Mendorong masyarakat agar menggandrungi buku adalah tindakan mulia. Meski dunia terus melaju ke arah teknologi, buku tetap menjelma sebagai hal penting. Membaca akan terus menjadi bahan bakar utama untuk melahirkan generasi yang kritis, cerdas, dan inklusif. Di mana ada buku, di situ ada kemajuan.
Eko Prasetyo dalam bukunya Al-Alaq Bacalah (2019) menceritakan nasib sebuah zaman ketika padat dengan kisah mengenai buku. Pada pertengah abad ke-9 M Harun Al-Rasyid membangun perpustakaan dengan jumlah hampir sejuta buku. Ada 800 perpustakaan berdiri. Di tahun 830 M Khalifah al-Makmun mendirikan Bayt al-Hikmah, balai pengetahuan yang memuat berbagai kegiatan penerjemahan dan penelitian. Khalifah al-Aziz di Kairo pada abad ke-11 memiliki koleksi 1.600.000 buku. Konon, karena budaya literasi yang menggila pada saat itu lahirlah zaman yang disebut The Golden Age Of Islam, masa paling gemilang dalam dunia Islam.
Cerita itu masih punya daya tarik hingga kini. Kehadiran pengetahuan selalu beririsan dengan perkembangan peradaban. Kondisi itu yang selalu diupayakan dalam sebuah negara. Ini yang juga turut diucapkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, ditulis Kompas (19/11/20250).
“Kalau kita tidak bangun kebudayaan membaca, tidak kita bangun budaya menulis, dan tidak kita bangun budaya anak kita belajar dengan buku sebagai kuncinya, kita tidak menjadi bangsa yang maju,” kata Mu’ti membuka Musyawarah Nasional ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya gerakan nasional literasi yang melibatkan penerbit, sekolah, pemerintah, guru, dan masyarakat. Salah satu terobosan yang hendak Mu’ti lakukan adalah setiap sekolah tetap memberikan pekerjaan rumah kepada murid. Pekerjaan rumah yang dimaksudkan yaitu membaca satu atau dua buku sampai selesai lalu membuat resensinya.
Saya setuju dengan gagasan itu, meski dengan sedikit catatan. Resensi memang sangat membantu anak dalam memperpanjang ingatan, memperluas imajinasi, dan daya kritis. Namun, kebijakan itu agaknya mengandaikan buku sudah menjadi teman akrab bagi siswa-siswi di Indonesia. Membaca buku diumpamakan semudah memainkan ponsel. Jadi, seolah dengan memberikan PR membaca dan meresensi buku maka literasi di Indonesia akan meningkat.
Bagi para murid yang sejak kecil disuguhi buku oleh orang tuanya, ini persoalan mudah. Kesadaran tentang pentingnya literasi sudah tumbuh dalam dirinya. Tapi bagi yang hidup sebaliknya? Membaca apalagi meresensi bukan hal yang sederhana. Itu bisa jadi musibah. Kemampuan membaca dan menulis tidak bisa muncul dalam semalam. Ia tumbuh dari proses yang lama. Maka ketika dipaksakan, kita bisa menduga yang akan terjadi: AI dijadikan solusi.
Banyak anak Indonesia besar dari asuhan teknologi. Mereka terbiasa hidup dengan audio visual, cepat, dan mudah. Ini berkebalikan dengan situasi bersama buku. Membaca bersinonim dengan sendiri, sabar, tabah, tahan ngantuk, juga tak jarang semutan. Alih-alih menyasar pada siswa-siswi agaknya lebih efektif disasar pada anak-anak.
Masalah lainnya, apakah para guru-guru di Indonesia juga melek literasi? Bagaimana mungkin menganjurkan pada murid untuk mulai membangun kebiasaan mencintai buku sementara guru berlaku sebaliknya?
Menanamkan budaya literasi pada anak-anak menurut saya jauh lebih konkret. Memang butuh waktu lama, tapi cara ini bisa lebih melekat. Banyak literatur yang menuliskan fase anak-anak menjadi penentu kehidupan seseorang berikutnya. Jika menginginkan masyarakat Indonesia melek literasi, jalan yang ditempuh di mulai dari fase anak. Menawarkan kebijakan dimulai dari para remaja bagus, tapi terlalu rumit. Mereka sudah punya cara berpikir dan hidupnya sendiri. Mengubah perspektif dan kebiasaan pada hidup seseorang bukan tindakan mudah. Malah mungkin akan menimbulkan masalah bertumpuk.
Selain itu, kebijakan ini juga bisa makin memperjelas jurang kemiskinan di Indonesia. Para siswa hidup dalam kondisi ekonomi yang berbeda. Bagi mereka yang hidup kaya, waktu luang dan buku mudah untuk didapat, tapi bagi murid yang hidup dalam kemiskinan? Waktu luang bisa jadi adalah kerja, membantu orang tua, hingga menjadi tulang punggung.
Saya menjadi teringat buku berjudul Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun? (2023). Neil Gaiman, salah satu penulisnya menceritakan pengalamannya pada tahun 2007 ketika menghadiri kongres fiksi ilmiah dan fantasi yang diadakan oleh Tiongkok untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Rasa penasaran menuntunnya untuk bertanya, apa alasan Cina mengizinkan fiksi ilmiah masuk dalam negara tersebut saat sebelumnya tidak diizinkan? Ternyata, Cina menyadari rakyatnya ahli dalam membuat sesuatu jika rancangannya sudah tersedia tapi sulit untuk berinovasi dan menciptakan hal yang baru.
Mereka pernah mengirim delegasi ke Amerika untuk meneliti orang-orang di balik Apple, Microsoft, dan Google, tentang rahasia dibalik keberhasilan inovasi teknologi tersebut. Jawaban yang didapat adalah orang-orang itu telah membaca fiksi ilmiah sejak masih anak-anak.
Editor:


