Arina.id. Tsunami Aceh 2004 dikenal sebagai salah satu peristiwa gempa bumi berskala besar. Peristiwa terjadi pada hari Minggu, 26 Desember 2004, bertepatan dengan hari ini, Kamis, tanggal 26 Desember 2024, alias 20 tahun lalu.
Pada 20 tahun silam, tsunami menerjang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, sekitar pukul 08.00 WIB pagi hari. Awalnya, terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9,1 skala richter.
Kemudian muncul gelombang tsunami. Ketinggiannya lebih dari 30 meter. Tak ayal, peristiwan tsunami Aceh menyebabkan korban jiwa ratusan ribu orang.
Dalam rangka mengenang peringatan 20 tahun tsunami Aceh 2004, berikut ini adalah cerita singkat tentang peristiwa tersebut.
Jumlah Korban dan Bangunan Bersejarah Tsunami Aceh 2004
Mengutip buku "Aceh Pasca 15 Tahun Tsunami: Kilas Balik dan Proses Pemulihan" (2019) yang diterbitkan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, tsunami 2004 termasuk salah satu tsunami abad modern yang disertai gempa bumi berskala sangat besar.
Penyebab tsunami bisa jadi karena adanya gempa bumi, letusan gunung api, longsor, hingga jatuhnya meteor. Di lain sisi, Aceh yang terletak antara lempeng benua Eurasia dan lempeng benua Indo-Australia hingga menjadi wilayah tektonik aktif.
Tanggal 26 Desember 2004 sekitar pukul 07.59 WIB pagi hari, terjadi gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 9.1 Mw. Pusat gempa berada di kedalaman sekitar 10 km.
Gelombang tsunami lalu terpantau di Indonesia, Malaysia, Thailand dan Myanmar. Kemudian menjalar ke Sri Lanka, Maldives, dan India. Hingga menerjang Somalia dan Seychelles di Afrika.
Jumlah korban jiwa di Indonesia menjadi yang terbesar. Angkanya mencapai 173.741 orang meninggal dunia. Nomor dua adalah Sri Lanka (35.322) disusul India (16.279).
Berikut angka jumlah korban jiwa tsunami Aceh 2004 setiap negara:
- Indonesia: 173.741
- Sri Lanka: 35.322
- India: 16.279
- Thailand: 8.212
- Afrika Timur (Madagaskar, Seychelles, Oman, Yaman, Somalia, dan Tanzania): 303
- Maladewa: 108
- Malaysia: 76
- Myanmar: 61
- Bangladesh: 2
Dengan demikian, secara total korban meninggal akibat terjangan tsunami kala itu mencapai 226.308 orang dan 1.849.827 lainnya mengungsi.
Salah satu yang menjadi dampak dari peristiwa tsunami Aceh dan masih bisa disaksikan hingga kini adalah Masjid Raya Baiturrahman.
Di tengah-tengah amukan dahsyat tsunami Aceh, Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat Kota Banda Aceh tetap saja berdiri kokoh dan selamat dari terjangan tsunami meskipun kondisi seluruh bangunan di sekitarnya sudah rata dengan tanah.
Mengutip laman Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung termasuk saksi bisu tsunami Aceh.
Kapal ini dikatakan memiliki panjang 63 meter dan berat 2.600 ton. Mesinnya menggunakan pembangkit listrik dengan kekuatan daya 10,5 megawatt.
Akan tetapi, gelombang tsunami sukses menyeret kapal PLTD Apung hingga berjarak 3 kilometer ke pusat kota Banda Aceh.
Padahal, PLTD Apung sebelumnya berada di pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue. PLTD Apung sekarang bisa disaksikan secara langsung di Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Editor:


