Arina.id - Saat ini bulan Dzulqa’dah berada penghujung dan akan memasuki bulan Dzulhijjah. Kedua bulan tersebut merupakan waktu istimewa, khususnya bagi yang menunaikan ibadah haji. Bulan Dzulqa’dah adalah bulan mulia yang dikenal asyhurun ma’lumat yang bersumber dari Surat Al-Baqarah 197:
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ
Artinya: "(musim) Haji itu (dilangsungkan) dalam bulan-bulan yang dimaklumi"
Dalam tafsir Ibnu Kasir menjelaskan perihal asyhurun maklumat dengan merujuk pendapat Imam Bukhari sebagai berikut:
قال البخاري : قال ابن عمر : هي شوال ، وذو القعدة ، وعشر من ذي الحجة .
Artinya: "Imam Bukhari berkata, Ibnu Umar menyampaikan bahwa bulan-bulan yang telah dimaklumi sebagai musim haji adalah Syawal, Dzul qa’dah, dan sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah."
Begitu pula keterangan dari tafsir Al-Muyassar:
وقت الحج أشهر معلومات، وهي: شوال، وذو القعدة، وعشر من ذي الحجة
Artinya: "Waktu /musim haji itu adalah waktu yang telah diketahui, yakni Syawal, dzul qa’dah, dan 10 hari bulan Dzulhijjah."
Tradisi Menulis Surat Al-Qashas: 85 saat Pemberangkatan Haji
Berpijak dari penjelasan bahwa Dzulqa’dah dan sepuluh hari bulan Dzulhijjah termasuk musim haji, biasanya orang-orang yang mendapatkan panggilan segera berangkat ke tanah suci menggelar tradisi selamatan atau syukuran. Hal ini merupakan implementasi dari ayat:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: "Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)
Selamatan ini adalah bentuk rasa syukur atas rezeki berupa menunaikan ibadah haji. Mengingat berangkat haji kian sulit akibat antrean panjang hingga puluhan tahun.
Melengkapi kegiatan ini, terdapat tradisi unik di tengah selametan bagi salah satu anggota keluarga yang hendak berangkat haji. Tradisi tersebut adalah menuliskan ayat Al-Quran di belakang pintu rumah yang bersumber dari surat Al-Qashas ayat 85:
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya: "Sesungguhnya dzat yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran, itu benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata".
Uniknya, penulisan ayat di belakang pintu hanya pada kalimat:
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ
Ayat ini dijelaskan dalam tafsir Baghawi:
أي : أنزل عليك القرآن على قول أكثر المفسرين وقال عطاء : أوجب عليك العمل بالقرآن
Maksudnya, sesuai mayoritas penafsiran ulama tafsir adalah Al-Quran diturunkan kepadamu wahai Muhammad. Imam Atha’ berpendapat: Mewajibkan atasmu (Muhammad) untuk beramal (berprilaku) menggunakan Al-Quran.
Sedangkan “laradduka ila ma’ad” diartikan “Kembali ke Makkah”, namun pendapat lainnya mengartikan ma’ad adalah akhirat (kembali ke akhirat).
Beberapa ulama menganjurkan untuk menulis ayat ini bagi orang yang hendak berangkat ke Tanah Suci agar kelak dia bisa kembali ke Makkah, dan menunaikan ibadah haji bersama keluarga.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa tradisi menulis surat Al-Qashash ayat 85 di belakang pintu oleh jemaah yang hendak berangkat haji memiliki makna bersyukur atas nikmat Allah berupa ibadah haji. Tradisi ini juga merupakan sebuah aharapan agar bisa kembali lagi ke Tanah Suci dan mengingat suatu saat nanti pasti kembali ke akhirat. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor:


