Cinta yang Menghidupkan: Refleksi Pendidikan di Era Digital

Cinta yang Menghidupkan: Refleksi Pendidikan di Era Digital

Kita pasti pernah menyaksikan tayangan yang menyuguhkan cerita tentang binatang atau tumbuhan. Di era televisi, program semacam ini banyak dipopulerkan oleh National Geographic. Namun di era YouTube, Reels, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya, konten mengenai makhluk hidup menjadi semakin beragam dan mudah diakses.

Kisah tentang bagaimana hewan mempertahankan eksistensinya di alam selalu saja mengundang decak kagum. Sekumpulan gajah yang bahu-membahu menolong anaknya yang terjebak lumpur atau tersangkut akar pohon. Seekor kijang betina yang rela lehernya dicekik harimau demi menyelamatkan anaknya.

Atau seekor elang gagah yang memburu mangsa, membawanya ke sarang, lalu dengan lembut menyuapi anak-anaknya. Saat itu, sang elang tak lagi tampak garang. Suapan demi suapan ia berikan dengan penuh kehati-hatian dan kasih sayang.

Itu semua adalah cerita cinta. Tak satu pun makhluk hidup menghendaki kepunahannya. Semua berusaha menjaga keberlangsungan diri dan keturunannya. Dan setiap upaya itu adalah gerak cinta. Cinta membangkitkan harapan, membentuk imajinasi, dan melahirkan realitas kebaikan. Cinta pula yang menjamin kelahiran generasi demi generasi.

Begitu pula dengan manusia. Kita adalah makhluk cinta. Dibekali daya pikir dan emosi, manusia memiliki potensi untuk bertahan paling lama di muka bumi. Namun, ketika daya pikir bersatu dengan nafsu, cinta bisa menjadi bias. Apa arti lestari tanpa budi pekerti? Kita bukan sekadar daging bernyawa, tapi juga makhluk yang mampu berpikir dan merasa.

Pilihan-pilihan yang kita buat hari ini akan berdampak pada kehidupan kita sendiri dan orang lain. Ketika akal dipandu oleh budi, lahirlah kebaikan. Namun ketika akal dikuasai oleh kepicikan, muncullah keterpurukan, dalam skala kecil maupun besar.

Cinta adalah satu-satunya kekuatan yang bisa menekan kepicikan akal. Tapi cinta tak selalu tumbuh secara spontan. Ia butuh bimbingan, dari mereka yang telah lebih dulu memiliki cinta dan pengetahuan. Getar cinta seekor gajah, pengorbanan kijang betina, atau kasih elang pada anak-anaknya, adalah warisan yang mereka berikan kepada generasi berikutnya demi kelangsungan kebajikan.

Sejak awal kehidupan, saat sel sperma membuahi ovum, cinta sudah mengalir. Cinta orang tua melahirkan generasi penerus yang diharapkan bisa lebih baik dari generasi sebelumnya. Namun, setiap generasi memiliki sejarah dan momentumnya sendiri. Cara mencintai pun berubah, meski esensi cinta tetap: kasih sayang yang menghidupkan. Hal ini penting untuk ditekankan karena di masa lalu cinta sering dimaknai sebagai relasi kuasa, antara orang tua dan anak, antara guru dan murid.

Kini kita hidup di era ketika anak memiliki dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia maya. Jika dulu anak baru dianggap mandiri saat memasuki usia kuliah, hari ini kita harus mengakui bahwa sejak remaja pun, mereka memiliki ruang privasi yang perlu dihargai sebagai bentuk pengakuan terhadap eksistensinya.

Relasi kuasa lama, di mana anak harus selalu patuh pada orang tua atau guru, kini tak lagi relevan. Apa yang orang tua atau guru anggap terbaik untuk anak, belum tentu cocok. Sebab anak masa kini akan terlebih dahulu mencocokkan arahan itu dengan informasi yang mereka dapatkan dari internet. Jika tidak sesuai, mereka akan menolak. Maka cinta dan kasih sayang orang tua serta guru harus diperluas dan diperdalam. Pola asuh lama perlu direvisi. Saatnya membangun cara komunikasi yang lebih lembut, sabar, dan penuh perhatian.

Anak hari ini membangun "istana maya" di dalam kamar nyatanya. Mereka berselancar di lautan informasi yang luas dan cepat. Hanya ada satu kemungkinan: mereka menjadi kritis. Sayangnya, kritis yang lahir seringkali dangkal karena hanya berbasis pada informasi instan, bukan hasil pemikiran mendalam. Beda halnya dengan anak yang gemar membaca buku; ia belajar mencerna, menimbang, dan menyusun makna. Ia membangun hubungan antar gagasan, mengalami berbagai emosi mental, dan akhirnya mengembangkan daya berpikir kritis yang sejati.

Video pendek yang membanjiri layar gadget memberikan stimulasi visual dan auditori yang sangat kuat. Namun, di balik semua itu, daya kritis anak perlahan terkikis. Mereka merasa telah belajar, padahal sesungguhnya hanya menyerap, bukan mengolah. Bandingkan dengan membaca buku, yang merupakan bentuk perjalanan intelektual dan emosional. Buku mengajak pembacanya "menginjakkan kaki" langsung ke dunia gagasan, tidak sekadar melihat gambar dari kejauhan.

Melihat kenyataan ini, kita dihadapkan pada tantangan besar. Kita menghadapi kenormalan baru yang menuntut perubahan cara pandang terhadap hubungan antara anak, orang tua, dan guru. Doktrin lama bahwa anak harus selalu taat perlu ditinjau ulang. Saat ini, anak menuntut validasi logis dari setiap perintah dan nasihat. Maka, cinta orang tua dan guru tidak cukup hanya dalam bentuk kata-kata atau otoritas. Ia harus hadir dalam sikap dan tindakan nyata.

Cinta kepada anak didik harus diwujudkan secara konsisten dalam setiap komunikasi, baik dalam kata, tindakan, maupun ekspresi tubuh. Cinta perlu hadir dalam imajinasi kita tentang masa depan mereka. Cinta harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan dan keputusan, agar anak merasa dihormati dan dihargai. Hanya dengan cinta yang demikian, anak akan benar-benar tumbuh menjadi manusia yang utuh: cerdas, kritis, dan penuh kasih.


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo