Banyak orang mengagumi orang lainnya yang bisa berbicara dengan percaya diri dan lancar. Sebagian mereka bisa mengikuti. Mereka tampak seperti dilahirkan untuk berbicara.
Mereka masuk ke ruangan, mulai berbicara, dan kata-kata mengalir begitu saja—jelas, tenang, dan meyakinkan. Orang-orang menyimak. Mereka mendengarkan, dan mengingat.
Tetapi sebagian lainnya sering kali merasa terhambat oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa disadari justru merusak cara mereka berkomunikasi.
Pada dasarnya kemampuan berbicara yang baik bukanlah bakat bawaan. Itu adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih.
Kita akan membahas 10 kebiasaan umum yang sebaiknya ditinggalkan jika kamu ingin tampil sebagai pembicara yang meyakinkan, jelas, dan penuh percaya diri dikutip dari laman Geediting.com:
1. Terlalu Sering Meminta Maaf saat Berbicara
Ucapan-uapan seperti “Maaf, tapi aku mau bilang…” atau “Mungkin aku salah, tapi…” atau “Mungkin ini pertanyaan bodoh, tapi…” seperti pemberat yang diikatkan pada perkataanmu.
Orang yang mengucapkannya biasanya bukan karena benar-benar merasa bersalah atau ragu—mereka hanya gugup. Ini semacam cara untuk mengecilkan diri sebelum mulai bicara.
Masalahnya, kalau kamu terus-terusan minta maaf sebelum bicara, orang lain jadi percaya kamu memang tidak yakin. Kamu mengajari mereka untuk tidak memperhatikan sebelum kamu menyampaikan maksud. Biarkan saja kata-katamu berdiri sendiri. Kamu bisa tetap sopan tanpa mengecilkan diri.
2. Mengisi Jeda dengan “Emm”, “Kayak”, atau “Anu”
Kita semua mungkin pernah melakukannya. Tapi kalau ingin terdengar percaya diri dan jelas, kata-kata pengisi semacam ini sebaiknya dikurangi.
Kata-kata tersebut tidak membuatmu terdengar sedang berpikir—justru terdengar ragu-ragu. Bukan berarti kamu harus terdengar seperti robot. Jeda itu wajar. Bahkan kuat. Jeda memberi pendengarmu waktu untuk mencerna, dan memberi kamu waktu untuk berpikir.
Keheningan bukanlah hal yang canggung. Justru itulah yang memberi bobot pada kata-katamu.
3. Berbicara Terlalu Cepat karena Ingin Segera Selesai
Dalam kehidupan kita, mungkin ada orang-orang yang benci berbicara di depan umum. Tiap kali tampil, mereka melontarkan kalimat secepat kilat, seperti sedang dikejar api.
Mereka mengira semakin cepat bicara, semakin cepat semuanya selesai.
Kita dapat memahami rasa gugup bisa membuat kita begitu. Tapi kecepatan menyampaikan pesan tertentu—meskipun tidak kamu maksudkan. Bicara terlalu cepat bisa memberi kesan: “Ini nggak penting.” Atau bahkan: “Aku nggak nyaman di sini.”
Oleh karena itu, pelanlah sedikit. Beri ruang untuk kata-katamu. Kepercayaan diri sering kali terdengar seperti kesabaran.
4. Mengakhiri Pernyataan Seperti Pertanyaan
Kamu mungkin pernah mendengarnya, seseorang menyampaikan pendapat tegas, tapi nada suaranya naik di akhir, seolah bertanya.
“Aku benar-benar yakin ini pilihan terbaik…?”
“Menurutku kita harus pilih rencana B…?”
Nada naik di akhir kalimat bisa langsung meruntuhkan kewibawaanmu. Latih dirimu untuk menyelesaikan kalimat dengan nada turun dan mantap. Bukan berarti kamu jadi agresif—justru membuatmu terdengar meyakinkan.
5. Terlalu Banyak Istilah Teknis atau Memperumit Penjelasan
Banyak orang mengira terdengar pintar itu berarti harus pakai kata-kata sulit atau kalimat rumit. Padahal, pembicara yang paling fasih justru bisa menjelaskan hal rumit dengan cara sederhana.
Kalau kamu terus-menerus menyusun kalimat dengan istilah keren, jargon, atau bahasa teknis yang berlebihan, mungkin kamu terdengar pintar, tapi juga bisa terdengar jauh dan sulit didekati.
Kejelasan lebih penting daripada kepintaran yang dibuat-buat. Kalau orang lain keluar dari ruangan sambil bingung, berarti pesannya tidak tersampaikan. Berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti. Bukan berarti kamu menyederhanakan secara berlebihan, tapi kamu menghargai lawan bicaramu.
6. Bicara Tnpa Benar-Benar Mendengarkan
Mungkin terdengar aneh, tapi pembicara paling percaya diri yang pernah ada justru pendengar yang hebat.
Mereka tidak hanya menunggu giliran bicara—mereka benar-benar menyimak. Kesadaran itulah yang membuat tanggapan mereka terasa kuat dan relevan.
Orang yang sulit berbicara dengan lancar sering kali berbicara secara terisolasi—mereka bicara ke orang lain, bukan dengan mereka. Komunikasi sejati dimulai dari koneksi. Dan koneksi dimulai dari mendengarkan.
7. Mengoceh Tanpa Arah yang Jelas
Salah satu hal yang membuat pembicara terdengar berkelas adalah arah yang jelas. Ada awal, tengah, dan akhir—bahkan dalam obrolan santai.
Kalau orang mulai mengoceh tanpa arah, biasanya karena mereka sedang berpikir keras sambil berbicara. Itu tidak masalah di antara teman dekat. Tapi kalau ingin terdengar fasih, kamu perlu melatih diri untuk berpikir dulu sebelum bicara—bukan sebaliknya.
Ambil waktu sejenak. Susun pikiranmu. Baru ucapkan. Satu kalimat jelas lebih kuat daripada tiga menit bicara tanpa tujuan.
8. Menghindari Kontak Mata Sepenuhnya
Saat kita masih di bangku sekolah atau kuliah, mungkin kita pernah berpidato di depan kelas. Kita menulis bahan pidato dan latih berkali-kali, tapi saat tampil kita saya hanya menatap naskah.
Setelahnya, ada yang bilang, “Pidatonya bagus, tapi seandainya kamu lebih banyak menatap kami.”
Saat itulah kita menyadarai, kontak mata bukan tentang dominasi—tapi koneksi. Itu seperti berkata, “Saya tidak cuma mengucapkan ini—saya ingin kamu benar-benar mendengarnya.”
Kamu tak harus menatap mata terus-menerus. Tapi jangan sembunyi di balik catatan, ponsel, atau lantai. Biarkan orang melihat wajahmu. Rasakan kehadiranmu.
9. Menyusutkan Tubuhmu
Orang yang kurang percaya diri sering tanpa sadar membuat diri mereka sekecil mungkin. Menyilangkan tangan, membungkuk, memainkan jari. Mereka bicara seperti ingin tidak terlihat.
Padahal tubuhmu berbicara lebih dulu daripada mulutmu. Kalau kamu ingin terdengar percaya diri, postur tubuhmu harus sejalan.
Berdiri atau duduk tegak. Bahu terbuka. Kepala sejajar. Tarik napas dari perut, bukan dari dada. Meski suaramu bergetar, tubuhmu bisa berkata, “Aku pantas ada di sini.”
10. Ragu-Ragu dengan Suara Sendiri sebelum Diberi Kesempatan
Kita mugkin memiliki teman kerja yang berpemikiran cemerlang. Tulisan mereka bagus. Tapi saat rapat tim, dia selalu ragu-ragu tiap kali hendak bicara.
Kita bertanya, apa yang membuatnya tertahan.
Teman tersebut mengatakan: “Saya selalu takut ada orang lain yang akan mengatakannya dengan lebih baik.”
Kalau begitu keadaannya, kita perlu menyampaikan: Suaramu penting karena itu suaramu, bukan karena sempurna, bukan karena mirip suara orang lain.
Percaya diri bukan berarti tak pernah gugup. Tapi tetap bicara meskipun gemetar. Membiarkan suaramu terdengar, bahkan saat tidak yakin. Karena dari situlah kamu belajar dan dari situlah kamu berkembang.
Editor:


