepada pelakunya sendiri. Harapannya, hal ini menjadi pelajaran yang menyadarkan dan membuat pelaku jera, sehingga ia menghentikan tindakan zalimnya dan kembali kepada kebaikan. Berikut adalah doa yang dikutip dari dari Zadus Salikin karya Ath-Thabba':
اكْفِنَا اللَّهُمَّ شَرَّ الْحَاسِدِينَ وَالْمُعَادِينَ، انْصُرْنَا عَلَيْهِمْ بِنَصْرِكَ وَتَأْيِيدِكَ، يَا قَوِيُّ يَا مُعِينُ، اللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَنَا بِسُوءٍ فَاجْعَلْ دَائِرَةَ السُّوءِ عَلَيْهِ، ارْمِ اللَّهُمَّ نَحْرَهُ فِي كَيْدِهِ حَتَّى يَذْبَحَ نَفْسَهُ بِيَدَيْهِ، اضْرِبْ عَلَيْنَا سُرَادِقَ الْوِقَايَةِ وَالرِّعَايَةِ، وَأَحِطْنَا بِعَسَاكِرِ الْأَمْنِ وَالصَّوْنِ وَالْكِفَايَةِ، رُدَّ بِسَهْمِ قَهْرِكَ مَنْ آذَانَا، وَأَيِّدْ بِمَكِينِ جَبَرُوتِكَ مَقَامَنَا وَحِمَانَا
Ikfinâ Allâhumma syarra al-ḥâsidîn wal-mu‘âdîn, unsur-nâ ‘alayhim binaṣrika wa ta’yîdika, yâ Qawiyy yâ Mu‘în. Allâhumma man arâdanâ bisû’in faj‘al dâ’irata as-sû’i ‘alayh, irmi Allâhumma naḥrahu fî kaydih ḥattâ yadhbaḥa nafsahu biyadayh. iḍrib ‘alaynâ surâdiqa al-wiqâyah war-ri‘âyah, wa aḥiṭhnâ bi‘asâkiri al-amni wa aṣ-ṣawni wal-kifâyah, rudd bisahmi qahrika man âdhânâ, wa ayyid bimakîni jabarûtika maqâmanâ wa ḥimânâ.
Artinya, "Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan para pendengki dan para musuh. Tolonglah kami atas mereka dengan pertolongan dan dukungan-Mu, wahai Dzat yang Maha Kuat dan Maha Menolong. Ya Allah, siapa pun yang menginginkan keburukan terhadap kami, jadikanlah keburukan itu kembali menimpanya sendiri. Ya Allah, arahkan lehernya ke dalam tipu dayanya, hingga ia membinasakan dirinya dengan tangannya sendiri."
"Bentangkanlah atas kami tenda penjagaan dan perawatan-Mu, dan kepunglah kami dengan pasukan keamanan, perlindungan, dan kecukupan dari-Mu. Tancapkan panah kekuasaan-Mu kepada siapa pun yang menyakiti kami, dan teguhkanlah tempat dan perlindungan kami dengan kekuatan jabbar-Mu yang kokoh." (Ath-Thabba', 2013: h. 28)
Melihat keserakahan orang-orang zalim memang bisa mengguncang ketenangan hati dan menumbuhkan rasa ketidakadilan. Namun, alih-alih membalas dengan kebencian, Islam mengarahkan kita untuk berlindung kepada Allah dengan doa. Doa-doa yang diajarkan para nabi dan ulama bukan hanya bentuk permohonan perlindungan, tetapi juga penguat jiwa agar kita tetap tegar, sabar, dan berada dalam naungan kebenaran. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


