Kita mengkhawatirkan akan jadi apa seorang anak besok, sampai-sampai kita lupa bahwa ia adalah seseorang hari ini. (Stacia Tauscher)
Adele, penyanyi asal Inggris, pernah menunjukkan kemarahannya karena foto anaknya, Angelo, tersebar setelah sebuah agensi foto mengambil foto keluargnya secara diam-diam dan berusaha menjualnya kepada sejumlah media. Melalui kuasa hukumnya, Adele menggugat pihak agensi foto tersebut ke ranah hukum. Bagi Adele anaknya bukanlah properti milik umum, tak seorang pun berhak menyalahgunakan keberadaan anaknya tanpa seizinnya.
Menurut sebagaian orang, mungkin tindakan Adele terasa berlebihan. Namun, bagi saya tidak. Keputusan yang diambil Adele adalah bentuk perlindungan pada anaknya agar bisa merasakan masa kecil tanpa tekanan, paparan media, dan tuntutan. Media memang menawarkan pujian hingga uang, tapi di balik itu ada dampak mengerikan secara psikologis pada masa depan anak.
Bad Influence: The Dark Side of Kidfluencing (2025, Jenna Rosher dan Kief Davidson) menjadi salah satu rujukan untuk melihat dampak paparan medi, terutama bagi anak-anak. Dokumenter ini mengupas sisi gelap dunia anak-anak influencer, atau yang dikenal sebagai kidfluencer.
Film ini menyoroti kisah nyata Piper Rockelle, seorang bintang YouTube yang meraih ketenaran sejak usia delapan tahun, bersama ibunya yang juga menjadi manajernya, Tiffany Smith. Melalui wawancara dengan mantan anggota Piper Squad, keluarga, dan para profesional, dokumenter ini mengungkap tekanan, manipulasi, dan dugaan eksploitasi yang dialami anak-anak di balik layar konten yang tampak ceria dan menghibur.
Film ini memperlihatkan bagaimana anak-anak dalam “Squad” harus menjalani jadwal syuting yang padat, menghadapi tekanan emosional, dan bahkan terlibat dalam konten yang mengandung unsur romansa palsu demi menarik perhatian penonton. Di balik popularitas dan jutaan subscriber, tersimpan cerita tentang kontrol orang tua, konflik internal, dan dampak psikologis yang serius.
Di era digital yang semakin berkembang, media sosial memang telah menjadi panggung utama bagi berbagai bentuk ekspresi diri, hiburan, dan bahkan sumber penghasilan. Namun, di balik gemerlapnya dunia itu, muncul fenomena yang mengkhawatirkan: eksploitasi anak yang terselubung di balik konten media sosial.
Banyak orang tua yang secara sadar atau tidak, menjadikan anak mereka sebagai pusat perhatian dalam konten demi mendapatkan likes, views, hingga keuntungan finansial. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk eksploitasi yang perlu dikritisi secara serius. Anak-anak yang dijadikan konten sering kali belum memiliki kapasitas untuk memahami konsekuensi dari eksposur digital. Mereka belum mampu memberikan persetujuan yang sadar atas segala tindakan yang merampas kehidupan pribadi mereka untuk dipertontonkan di ruang publik.
Eksploitasi anak dalam konten media sosial bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Ada yang secara terang-terangan menjadikan anak sebagai bintang utama dalam video YouTube, TikTok, atau Instagram, dengan jadwal produksi yang padat dan tuntutan performa yang tinggi. Ada pula yang secara halus mengekspos kehidupan anak, mulai dari momen lucu, tantrum, hingga hal-hal yang seharusnya bersifat privat seperti toilet training atau konflik keluarga. Konten semacam ini mungkin terlihat menghibur bagi penonton, tetapi bagi anak, hal tersebut bisa menjadi sumber tekanan psikologis terutama di masa mendatang.
Lebih jauh, eksploitasi ini sering kali dibungkus dengan narasi “dokumentasi keluarga” atau “momen kebersamaan,” padahal di balik layar, anak bisa mengalami kelelahan, stres, atau bahkan kehilangan masa kecilnya. Dalam beberapa kasus ekstrem, anak-anak yang menjadi konten utama bahkan harus berhenti sekolah atau mengorbankan waktu bermain demi memenuhi jadwal syuting.
Eksploitasi anak dalam konten media sosial bisa berdampak pada pembentukan identitas anak. Ketika anak lebih banyak tumbuh dalam sorotan kamera, mereka bisa merasa bahwa nilai dirinya bergantung pada jumlah likes atau komentar positif. Tentu, hal ini bisa mengganggu perkembangan kepercayaan diri dan membuat anak rentan terhadap tekanan sosial.
Psikolog anak Dr. Jean Twenge, dalam bukunya iGen, menjelaskan bahwa generasi yang tumbuh dengan media sosial cenderung mengalami peningkatan kecemasan dan depresi karena terlalu sering membandingkan diri dengan citra ideal di dunia maya. Semua itu tentu bertentangan dengan prinsip-prinsip Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh UNICEF, yang menekankan bahwa setiap anak berhak atas waktu bermain, pendidikan, dan perlindungan dari eksploitasi ekonomi.
Di Indonesia, regulasi yang memayungi hak anak terutama dalam ranah digital masih belum tegas. Perlindungan anak di lingkup media sepertinya belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan publik. Padahal, dengan semakin banyaknya konten anak yang viral, risiko eksploitasi semakin besar.
Solusi dari masalah ini bukan sekadar melarang dan mendesak pemerintah agar punya kebijakan hukum yang jelas juga tegas, tetapi membangun kesadaran kolektif tentang etika digital parenting. Orang tua perlu memahami bahwa media sosial bukan ruang privat, dan setiap unggahan bisa berdampak jangka panjang. Pendidikan digital harus mencakup pemahaman tentang hak anak, privasi, dan dampak psikologis dari eksposur publik.
Eksploitasi anak berkedok konten media sosial adalah cerminan dari bagaimana teknologi bisa melampaui batas etika jika tidak diiringi dengan kesadaran dan regulasi yang kuat. Anak-anak bukan aset digital, melainkan individu yang berhak tumbuh dengan aman, nyaman, dan bebas dari tuntutan untuk menjadi sempurna.
Editor: Kendi Setiawan


