Puasa, selain menjadi salah satu ibadah yang sangat dihormati dalam banyak tradisi keagamaan, ternyata memiliki dampak yang luas terhadap aspek kesehatan fisik dan mental. Bagi para pemuda dengan fase kehidupan yang penuh dinamika dan tantangan, puasa bisa menjadi pengalaman yang mendalam.
Salah satu aspek yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana puasa memengaruhi kondisi kulit, khususnya jerawat, yang kerap menjadi masalah utama di usia muda. Selain itu, puasa juga membuka peluang untuk merenungkan hubungan antara rutinitas makan, manajemen stres, dan kesehatan mental secara keseluruhan.
Bagaimana hubungan unik antara puasa, jerawat, dan kesehatan mental di kalangan pemuda? Apabila ada penelitian ilmiah yang bisa mengungkapkan hubungan tersebut, tentu akan memberikan pandangan baru yang mungkin tidak terduga sebelumnya namun penuh manfaat.
Jerawat pada kaum muda memang bisa disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari ketidakseimbangan hormon, infeksi bakteri, diet yang kelebihan kalori hingga faktor psikologis. Bila jerawat telah muncul, akibat yang tersering adalah adanya perasaan minder dan kurang percaya diri yang lebih lanjut akan memengaruhi mental seseorang.
Hasil penelitian terkini dari Mesir telah mengungkapkan bahwa puasa di bulan Ramadan berpotensi untuk mengatasi permasalahan jerawat. Hal itu dapat terjadi karena puasa memengaruhi imunitas dan mengurangi stres oksidatif di dalam tubuh orang yang berpuasa Ramadan (Omar, 2024, The effects of Ramadan fasting on acne vulgaris: clinical, immunological, and oxidative status considerations, Archives of Dermatological Research, 317:97).
Di antara tahap penelitan tersebut, peneliti mencoba melihat pengaruh puasa terhadap perubahan yang terjadi di dalam darah seseorang. Oleh karena itu, tim peneliti mengambil darah 40 orang pemuda-pemudi berusia 15-25 tahun yang berpuasa Ramadhan untuk dicek di laboratorium.
Hasilnya dianalisis dengan memperkirakan bahwa asupan makanan yang masuk secara terbatas akibat puasa Ramadhan akan memengaruhi komponen darah. Memang umumnya para pemuda cenderung mengonsumsi apa saja di luar Bulan Ramadhan. Namun, dengan pembatasan makan sebulan penuh saat Ramadhan, tentu makanan yang masuk akan lebih sedikit.
Penelitian memang menunjukkan bahwa kalori yang masuk akan berpengaruh terhadap perkembangan jerawat. Apabila asupan makanan pada seseorang dibatasi, ternyata kejadian munculnya jerawat tidak separah bila orang tersebut mengonsumsi apapun yang diinginkan. Dengan kata lain, pembatasan kalori berefek baik terhadap penyembuhan jerawat.
Uniknya, para peneliti menemukan bahwa komponen darah yang memengaruhi daya tahan tubuh mengalami perubahan ketika para pemuda yang terlibat dalam penelitian itu berpuasa Ramadhan. Komponen imunitas itulah yang dapat menguatkan kulit para pemuda agar lebih tahan dari infeksi bakteri penyebab jerawat, peradangan kulit, dan berlebihannya aktivitas kelenjar minyak (sebum).
Penelitian tersebut berhasil mengungkapkan bahwa turunnya kadar zat yang disebut interferon gamma pada darah pemuda yang berpuasa memberikan kontribusi terhadap penyembuhan jerawat. Bahkan, pada pemuda dengan rentang usia yang lebih muda, puasa Ramadhan memberikan efek yang lebih baik karena ada penurunan kejadian stress oksidatif sehingga mengurangi kejadian radang pada jerawat.
Lebih lanjut, jerawat pada kawula muda ternyata menjadi permasalahan yang mengundang tekanan mental. Laporan ilmiah dari jurnal ternama Nature, menyebutkan bahwa jerawat merupakan gangguan psikosomatis yang dapat berpengaruh negatif terhadap mental seseorang (Morshed dkk, 2023, Understanding the Impact of Acne Vulgaris and Associated Psychological Distress on Self-Esteem and Quality of Life via Regression Modeling with CADI, DLQI, and WHOQoL, Nature Scientific Reports, 13:21084).
Penelitian dari Bangladesh tersebut merupakan penelitian gabungan dari ilmuwan di bidang psikiatri, dermatologi, obstetri dan ginekologi, pediatri, kedokteran, serta farmasi. Dengan pendekatan yang berimbang dari berbagai disiplin ilmu, mereka menyebutkan bahwa pada pemuda yang berusia rata-rata 21 tahun, jerawat dapat memengaruhi kondisi psikologis, kepercayaan diri, dan kualitas hidup.
Menurut penelitian itu, turunnya kesehatan mental pada pemuda yang berjerawat ternyata ditandai dengan keadaan yang sangat rumit. Mulai dari depresi, menarik diri dari pergaulan, permasalahan dengan keluarga, hingga keinginan untuk bunuh diri menghinggapi para pemuda dengan permasalahan jerawat yang kompleks. Selanjutnya, penelitan yang dimuat oleh Jurnal Nature tersebut merekomendasikan terapi yang holistik agar jerawat pada kawula muda tidak merusak kesehatan mental.
Munculnya jerawat sering diawali pada masa pubertas di mana pada masa tersebut terjadi lonjakan kadar hormon yang sangat aktif pada remaja. Pada remaja putri, perubahan kadar hormon lebih kompleks sehingga kejadian jerawat juga lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki.
Penelitian dari Mesir dan Bangladesh yang disebutkan di atas sama-sama menunjukkan bahwa kejadian jerawat pada remaja putri lebih banyak daripada remaja putra. Hasil penelitian di Mesir juga mengungkapkan bahwa remaja putri yang berpuasa Ramadhan dan mengikuti penelitian tentang jerawat itu mencapai 85% dari keseluruhan subjek.
Hasil tampilan gambar permukaan kulit wajah pada remaja putri setelah berpuasa Ramadhan menunjukkan bahwa produksi minyak (sebum) berkurang. Dengan kata lain, salah satu faktor penyebab jerawat yang tampak pada penampilan, yaitu kulit berminyak dapat diatasi dengan hikmah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Faktor-faktor lain yang tidak dapat dilihat seperti imunitas tubuh dan komponennya di dalam darah ternyata juga berubah sebagaimana yang telah diuraikan di atas.
Apabila dilihat dari aspek kesehatan holistik, puasa berpotensi untuk menghindarkan kawula muda yang berjerawat dari munculnya gangguan kesehatan mental. Dengan berpuasa Ramadan atau berpuasa sunnah yang lain, selayaknya para pemuda muslim akan mendapatkan manfaat bagi kesehatan kulitnya, khususnya dalam perbaikan gejala jerawat. Wallahu a’lam.
Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.
Editor:


