Arina.id- Sebagai umat Islam, tentu kita ingin selalu mampu berbuat baik, kapan pun dan di mana pun. Termasuk saat memasuki awal tahun, kita berharap diberi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan beribadah kepada Allah semaksimal mungkin sepanjang tahun yang akan dijalani.
Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan amal perbuatannya pun baik dan bermanfaat. Dalam satu hadits diriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ خَيْرُ النَّاسِ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Artinya: “Dari Abdullah bin Busr, bahwa seorang Arab Badui berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia terbaik?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi)
Berkaitan dengan hadits ini, Shafyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan:
قالَ الطِّيْبِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: إِنَّ الأَوْقَاتِ وَالسَّاعَاتِ كَرَأْسِ الْمَالِ لِلتَّاجِرِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَّجِرَ فِيمَا يَرْبَحُ فِيهِ، وَكُلَّمَا كَانَ رَأْسُ مَالِهِ كَثِيرًا كَانَ الرِّبْحُ أَكْثَرَ. فَمَنْ انْتَفَعَ مِنْ عُمُرِهِ بِأَنْ حَسُنَ عَمَلُهُ فَقَدْ فَازَ وَأَفْلَحَ، وَمَنْ أَضَاعَ رَأْسَ مَالِهِ لَمْ يَرْبَحْ وَخَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا. انتهى
Artinya: “Ath-Thibi rahimahullāh berkata: Waktu dan jam-jam dalam hidup itu seperti modal bagi seorang pedagang. Maka seharusnya seseorang "berdagang" dengan memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang memberi untung. Dan semakin besar modal yang ia miliki, semakin besar pula keuntungan yang bisa diraih. Siapa yang memanfaatkan umurnya dengan memperbaiki amal perbuatannya, maka sungguh ia telah meraih kemenangan dan keberuntungan. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan modal hidupnya, ia tidak akan mendapatkan untung, bahkan mengalami kerugian yang nyata.” (Ath-Thibi: juz 6, h. 511)
Dari penjelasan Ath-Thibi ini dapat dipahami bahwa waktu yang dimiliki manusia ibarat modal utama dalam hidup, sebagaimana modal bagi seorang pedagang. Jika digunakan dengan baik untuk meraih amal dan kebaikan, maka hasilnya adalah keuntungan akhirat yang berlimpah.
Semakin banyak waktu (umur) yang tersedia dan dimanfaatkan secara bijak, maka semakin besar pula peluang seseorang untuk meraih keberuntungan spiritual dan kesuksesan di sisi Allah.
Orang yang menyia-nyiakan waktu sama artinya dengan membuang modal hidup yang berharga. Jika seseorang tidak memanfaatkan umurnya dengan amal yang baik, maka bukan hanya ia gagal meraih pahala, tetapi juga terjerumus dalam kerugian yang nyata.
Pesan ini menegaskan pentingnya memulai tahun baru dengan semangat memperbaiki diri, sebab umur yang panjang tanpa amal akan menjadi beban dan tidak akan meraih keberkahan.
Doa 10 Hari Pertama Bulan Muharram
Salah satu ikhtiar yang bisa kita lakukan agar senantiasa mampu berbuat baik dan tekun beribadah adalah dengan membaca doa khusus selama 10 hari pertama bulan Muharram. Sebagaimana dianjurkan oleh Syekh Abdul Hamid Kudus dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur.
Menurut beliau, orang yang rutin membaca doa ini akan mendapatkan perlindungan dari godaan setan sepanjang satu tahun penuh ke depan. Berikut teks doanya:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ قَدِيمٌ، وَهٰذَا الْعَامُ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ، وَسَنَةٌ جَدِيدَةٌ قَدْ أَقْبَلَتْ، نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَنَسْتَكْفِيكَ فَوَاتَهَا وَشُغْلَهَا، فَارْزُقْنَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اللَّهُمَّ إِنَّكَ سَلَّطْتَ عَلَيْنَا عَدُوًّا بَصِيرًا بِعُيُوبِنَا، وَمُطَّلِعًا عَلَى عَوْرَاتِنَا، مِنْ بَيْنِ أَيْدِينَا وَمِنْ خَلْفِنَا، وَعَنْ أَيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا، يَرَانَا هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا نَرَاهُمْ
اللَّهُمَّ آيِسْهُ مِنَّا كَمَا آيَسْتَهُ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَقَنِّطْهُ مِنَّا كَمَا قَنَّطْتَهُ مِنْ عَفْوِكَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ كَمَا حُلْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَغْفِرَتِكَ، إِنَّكَ قَادِرٌ عَلَىٰ ذَٰلِكَ، وَأَنْتَ الْفَعَّالُ لِمَا تُرِيدُ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَىٰ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Allahumma innaka qadīmun, wa hādzal-‘āmu jadīdun qad aqbala, wa sanatun jadīdatun qad aqbalat, nas’aluka min khayrihā, wa na‘ūdzu bika min sharrihā, wa nastakfīka fawātahā wa syughlahā, farzuqnā al-‘ishmata minasy-syayṭānir-rajīm.
Allahumma innaka sallaṯta ‘alaynā ‘aduwwan baṣīran bi-‘uyūbinā, wa muṭṭali‘an ‘alā ‘awrātinā, min bayni aydīnā wa min khalfina, wa ‘an aymāninā wa ‘an syamā’ilinā, yarānā huwa wa qabīluhū min ḥaytsu lā narāhum.
Allahumma ayyis-hu minnā kamā ayyastahū min raḥmatik, wa qannith-hu minnā kamā qannattahū min ‘afwik, wa bā‘id baynanā wa baynahū kamā ḥulta baynahū wa bayna maghfiratik, innaka qādirun ‘alā dzālik, wa anta al-fa‘‘ālu limā turīd. Wa ṣallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Mahakekal, dan ini adalah tahun baru yang telah datang, satu tahun baru telah tiba. Kami memohon kepada-Mu kebaikan yang ada di dalamnya, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukannya. Kami mohon perlindungan dari terlewatkannya kesempatan serta dari hal-hal yang menyibukkan. Maka karuniakanlah kepada kami perlindungan dari setan yang terkutuk.”
“Ya Allah, Engkau telah menjadikan musuh yang cermat melihat kelemahan kami, dan bisa mengintai aib-aib kami, dari depan kami, dari belakang kami, dari kanan dan kiri kami. Ia dan pasukannya bisa melihat kami dari arah yang kami tidak bisa melihat mereka.”
“Ya Allah, buatlah dia putus asa terhadap kami sebagaimana Engkau telah membuatnya putus asa dari rahmat-Mu. Buatlah dia kecewa atas kami sebagaimana Engkau telah membuatnya kecewa dari ampunan-Mu. Dan jauhkanlah kami darinya sebagaimana Engkau telah menjauhkan dia dari ampunan-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas hal itu dan Maha Melaksanakan apa yang Engkau kehendaki. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Abdul Hamid, 1925: h. 17). Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


