Arina.id - Setiap perjalanan dalam pandangan Islam bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah SAW mencontohkan agar seorang Muslim memulai safarnya dengan sholat sunah safar, kemudian berzikir dan berdoa memohon perlindungan, keselamatan, serta keberkahan dari Allah SWT.
Amalan ini menjadi rangkaian spiritual yang menenteramkan hati dan memperkuat niat bahwa setiap langkah dilakukan dalam lindungan Ilahi.
Tatacara Sholat Sunah Safar
Sholat sunah safar dikerjakan sebanyak 2 rakaat dengan ketentuan yang sama seperti sholat sunah lainnya. Adapun niatnya adalah sebagai berikut:
أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushalliî sunnatas safari rak’ataini lillâhi ta’âla
Artinya: “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’âla.”
Menurut Imam Nawawi al-Baghdadi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab, surat pendek yang dianjurkan untuk dibaca selepas pembacaan Al-Fatihah dalam sholat sunah safar ialah surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua.
Zikir setelah Sholat Sunah Safar
Sementara itu dalam karyanya yang lain, yakni kitab Al-Adzkar, h. 217, Imam Nawawi al-Baghdadi menganjurkan untuk membaca ayat kursi dan surat Al-Quraisy sesudah sholat sunah safar. Hal ini terinspirasi dari kisah yang ia dapat bahwasanya ketika Syekh Abu Thahir merasa ketakutan saat akan melakukan perjalanan. Imam Qazwani kemudian menganjurkannya untuk membaca ayat kursi dan dilanjutkan dengan membaca surat Al-Quraisy:
Bacaan ayat kursi adalah :
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Allâhu lâ ilâha illâ huw, al-ḫayyul-qayyûm, lâ ta'khudzuhû sinatuw wa lâ na'ûm, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, man dzalladzî yasyfa‘u ‘indahû illâ bi'idznih, ya‘lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum, wa lâ yuḫîthûna bisyai'im min ‘ilmihî illâ bimâ syâ', wasi‘a kursiyyuhus-samâwâti wal-ardl, wa lâ ya'ûduhû ḫifdhuhumâ, wa huwal-‘aliyyul-‘adhîm
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung” (QS al-Baqarah: 255).
Bacaan Surat Al-Quraisy:
لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ ١ اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ ٢ فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ ٣ الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍࣖ ٤
Li'îlâfi quraîsy îlâfihim riḫlatasy-syitâ'i wash-shaîf falya‘budû rabba hâdzal-baît alladzî ath‘amahum min jû‘iw wa âmanahum min khaûf
Artinya: “Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (sehingga mendapatkan banyak keuntungan), maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah) yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut."
Bacaan Doa
Selanjutnya, Imam Nawawi Al-Baghdadi memberikan tuntunan doa yang bisa kita baca sesudah sholat sunah safar, yakni:
اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ
Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku meminta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segala kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku, baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Dzat Yang Maha Mulia.”
Dilanjutkan dengan doa sebelum bepergian, yakni:
اَللهم إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ أَعْتَصَمْتُ، اَللهم اكْفِنِيْ مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ، اَللهم زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ، وَوَجِّهْنِيْ لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ
Artinya: “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap dan hanya kepada-Mu aku berlindung. Tuhanku, cukupilah aku dari segala yang membuatku bimbang dan segala yang tidak kubimbangkan. Tuhanku, bekalilah diriku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkan diriku pada kebaikan di mana saja aku menghadap.”
Makna di Balik Rangkaian Doa dan Zikir Safar
Setiap lafaz doa dan zikir dalam safar mengandung makna ketundukan dan kebergantungan total kepada Allah. Sholat safar mengawali langkah dengan keikhlasan, zikir menenangkan hati di tengah perjalanan, dan doa penutup meneguhkan rasa syukur saat tiba. Safar sejatinya bukan hanya tentang jarak dan tujuan, tapi juga tentang perjalanan jiwa menuju ridha Allah SWT.
Rangkaian sholat, zikir, dan doa safar bukan sekadar ritual, melainkan perisai spiritual bagi seorang Muslim. Dengan memulainya dalam sujud dan menutupnya dengan pujian, perjalanan apa pun, baik jauh ataupun dekat akan senantiasa dinaungi keberkahan. Wallahu a'lam.
Editor:


