Indonesia merupakan salah satu negara yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Dari hutan hujan tropis Sumatra dan Kalimantan, ekosistem unik Sulawesi, hutan Papua, mangrove di wilayah pesisir, hingga terumbu karang yang membentang di perairan Nusantara, semuanya menjadi rumah bagi berbagai macam makhluk hidup. Orangutan, komodo, cenderawasih, anoa, badak Jawa, rafflesia, berbagai jenis anggrek, ikan, serangga, burung, serta jutaan organisme lain merupakan bagian dari kekayaan tersebut.
Namun, kekayaan alam yang luar biasa itu bukan berarti tidak terbatas. Berbagai aktivitas manusia telah menyebabkan perubahan habitat, eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, perburuan, perdagangan satwa liar, spesies invasif, dan perubahan iklim yang memberikan tekanan terhadap keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas tidak sekadar berarti banyaknya jenis hewan dan tumbuhan. Dalam biologi, biodiversitas mencakup variasi kehidupan pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Variasi gen dapat terlihat pada berbagai varietas tanaman yang masih satu jenis tetapi mempunyai sifat berbeda. Keanekaragaman spesies dapat kita lihat dari keberadaan berbagai jenis burung, mamalia, ikan, tumbuhan, dan organisme lainnya.
Sementara itu, hutan, sungai, danau, mangrove, padang rumput, terumbu karang, dan ekosistem laut merupakan contoh keanekaragaman pada tingkat ekosistem. Karena itu, menjaga biodiversitas berarti menjaga keseluruhan jaringan kehidupan, bukan hanya menyelamatkan beberapa satwa yang dianggap langka.
Indonesia mempunyai posisi penting dalam konservasi biodiversitas karena kekayaan flora dan faunanya sangat tinggi. Agus Setiawan dalam artikel Keanekaragaman Hayati Indonesia: Masalah dan Upaya Konservasinya (2022) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna yang sangat besar sekaligus menghadapi berbagai faktor yang menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati. Kajian tersebut mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 31.750 spesies dari sekitar 1.812.700 spesies yang telah dideskripsikan di dunia. Indonesia juga memiliki kekayaan fauna yang tinggi, termasuk sekitar 12 persen mamalia, 16 persen reptil, dan 17 persen burung dunia.
Keanekaragaman tersebut mempunyai nilai ekologis, ekonomi, sosial, budaya, dan ilmiah. Banyak masyarakat Indonesia menggantungkan kehidupannya pada sumber daya alam. Nelayan bergantung pada ekosistem laut, masyarakat sekitar hutan memanfaatkan hasil hutan, petani bergantung pada tanah, air, penyerbuk, dan berbagai organisme yang membantu produktivitas pertanian. Bahkan kehidupan manusia di kota pun tetap bergantung pada ekosistem yang mungkin letaknya jauh dari tempat tinggalnya. Air yang digunakan untuk minum, bahan pangan yang dikonsumsi, udara yang dihirup, serta berbagai bahan alami yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari mempunyai hubungan dengan keberadaan ekosistem yang sehat.
Dalam ilmu ekologi dikenal istilah jasa ekosistem, yaitu berbagai manfaat yang diperoleh manusia dari ekosistem. Hutan, misalnya, membantu mengatur tata air, menyimpan karbon, menyediakan habitat, dan menghasilkan berbagai sumber daya. Serangga dan hewan lainnya dapat membantu proses penyerbukan. Organisme pengurai membantu mengembalikan unsur hara ke lingkungan. Ekosistem pesisir seperti mangrove dapat menjadi tempat pembesaran berbagai organisme sekaligus membantu melindungi wilayah pesisir. Semua proses tersebut sering berlangsung tanpa kita sadari.
Hubungan antara keanekaragaman hayati dan keberfungsian ekosistem telah menjadi perhatian para ilmuwan. Bradley J. Cardinale dan rekan-rekannya dalam artikel Biodiversity Loss and Its Impact on Humanity (2012) menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati mempunyai hubungan penting dengan fungsi ekosistem dan kemampuan ekosistem menyediakan barang serta jasa yang dibutuhkan manusia. Dengan demikian, biodiversitas bukan sekadar kumpulan makhluk hidup yang menarik untuk diamati, tetapi merupakan bagian penting dari sistem yang menopang kehidupan manusia.
Penelitian David U. Hooper dan rekan-rekannya dalam A Global Synthesis Reveals Biodiversity Loss as a Major Driver of Ecosystem Change (2012) juga menunjukkan bahwa kehilangan spesies dapat memengaruhi proses-proses penting dalam ekosistem. Penurunan keanekaragaman tidak hanya berarti berkurangnya jumlah organisme dalam suatu wilayah, tetapi dapat mengubah cara ekosistem berfungsi. Jika perubahan tersebut berlangsung terus-menerus, kemampuan ekosistem dalam mempertahankan produktivitas dan keberlanjutan juga dapat terganggu.
Di sinilah konservasi mempunyai peran yang sangat penting. Konservasi keanekaragaman hayati dapat dipahami sebagai upaya menjaga keberadaan dan keberlanjutan keanekaragaman kehidupan melalui perlindungan, pengelolaan, pemanfaatan secara berkelanjutan, serta pemulihan ekosistem yang mengalami kerusakan. Konservasi bukan berarti manusia sama sekali tidak boleh memanfaatkan alam. Manusia tetap membutuhkan pangan, kayu, ikan, tanaman obat, energi, dan berbagai sumber daya lainnya. Persoalannya adalah bagaimana sumber daya tersebut dimanfaatkan tanpa menghancurkan kemampuan alam untuk memperbarui dirinya.
Konsep pemanfaatan berkelanjutan menjadi sangat penting dalam hal ini. Sebagai contoh, masyarakat dapat memanfaatkan hasil hutan tanpa menebang seluruh kawasan hutan. Sumber daya perikanan dapat dimanfaatkan dengan memperhatikan ukuran tangkapan, musim berkembang biak, dan kondisi populasi. Tanaman tertentu dapat dibudidayakan sehingga kebutuhan masyarakat tidak selalu bergantung pada pengambilan langsung dari alam. Dengan pendekatan seperti itu, kebutuhan manusia dan keberlanjutan ekosistem dapat diusahakan berjalan bersama.
Konservasi juga dapat dilakukan melalui perlindungan habitat. Perlindungan terhadap satu spesies akan sulit berhasil apabila tempat hidupnya terus mengalami kerusakan. Orangutan, misalnya, membutuhkan hutan sebagai tempat mencari makanan, berlindung, dan berkembang biak. Demikian pula ikan membutuhkan ekosistem perairan yang sehat, sedangkan berbagai jenis burung membutuhkan habitat yang menyediakan makanan dan tempat bersarang. Oleh karena itu, konservasi habitat sering kali menjadi bagian penting dari perlindungan spesies.
Selain perlindungan di habitat alami atau konservasi in situ, terdapat pula konservasi ex situ, yaitu upaya menjaga organisme di luar habitat alaminya. Kebun botani, kebun binatang dengan pengelolaan konservasi, bank benih, dan fasilitas penangkaran dapat menjadi bagian dari strategi tersebut. Konservasi ex situ dapat membantu mempertahankan populasi atau materi genetik spesies tertentu ketika populasi di alam menghadapi ancaman serius. Namun, konservasi ex situ tidak seharusnya menggantikan perlindungan habitat alami karena organisme tetap mempunyai hubungan dengan lingkungan ekologisnya.
Ancaman terhadap biodiversitas saat ini juga semakin kompleks karena perubahan lingkungan berlangsung secara bersamaan. Perubahan penggunaan lahan dapat menyebabkan hilangnya habitat. Fragmentasi habitat dapat membuat populasi organisme menjadi terisolasi. Eksploitasi berlebihan dapat mengurangi jumlah individu. Pencemaran dapat menurunkan kualitas lingkungan. Perubahan iklim dapat mengubah suhu, curah hujan, kondisi laut, serta pola kehidupan organisme. Berbagai tekanan tersebut dapat saling memperkuat sehingga konservasi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Laporan Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services yang diterbitkan IPBES pada 2019 menunjukkan bahwa perubahan terhadap alam telah berlangsung dalam skala global dan terutama dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia. Laporan tersebut disusun berdasarkan kajian terhadap lebih dari 15.000 publikasi ilmiah serta berbagai pengetahuan masyarakat adat dan lokal. IPBES menempatkan perubahan penggunaan lahan dan laut, eksploitasi organisme, perubahan iklim, pencemaran, serta spesies asing invasif sebagai faktor penting yang mendorong perubahan biodiversitas dan ekosistem.
Konservasi dengan demikian bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan keberlanjutan kehidupan manusia. Ketika hutan tetap sehat, fungsi ekologisnya dapat terus berjalan. Ketika sungai terjaga, berbagai organisme air dapat bertahan dan manusia memperoleh sumber air yang lebih baik. Ketika terumbu karang dan mangrove terlindungi, berbagai organisme laut mempunyai tempat hidup dan masyarakat pesisir dapat memperoleh manfaat dari ekosistem tersebut. Ketika keanekaragaman genetik tanaman dipertahankan, manusia memiliki lebih banyak pilihan untuk menghadapi perubahan lingkungan dan kebutuhan pangan di masa depan.
Peran masyarakat dalam konservasi juga tidak boleh dianggap kecil. Konservasi tidak selalu membutuhkan kegiatan besar dan mahal. Tidak membeli satwa liar yang dilindungi, mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan sungai, menanam tumbuhan yang sesuai dengan lingkungan, mempertahankan pohon yang masih sehat, menghemat air, serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tindakan sederhana yang mempunyai nilai ekologis. Pilihan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara bersama-sama dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar.
Sekolah juga mempunyai posisi strategis dalam membangun budaya konservasi. Peserta didik dapat diajak mengenali tumbuhan dan hewan yang ada di lingkungan sekolah, membuat taman keanekaragaman hayati, mengamati organisme di sekitar sekolah, melakukan pemilahan sampah, membuat kompos, atau mempelajari hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Pembelajaran IPA tidak berhenti pada hafalan nama-nama organisme, tetapi dapat diarahkan untuk menumbuhkan pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem.
Konservasi keanekaragaman hayati bukan sekadar usaha menyelamatkan satwa langka. Konservasi merupakan investasi ekologis untuk mempertahankan sistem kehidupan. Setiap pohon yang dipertahankan, habitat yang dipulihkan, sungai yang dijaga, spesies yang dilindungi, dan sumber daya alam yang digunakan secara bijaksana merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan dalam jangka panjang. Keanekaragaman hayati adalah modal alam yang diwariskan kepada kita, tetapi sekaligus merupakan titipan untuk generasi berikutnya.
Keberlanjutan kehidupan tidak dapat dibangun hanya dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Manusia tetap membutuhkan alam yang berfungsi dengan baik. Teknologi dapat membantu memecahkan berbagai persoalan, tetapi manusia tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi ekosistem yang terbentuk melalui proses alam dalam waktu yang sangat panjang. Karena itu, menjaga keanekaragaman hayati bukan berarti memilih antara manusia atau alam. Justru dengan menjaga alam, manusia sedang menjaga sumber kehidupan dan pilihan masa depan bagi dirinya sendiri serta generasi yang akan datang.
Editor:


