Januari: kesibukan politik makin bertambah. Kita belum selesai dengan Januari. Pada masa lalu, Januari itu penentuan. Kita melewati 3 Januari 2024 tanpa tepuk tangan dan janji terus menjadi pembaca buku. Tanggal itu mengingatkan Indonesia dan agama.
“Tanggal 3 Januari 1946, ia berpidato di depan corong RRI Yogyakarta dan mengumumkan bahwa sejak tanggal itu Republik Indonesia secara resmi memiliki Kementerian Agama,” kalimat tercantum dalam majalah Amanah, 2-15 Januari 1987. Ia itu bernama HM Rasjidi. Di sejarah, ia menjadi menteri pertama di kementerian agama.
Semula, ia bernama Saridi dengan panggilan Sari. Pada suatu masa, ia melanjutkan belajar sekolah Al Irsyad di Jawa Timur, setelah rampung menempuh studi di sekolah Muhammadiyah (Yogyakarta). Pada usia remaja, ia mahir berbahasa Arab. Saridi pun diminta oleh Syekh Ahmad Sukarti untuk membantu dalam pengajaran bahasa Arab. Sang guru itu sulit mengucap nama Saridi. Pada saat memanggil, ia selalu mengucap: Rasidi. Babak perubahan terjadi dengan “kesalahan” dianggap “pemberian”. Si remaja menerima panggilan “Rasidi”. Pada saat “meresmikan” nama, penulisan menjadi Rasjidi. Sosok kelahiran 20 Mei 1915, kita akrabi bernama lengkap HM Rasjidi.
Ia tak cukup belajar di Indonesia. Rasjidi melanjutkan petualangan intelektual ke Mesir dan Prancis. Pulang ke Indonesia, ia memiliki ijazah atau sertifikat. Rasjidi itu intelektual dan pendakwah. Di Indonesia, ia mengabdi dengan segala kemampuan. Dulu, ia pernah diminta mengurusi Perpustakaan Islam. Penugasan memberi sukacita. Sejak dulu, ia keranjingan buku. Biografi melulu buku.
Tugas besar diterima dengan menjadi menteri agama. Dulu, predikat sebagai menteri tak mengabarkan keberlimpahan atau pengistimewaan. Di majalah Amanah, kita membaca keterangan: menteri itu bergaji 800 rupiah. Ia terbiasa berangkat dan pulang kerja naik sepeda onthel. Zaman masih susah dan amburadul. Pengabdian untuk Indonesia belum memanjakan menteri memiliki mobil, rumah dinas, pakaian necis, gaji besar, dan lain-lain. Ia tak lama menjadi menteri. Misi besar sebagai intelektual dan pendakwah terus berlanjut tanpa harus menjadi pejabat seumur hidup.
Pengakuan saat ia berusia 71 tahun:
“Kehidupan saya sebagian besar membaca dan menulis… saya ingin sekali supaya jangan ada waktu yang sia-sia dalam sisa umur saya. Selalu belajar. Mempelajari persoalan Indonesia dan dunia.”
Ia menunaikan janji dengan menulis beragam buku. HM Rasjidi pun rajin sebagai penerjemah buku.
Kini, kita ingin menghormati HM Rasjidi dengan dua buku terbitan Bulan Bintang. Pada 1978, terbit buku berjudul Bibel, Quran, dan Sains Modern garapan Maurice Bucaille. Buku itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh HM Rasjidi dari bahasa Prancis. Si penerjemah memang menguasai pelbagai bahasa: Indonesia, Arab, Inggris, dan Prancis.
Peran sebagai penerjemah ikut menularkan ide-ide keislaman dan keilmuan di Indonesia. Ia bisa memilih buku-buku terbaik terbit di pelbagai negara. Buku ditulis para intelektual tangguh perlu disampaikan kepada sidang pembaca berbahasa Indonesia.
HM Rasjidi mengisahkan kunjungan ke Spanyol (1977). Ia menghadiri konferensi internasional mengenai Islam dan Kristen. Perjalanan berlanjut ke Paris. Ia mengungkapkan:
“… saya mengunjungi Paris untuk mengenang masa muda, ketika pada tahun 1956 saya mempertahankan tesis di Sorbonne. Pada suatu hari, saya mengunjungi masjid di Paris yang megah, dan secara tidak sengaja, saya dapatkan tempat penjualan gambar-gambar masjid, yang disukai turis-turis asing. Di tempat itu, saya ketemukan buku yang berjudul La Bible, le Coran et la Science. Segera saya membeli satu buku dan terus pulang ke hotel. Buku itu saya baca sampai tamat.”
Peristiwa itu membuktikan ia gandrung buku. Ibadah ke masjid disempurnakan membeli buku. Gairah belajar diwujudkan khatam membaca buku, bukan bermalasan selama di hotel. Ia kagum dan merasa memiliki tanggung jawab selesai membaca buku:
“… saya harus menyampaikan isi buku tersebut kepada bangsa Indonesia, yang selalu menunjukkan perhatian kepada agama.”
Buku berhasil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku itu tercatat laris dalam terbitan Bulan Bintang. Buku sering cetak ulang.
Kita lanjutkan dengan membuka buku berjudul Humanisme dalam Islam (1980). Buku susunan Marcel A Boisard. Pada setiap penerbitan buku hasil terjemahan, HM Rasjidi berbagi pengalaman dan cerita.
Pada 1979, ia berada di Eropa turut dalam pembentukan organisasi Islam and the West International. Ia mengingat: “Pada akhir persidangan, saya menerima hadiah dari sekretaris jenderal berupa buku yang baru saja diterbitkan dengan judul L’humanisme de Islam dan telah mendapat penghargaan dari suatu badan kultural di Paris.” Ia girang mendapatkan buku. Janji tak sekadar sebagai pembaca.
Peran sebagai penerjemah pun berlaku: “Setelah membaca buku tersebut, saya sebagai seorang Indonesia yang menginginkan kestabilan masyarakat Indonesia, khususnya dalam menghadapi masa sekarang dan yang akan datang yang penuh dengan segala kemungkinan, saya merasa bahwa buku tersebut sangat berguna untuk menjernihkan suasana di Indonesia. Masalah Islam di Indonesia merupakan suatu peninggalan daripada penjajahan Belanda dan suatu akibat daripada pengaruh Barat dalam bidang filsafat dan agama.” Kita memastikan ia menerjemahkan buku secara cepat jika menilik peristiwa di Eropa (1979) dan penerbitan oleh Bulan Bintang (1980).
HM Rasjidi (1915-2001) terkenang sebagai menteri agama. Ia mewariskan buku-buku. Kita justru mengakrabi dengan buku-buku. Ia memang penulis ampuh dan berani mengadakan polemik. HM Rasjidi terbiasa memberi koreksi-koreksi untuk pemikiran-pemikiran dianggap bertentangan dengan Islam. Kita pun mengingat dan menghormati HM Rasjidi sebagai penerjemah. Peran penting dalam ikhtiar mengenalkan beragam pemikiran dari pelbagai negara untuk dibaca dan dimengerti para pembaca di Indonesia. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


