Jakarta, Arina.id – Umat Isam menyambut gembira datangnya bulan Ramadan, sebab Ramadan ini memiliki keistimewaan. Salah satu keistimewaan Ramadan adalah sebagai rajanya bulan, serta bulan magfirah (syahrul magfirah), atau sebagai bulan yang penuh keberkahan (syahrul mubarakah).
Selain itu, ada juga sebutan untuk bulan Ramadan ini, yaitu sebagai syahrut tarbiah atau bulan pendidikan.
Kepala Pusat Startegi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaaan pada Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama (Kemenag), Rohmat Mulyana Sapdi mengatakan sebagai bulan pendidikan, bulan Ramadan sebenarnya lebih seperti pendidikan yang dilakukan antarmanusia kepada manusia, seperti misalnya guru kepada siswa, orang tua kepada anak, atau ustadz kepada santri.
"Dalam proses pendidikan itu, sesungguhnya terdapat pengkondisian situasi, pendidikan, ekosistem pendidikan, dan juga ada yang disebut dengan reward and punishment (ganjaran dan hukuman)," ujarnya dalam tayangan Ramadan Bulan Pendidikan di akun YouTube Arina Media Official.
"Kita tahu bahwa pada bulan Ramadan, sebagai bulan pendidikan, ada kondisi-kondisi yang kemudian Allah ciptakan. Misalkan, seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama bulan Ramadan, kecuali orang yang dalam perjalanan dan sakit,” lanjut Rohmat Mulyana.
Kemudian, kata dia, ada juga yang Allah sediakan untuk memperoleh ganjaran yang berlipat ganda pada bulan Ramadan ini, atau justru hukuman juga yang berlipat ganda bagi orang yang berdosa pada bulan Ramadan ini.
Artinya, bahwa ada reward and punishment, ada tarhib watarghib.
Kalau dalam pendidikan Islam, yang sesungguhnya ini dapat memotivasi kita untuk lebih memanfaatkan kesempatan bulan pendidikan ini untuk membina diri, sehingga fitrah kita akan semakin meningkat. Fitrah rububiah kita, fitrah uluhiah, fitrah insaniah, fitrah biologis, fitrah sosial kita akan semakin terpupuk pada bulan Ramadan.
"Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan bulan Ramadan ini sebaik-baiknya sebagai ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,” ajaknya.
Mengutip Stephen Covey Rohmat Mulyana berpesan: "Tebarlah gagasan, petiklah perbuatan. Tebarlah perbuatan, petiklah kebiasaan. Tebarlah kebiasaan, petiklah karakter. Tebarlah karakter, petiklah nasib."
Editor: Kendi Setiawan


