Bagi banyak orang, jatuh cinta adalah salah satu pengalaman paling menyenangkan dalam hidup. Ada rasa berbunga-bunga, semangat baru, dan harapan untuk masa depan.
Namun, di balik indahnya pacaran, tak jarang terselip emosi-emosi sulit yang bisa merusak hubungan, salah satunya kecemburuan.
Sebuah penelitian psikologi berjudul Kecenderungan Alexithymia dan Kecemburuan pada Kalangan Dewasa yang Berpacaran oleh Junaidin, Niken Putri Utami Septianan Sunjoto, Ayuning Atmasari, dan Roni Hartono dari Universitas Teknologi Sumbawa menemukan bahwa ada kaitan erat antara alexithymia, yaitu kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi, dengan kecemburuan dalam hubungan romantis.
Apa itu Alexithymia?
Dalam hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Psikologi disebutkan bahwa alexithymia adalah kondisi psikologis ketika seseorang kesulitan untuk mengenali, memahami, bahkan mengungkapkan perasaannya sendiri.
Misalnya, seseorang merasa “tidak enak hati” tapi tidak bisa menjelaskan apakah itu sedih, marah, atau kecewa. Akibatnya, ia cenderung menekan emosi atau malah bereaksi dengan cara yang kurang sehat, seperti menarik diri atau meledak tanpa alasan yang jelas.
Banyak orang yang memiliki kecenderungan alexithymia tidak menyadarinya. Mereka sering dianggap dingin, kaku, atau kurang peka, padahal sebenarnya mereka hanya kesulitan berkomunikasi secara emosional. Kondisi ini bisa membuat hubungan pacaran menjadi penuh salah paham, apalagi jika pasangannya butuh kehangatan dan validasi emosional.
Cemburu: Bumbu atau Racun Cinta?
Kecemburuan adalah perasaan universal. Hampir semua orang pernah merasakannya. Dalam kadar wajar, cemburu bisa menjadi “bumbu” yang menunjukkan bahwa kita peduli dengan pasangan. Namun, ketika berlebihan, rasa cemburu justru berubah menjadi racun: menimbulkan stres, kecemasan, bahkan konflik yang berujung pada kekerasan verbal maupun fisik.
Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen orang yang berpacaran pernah mengalami kecemburuan dengan berbagai alasan: kurang perhatian, sibuk dengan pekerjaan, kehadiran teman lawan jenis, hingga munculnya pihak ketiga.
Pada akhirnya, kecemburuan sering melahirkan rasa curiga, tidak percaya, dan sikap mengontrol pasangan.
Temuan Penelitian: Semakin Sulit Mengungkapkan Emosi, Semakin Cemburu
Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Teknologi Sumbawa mengungkap hubungan menarik antara alexithymia dan kecemburuan.
Penelitian ini melibatkan 100 responden berusia 18–25 tahun yang sedang berpacaran. Hasilnya cukup jelas: semakin tinggi kecenderungan alexithymia seseorang, semakin tinggi pula tingkat kecemburuan yang ia alami.
Kenapa bisa begitu? Logikanya sederhana. Saat seseorang kesulitan mengidentifikasi emosinya sendiri, ia juga sulit menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanan pada pasangan.
Alih-alih mengatakan “Aku merasa kurang diperhatikan,” ia mungkin hanya merasakan kegelisahan samar yang akhirnya muncul sebagai kecemburuan. Pada titik tertentu, rasa itu bisa berubah menjadi perilaku mengontrol pasangan, marah tanpa alasan, atau menuduh tanpa bukti.
Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan
Menariknya, penelitian ini juga melihat perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Hasilnya: perempuan cenderung memiliki tingkat alexithymia dan kecemburuan yang lebih tinggi dibanding laki-laki.
Hal ini bisa jadi karena perempuan secara emosional lebih sering terlibat mendalam dalam hubungan, sehingga lebih rentan mengalami tekanan ketika muncul ancaman emosional seperti perselingkuhan.
Laki-laki, di sisi lain, cenderung lebih terpicu oleh ancaman seksual, sedangkan perempuan lebih terguncang oleh ancaman emosional.
Namun, tentu saja ini bukan aturan mutlak. Faktor budaya, pengalaman masa lalu, hingga dukungan sosial juga memengaruhi bagaimana seseorang mengekspresikan emosi dan menghadapi rasa cemburu.
Dampak Buruk jika Dibiarkan
Gabungan alexithymia dan kecemburuan bisa menjadi bom waktu dalam hubungan. Bagi individu, kondisi ini dapat memicu stres, depresi, hingga perilaku antisosial.
Bagi pasangan, bisa berujung pada konflik tak berkesudahan, rasa tidak aman, bahkan kekerasan.
Beberapa gejala yang kerap muncul antara lain:
- Mudah tersulut emosi tapi bingung menjelaskan alasannya
- Sering curiga berlebihan terhadap pasangan
- Merasa lelah dan sedih tanpa sebab jelas
- Menarik diri dari pasangan atau justru terlalu mengontrol
- Sulit menikmati kebersamaan karena dihantui rasa tidak percaya.
Jika pola ini terus berlanjut, hubungan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan justru berubah menjadi beban psikologis.
Bisakah Dicegah?
Kabar baiknya, alexithymia bukan kondisi permanen yang tak bisa diubah. Dengan latihan dan kesadaran diri, orang bisa belajar mengenali serta mengelola emosinya lebih baik. Beberapa langkah yang bisa dicoba antara lain:
Belajar mengenali emosi
Cobalah menamai perasaan yang muncul setiap hari. Misalnya, “Aku merasa kesepian,” atau “Aku merasa marah karena ditunda.” Semakin sering melatih, semakin terasah kemampuan mengenali emosi.
Komunikasi terbuka dengan pasangan
Alih-alih menyimpan kegelisahan, biasakan berbicara jujur meski sederhana: “Aku merasa tidak nyaman,” atau “Aku butuh lebih banyak waktu bersamamu.”
Latihan mindfulness
Mindfulness atau kesadaran penuh membantu kita hadir di saat ini, mengenali perasaan tanpa menghakimi. Banyak aplikasi meditasi atau kelas singkat yang bisa diikuti untuk melatihnya.
Bangun ketahanan mental
Kecemburuan sering kali muncul dari rasa tidak aman. Meningkatkan kepercayaan diri, menjaga kesehatan mental, serta punya aktivitas positif di luar hubungan bisa membuat seseorang lebih tahan terhadap emosi negatif.
Konsultasi dengan ahli
Jika kesulitan terasa berlarut, jangan ragu untuk mencari bantuan psikolog atau konselor. Terapi bisa membantu menemukan akar masalah sekaligus melatih keterampilan emosional yang lebih sehat.
Cinta Sehat Butuh Emosi Sehat
Hubungan romantis bukan hanya soal cinta, tapi juga kemampuan untuk mengelola diri sendiri. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa kecenderungan menutup diri dari emosi (alexithymia) ternyata berhubungan erat dengan kecemburuan yang merusak.
Pacaran yang sehat menuntut dua hal: ketulusan dalam memberi cinta dan kecerdasan dalam mengelola emosi. Tanpa keduanya, hubungan bisa mudah goyah oleh hal-hal kecil.
Jadi, jika Anda sedang menjalin hubungan, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya cukup mengenali dan mengungkapkan emosi saya? Apakah rasa cemburu saya masih dalam batas wajar, atau sudah mengganggu?
Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling posesif, melainkan siapa yang paling bisa menciptakan rasa aman satu sama lain.
Editor:


