Kamis, titimangsa 2 Oktober 2025 dunia tersentak. Seorang perempuan yang selama puluhan tahun merangkak perlahan masuk ke hati hutan, menghitung langkah, mendengar bisik daun, meresapi tatapan simpanse, telah pamit dari dunia fana. Dr. Jane Goodall, tokoh yang tak sekadar membagi kehidupan dengan hewan-hewan liar, mengembuskan nafas terakhirnya di usia 91 tahun, di tengah tur pidato di California (Reuters, 2025).
Kalimat pemberitahuan itu terasa seperti angin dingin yang menyelusup ke punggung gunung, membangunkan hutan dari lamunannya. Bagaimana bisa seseorang yang begitu hidup dalam keheningan satwa akhirnya pergi? Bagaimana alam menanggapi kehilangan sosok ahli primata yang mencurahkan hidupnya untuk mendengarkan suara yang sering tak terdengar?
Tatkala kabar itu sampai ke lembah-lembah, pohon-pohon dan pepohonan tidak mengucapkan selamat tinggal. Mereka hanya berdiri diam, mengulang desir angin sebagai syair penghiburan. Di antara suara alami itu, kita bisa membayangkan Jane di Taman Nasional Gombe, Tanzania dulu: perempuan muda yang menatap simpanse dengan penuh keberanian, mendekat tanpa pagar keamanan, hanya membawa catatan kecil dan rasa ingin tahu yang tidak bisa dibungkam.
Kematian sang tokoh menyorot kembali apa yang sudah lama ia ajarkan: bahwa alam bukanlah panggung tempat manusia bisa bermain sendirian. Simpanse bukan objek yang diam; mereka punya emosi, ingatan,
mimpi yang retak, dan luka yang tak kunjung sembuh. Dalam tatapannya, Jane menunjukkan bahwa batas antara “kita” dan “mereka” tidaklah sekeras yang dibayangkan sains klasik.
Kiwari, dengan kepergiannya, kita dihadapkan pada pertanyaan paling dasar: apakah “Jane Effect” akan terus hidup tanpa dirinya? Apakah gema langkahnya masih bisa membawa kita ke tempat di mana manusia, hewan, dan alam bisa saling merawat? Saya menuliskan esai ini sebagai upaya mendekap warisan, merayakan bagaimana Jane tidak pernah menjadi legenda statis. Ia memilih menjadi suara yang terus bergema.
Intimasi dan Keajaiban Kecil
Sains biasanya tidak punya tempat untuk lema “sahabat.” Dunia ilmiah cenderung menyingkirkan keintiman, mengusir emosi dari ruang observasi, dan menganggap kasih sayang sebagai polusi data. Namun, di sekitar Jane Goodall, garis pemisah itu lenyap. Ia tidak hanya mencatat perilaku; ia menjalin persahabatan. Dan persahabatan itu, seperti yang dituturkan dalam buku The Jane Effect: Celebrating Jane Goodall (Trinity University Press, 2015), melampaui batas spesies dan jarak. Sebuah persahabatan yang aneh, indah, dan terkadang tampak musykil.
Ada kisah tentang Loup Mangelsen, seekor anjing yang dengan polos menulis (dengan bantuan manusia) bahwa Jane adalah “my new best friend.” Bagi Loup, kehadiran Jane berarti permainan bola tenis di tepi kolam, jalan-jalan panjang di bawah pegunungan Tetons, dan duduk tenang di ruang kerja sambil menatap jendela di mana Jane menempelkan catatan-catatan kecil tentang “harapan” dan “damai.” Seekor anjing tahu persis apa yang banyak manusia lupa: kehadiran Jane adalah kehangatan yang semenjana, sesuatu yang tidak perlu dibungkus jargon atau teori (Mangelsen, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Lalu ada N’Kisi, seekor burung beo abu-abu Afrika yang mampu berbicara. Ketika pertama kali bertemu Jane, ia bertanya dengan nakal: “Got a chimp?”, pertanyaan yang lahir dari foto Jane bersama bayi simpanse. Dari situ, hubungan mereka melampaui keajaiban linguistik. N’Kisi belajar meniru “pant-hoot,” suara khas simpanse, bahkan menirukan aksen Inggris Jane. Akan tetapi yang lebih penting, Jane menjadi teman teleponnya, menelepon dari berbagai belahan dunia hanya untuk menyapa, untuk menyebarkan suara harapan kepada Aimee Morgana, sahabat manusia N’Kisi, yang sedang berjuang melawan kanker. Persahabatan itu bukan hanya antara manusia dan hewan, tetapi juga antara manusia dengan manusia, terikat oleh empati lintas spesies (Morgana & N’Kisi, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Cerita liyan datang dari Georgeanne Irvine, aktivis konservasi di San Diego Zoo, yang menyaksikan kehancuran satwa liar: gajah Afrika berkurang dua pertiga, badak hitam merosot dari 65.000 menjadi hanya sekitar seribu, hutan hujan menghilang seperti asap. Dalam keputusasaan, ia menulis bahwa Jane adalah alasan ia tidak menyerah. Jane, dengan suara lembutnya, selalu mengingatkan: “Jika kita memberi Ibu Bumi kesempatan, ia akan menyembuhkan dirinya sendiri.” Kata-kata itu bagai mantera, bukan karena magis, tetapi karena diucapkan dengan keyakinan yang lahir dari pengalaman panjang memandang dunia dari sudut mata simpanse (Irvine, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Sahabat lain, Hilda Tresz, bercerita tentang keputusasaan melihat simpanse-simpanse di kandang gelap, menarik rambut mereka sendiri, bayi-bayi yang diselundupkan lintas negara dan ditumpuk di kandang kosong. Dalam setiap ratapannya, ia menulis sur-el panjang pada Jane. Dan entah bagaimana, Jane selalu membalas. Di tengah kesibukan global, di antara penerbangan dan podium konferensi, Jane masih menemukan ruang untuk mengetik: “Kamu bisa melakukannya. Jangan menyerah.” Persahabatan Jane bukan basa-basi; ia hadir sebagai jangkar ketika dunia terasa terlalu berat untuk ditanggung seorang diri (Tresz, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Apa yang bisa kita sebut tentang semua ini? Dalam dunia modern, persahabatan sering direduksi menjadi “network,” pertemanan menjadi “relasi profesional.” Namun bagi Jane, sahabat adalah bagian dari ekosistem kehidupan, sama pentingnya dengan pohon yang dirawat atau simpanse yang ditatap matanya. Ia tidak menyingkirkan rasa, melainkan merayakannya. Persahabatan Jane menunjukkan bahwa empati bukanlah gangguan, melainkan metodologi hidup.
Walakin di sinilah ironi sekaligus pertanyaan kritis mengintai: apakah mungkin sebuah gerakan besar untuk menyelamatkan bumi ditopang oleh sesuatu yang sesederhana “persahabatan”? Bukankah struktur politik, kapitalisme global, dan mesin industri terlalu besar untuk ditandingi oleh sekadar surat, tawa, atau panggilan telepon tengah malam? Kritik terhadap “Jane Effect” kadang muncul di sini: bahwa kekuatan personal semacam itu terlalu rapuh untuk melawan sistem. Namun, justru di sanalah letak keberanian Jane. Ia menganggap persahabatan sebagai strategi politik. Dengan menjadi sahabat, ia merawat keberanian orang lain, menjaga agar api kecil di hati mereka tidak padam.
Persahabatan di tangan Jane bukanlah sentimentalitas, melainkan cara liyan untuk menulis sejarah. Sejarah yang tidak hanya mencatat kemenangan, tetapi juga pelukan, tawa, air mata, dan suara burung beo yang bertanya: “Got a chimp?” Sejarah yang tidak hanya berbicara tentang apa yang hilang, tetapi tentang bagaimana manusia melalui persahabatan masih bisa memilih untuk tidak menyerah.
Sains, Skeptisisme, Revolusi Etologi
Dalam dunia sains, Jane Goodall kerap dianggap anomali. Ia datang tanpa gelar doktor, tanpa pelatihan formal dalam biologi atau etologi, namun berhasil membuka bab baru dalam sejarah primatologi. Di tahun 1960-an, laboratorium akademik masih dikuasai suara-suara maskulin: dingin, kaku, dan terobsesi pada objektivitas nan steril. Di antara mereka, hadir seorang perempuan muda yang berani menamai seekor simpanse David Greybeard, bukan “spesimen nomor 12.” Untuk para akademisi, tindakan itu dianggap dosa metodologis. Nama, kata mereka, mengandung sentimentalitas, dan sentimentalitas adalah musuh ilmu pengetahuan. Namun Jane justru memutarbalikkan aturan itu, menegaskan bahwa “setiap individu berarti” (Bekoff, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Di sinilah drama ilmiah bermula.
Colin Groves, seorang ahli taksonomi primata, mengenang masa-masa awal ketika Jane, dengan seekor mongoose peliharaan, datang ke Unit Primatologi John Napier di London. Ia bukan mahasiswa tipikal, melainkan seorang yang dianggap “eksentrik” karena memandang simpanse dengan intuisi yang tidak bisa dipetakan ke dalam diagram anatomi. Groves melihat bahwa intuisi Jane justru memperlihatkan hal paling mendasar: hubungan batiniah manusia dengan non-manusia (Groves, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Logika Jane semenjana, tapi berbahaya: jika kita hanya melihat hewan sebagai objek, maka kita hanya akan menemukan data tanpa makna. Tetapi jika kita berani mengakui bahwa mereka memiliki perasaan, ingatan, bahkan penipuan cerdas, maka kita dipaksa untuk meninjau ulang definisi “manusia.” Inilah letupan revolusi etologi. Jane membuktikan simpanse mampu menggunakan alat, berburu bersama, dan berduka atas kematian. Penemuan-penemuan ini, yang awalnya dicibir, kini menjadi fondasi ilmu primatologi modern (Peterson & Bekoff, 2015).
Namun, hubungan Jane dengan dunia akademik tidak selalu mulus. Skeptisisme membayangi langkahnya. Michael Huffman, yang bertemu Jane di Kigoma pada 1985, melihat bagaimana pendekatannya memecah kebekuan: ia tidak sekadar mengajar, tetapi menyapa semua orang dengan keramahan yang sama, dari profesor hingga teknisi lapangan. Huffman membandingkannya dengan gurunya, Junichiro Itani, seorang primatolog Jepang yang juga menekankan empati dalam penelitian. Dari pertemuan itu, Huffman melihat Jane sebagai jembatan antartradisi sains: Barat yang analitis dan Timur yang intuitif (Huffman, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Akan tetapi tentu saja, kritik tidak berhenti. Para puritan sains berulang kali menuduhnya “antropomorfis.” Memberi nama pada simpanse dianggap mencampuradukkan batas antara manusia dan hewan. Mengakui adanya “emosi” pada simpanse dianggap sebagai kesalahan metodologis. Dalam pandangan mereka, Goodall lebih mirip penulis cerita anak-anak tinimbang peneliti akademis. Namun, sejarah punya cara sendiri untuk membalikkan tuduhan. Kiwari, justru studi-studi etologi modern menegaskan pentingnya individualitas, emosi, dan empati dalam memahami perilaku hewan. Dengan kata lain, Jane menang.
Meski demikian, kemenangan itu datang dengan harga. Untuk diterima dalam dunia akademik, Jane harus “mengantongi izin” dengan gelar doktor dari Cambridge. Tetapi alih-alih tunduk, ia menggunakannya sebagai tiket masuk untuk meneguhkan jalan yang sudah ia tempuh. Ia tidak mengorbankan keyakinannya demi diterima; justru ia memaksa institusi untuk mengakui bahwa pendekatan penuh empati juga bisa melahirkan sains yang kokoh (Peterson & Bekoff, 2015).
Buku The Jane Effect menampilkan Jane bukan sekadar sebagai ilmuwan tunggal, tetapi sebagai poros jaringan intelektual dan emosional. Murid-muridnya, koleganya, bahkan rekan aktivis di berbagai benua, menulis bahwa bekerja dengan Jane adalah pengalaman yang tidak pernah sama. Ia adalah “kolega yang tidak punya sejawat” karena siapa sejatinya yang bisa disebut sejawat dari seorang yang menolak kategori itu sendiri?
Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan tajam yang mengintai: apakah keberhasilan Jane lahir karena ia berani berbeda, atau karena dunia sains pada akhirnya membutuhkan figur perempuan yang bisa “menjinakkan” wajah dingin sains? Apakah “Jane Effect” adalah bukti bahwa intuisi, kasih, dan subjektivitas memiliki tempat dalam ilmu pengetahuan, ataukah ia hanya pengecualian langka, sebuah pengecualian yang dipuja karena sulit ditiru?
Dalam keraguan itu, satu hal pasti: sebagai kolega, Jane mengajarkan bahwa sains bukanlah tentang mematikan emosi, melainkan tentang membiarkannya menuntun kita pada kebenaran yang lebih dalam. Di situ, ia mengubah wajah akademia, dari ruang penuh skeptisisme menjadi ruang yang berani mengakui bahwa cinta juga bisa menjadi metode ilmiah.
Generasi yang Dibesarkan dengan Harapan
Ada guru yang mengajar dengan papan tulis, ada pula yang mengajar dengan ketukan penggaris di meja kelas. Jane Goodall tidak memilih keduanya. Ia mengajar dengan hutan, dengan tatapan mata simpanse, dengan perjalanan panjang dari satu benua ke benua lain, dari satu aula universitas ke ruang tamu kecil di desa-desa. Ia adalah guru yang tidak pernah menetap, guru yang menjadikan dunia sebagai ruang kelas, dan setiap orang yang disentuhnya sebagai murid yang tidak resmi namun terikat dalam pelajaran yang tak pernah usai.
Kisah tentang Jane sebagai pengajar tersebar di seluruh halaman The Jane Effect. Murid-muridnya menulis bukan hanya tentang metode penelitian, tetapi tentang bagaimana Jane mengubah arah hidup mereka. Emily Polis Gibson menggambarkan pengalamannya “berdiri di luar sebuah pintu,” menunggu kesempatan belajar dari Jane, dan menemukan bahwa pintu itu selalu terbuka, bahkan untuk mereka yang merasa kecil atau tidak pantas (Gibson, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Jane tidak hanya membuka pintu laboratorium, ia membuka pintu kehidupan.
Jim Moore menulis tentang pelajaran yang ia dapat: “apa yang Jane ajarkan padaku bukanlah sekadar tentang simpanse, melainkan tentang keberanian untuk melihat dunia dengan mata nan segar” (Moore, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Kalimat itu menggema seperti kredo pendidikan: guru sejati bukan yang menjejalkan pengetahuan, tetapi yang membuat murid berani memandang dunia seolah baru. Jane, dengan kesabaran sekaligus ketegasannya, menanamkan kebiasaan itu untuk tidak cepat puas dengan jawaban, untuk tidak cuak mengakui keterbatasan, untuk percaya bahwa setiap pengamatan baru bisa mengubah arah ilmu pengetahuan.
Banyak muridnya mengenang bagaimana ia mendorong mereka keluar dari zona nyaman. John Crocker, misalnya, menulis bahwa hidupnya berubah total setelah belajar dari Jane. Bahkan menjadi panggilan hidup yang menuntunnya ke jalur yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya (Crocker, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Jeannette Hanby menyebutnya dengan kata semenjana namun dalam: “Hoots.” Suara panggilan khas simpanse yang Jane ajarkan, bukan sekadar bunyi, tetapi sebuah isyarat bahwa belajar bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana, dari suara yang membawa manusia kembali kepada keterhubungan dengan alam (Hanby, dalam Peterson & Bekoff, 2015).
Apa yang membuat Jane begitu berbeda sebagai guru? Barangkali karena ia menghapus jarak antara pengetahuan dan kehidupan. Dalam kelas Jane, tidak ada hierarki kaku. Profesor, mahasiswa, teknisi, bahkan masyarakat lokal memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi. Anne Pusey, yang lama meneliti simpanse di Gombe, menulis bahwa Jane membentuk sebuah warisan pengetahuan kolektif, bukan sekadar monumen pribadi (Pusey, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Guru dalam pengertian Jane bukanlah pusat pengetahuan, melainkan katalis yang membuat murid-muridnya percaya pada kemampuan mereka sendiri.
Walakin, seperti setiap tokoh besar, ada ironi yang tidak bisa diabaikan. Jane sering bepergian, mengajar dari panggung ke panggung, sehingga kritik pun muncul: apakah kehadirannya yang sekejap-sekejap cukup untuk menanamkan kedalaman pendidikan? Apakah “Roots & Shoots”, gerakan global yang ia dirikan untuk anak-anak dan remaja benar-benar bisa membentuk generasi ekologis baru, atau sekadar menjadi simbol inspirasi yang mudah memudar? Pertanyaan ini penting, sebab dunia tidak hanya membutuhkan ikon, tetapi juga struktur pendidikan yang berkelanjutan.
Namun, murid-murid Jane justru menjawab keraguan itu dengan kesaksian hidup mereka. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi ilmuwan, aktivis, penulis, dan pendidik, membawa “benih Jane” ke ruang-ruang yang bahkan tak pernah disentuh oleh Jane sendiri. Gloria Grow menulis bahwa Jane “menyelamatkan hidupnya” bukan dengan terapi atau obat, tetapi dengan menyalakan kembali keyakinan bahwa setiap individu bisa memberi perbedaan (Grow, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Inilah bukti paling nyata bahwa pengajaran Jane tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menjelma menjadi keberanian hidup sehari-hari.
Pada akhirnya, Jane sebagai guru bukanlah figur klasik yang kita bayangkan: berdiri di depan kelas, mengajar silabus yang terstruktur. Ia adalah guru yang menanamkan harapan sebagai inti kurikulum. Ia mengajarkan bahwa belajar berarti menjaga rasa kagum, bahwa penelitian adalah bentuk cinta, dan bahwa pendidikan yang sejati adalah yang membuat seseorang keluar dari dirinya sendiri untuk melihat dunia dengan mata yang lebih luas.
Mungkin, di zaman ketika pendidikan sering terjebak dalam angka, ujian, dan kompetisi, pelajaran terbesar dari Jane justru semenjana: seorang guru sejati adalah mereka yang bisa menyalakan api kecil dalam diri muridnya, agar murid itu bisa menerangi jalan yang bahkan gurunya tidak tahu.
Memulihkan Imajinasi Sains
Arkian, di zaman ketika sains sering diasosiasikan dengan laboratorium steril, tabung reaksi, dan grafik statistik, Jane Goodall mengembalikan sains kepada akar yang lebih purba: rasa takjub. Ia berdiri bukan di balik kaca laboratorium, melainkan di bawah pepohonan rimbun Gombe, membiarkan tubuhnya digigit serangga, telinganya diisi dengung hutan, dan matanya dipenuhi tatapan simpanse yang memandang balik dengan rasa ingin tahu yang sama. Ia adalah naturalis dalam arti paling mendasar: seseorang yang belajar dari alam dengan tubuh penuh, bukan sekadar dengan pikiran.
Jeanne McCarty, dalam salah satu esai di The Jane Effect, merangkum gaya Jane dengan dua pertanyaan semenjana: Mengapa dunia ini ada? Apa yang bisa aku lakukan? (McCarty, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Pertanyaan itu, sesederhana doa anak-anak, adalah inti dari sains yang sejati. Jane mengajarkan bahwa penelitian bukan sekadar akumulasi data, tetapi cara menjaga agar pertanyaan-pertanyaan itu tetap menyala.
Kisah liyan datang dari Richard Wrangham, kolega primatologinya di Harvard. Ia menulis bahwa pelajaran terbesar dari Jane adalah “be open to novel observations”, selalu siap menerima hal-hal anyar, bahkan jika bertentangan dengan teori lama (Wrangham, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Di tengah disiplin akademik yang kerap menutup pintu pada data “ganjil,” Jane justru merayakan yang ganjil itu. Ia tahu, dalam setiap penyimpangan ada kemungkinan revolusi.
Namun Jane bukan sekadar naturalis. Ia juga visioner. Seorang yang mampu melihat jauh melampaui batas ilmiah, menembus ke ranah spiritual, etis, bahkan imajinatif. Carol J. Adams menulis bahwa Jane membawa “sebuah hadiah”: kemampuan untuk membuat orang melihat hewan bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek dengan dunia batin mereka sendiri (Adams, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Dalam hal ihwal ini, Jane menyalakan sebuah revolusi kultural: menggeser cara kita mendefinisikan “siapa yang layak dihormati” di planet ini.
Buku The Jane Effect bahkan memuat refleksi teologis. Celia Deane Drummond, seorang teolog, melihat dalam karya Jane sebuah “sense of wonder and religious awe” ketika memandang simpanse (Drummond, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Bagi Drummond, Jane menghidupkan kembali rasa kagum religius yang telah lama terhapus dari sains modern. Bagi sebagian orang, ini kelemahan: bukankah sains seharusnya netral, tanpa “mistik”? Namun, justru di situ letak kekuatan Jane: ia menolak dikotomi palsu antara sains dan keajaiban.
Kritikus mungkin berkata: bukankah bahaya besar mengintai ketika sains dicampur dengan romantisme? Tidakkah kita berisiko terjebak pada “sentimentalisme” yang mengaburkan fakta? Pertanyaan ini sah, bahkan penting. Tetapi pengalaman Jane menunjukkan hal sebaliknya: justru dengan membuka ruang bagi imajinasi, sains bisa menemukan jalannya menuju kebenaran yang lebih utuh. Tanpa itu, kita hanya akan memiliki data kering yang suak menyentuh hati manusia.
Visioner sejati adalah mereka yang mampu menyalakan imajinasi kolektif. Jane melakukannya lewat gerakan Roots & Shoots, yang lahir dari percakapan semenjana dengan sekelompok anak muda di Tanzania pada 1991. Dari percakapan itu, tumbuh jaringan global yang kiwari menjangkau lebih dari seratus negara. Filosofinya semenjana: anak-anak dan remaja bisa menjadi agen perubahan jika diberi ruang untuk bertindak. Laksana burung yang dilepas dari sangkar, gagasan itu terbang jauh lebih tinggi daripada sekadar proyek konservasi; ia menjadi gerakan pendidikan moral dan ekologis (Peterson & Bekoff, 2015).
Jika naturalis Jane mengajarkan kita cara melihat dunia sebagaimana adanya, visioner Jane mengajarkan cara membayangkan dunia sebagaimana seharusnya. Kedua wajah itu tidak bisa dipisahkan. Seperti akar dan pucuk pohon, keduanya tumbuh bersama: satu menembus tanah, yang lain meraih langit.
Barangkali, di zaman ketika kita dicekoki statistik kepunahan, laporan IPCC, dan prediksi apokaliptik, pelajaran dari Jane justru terasa paling sederhana namun paling sulit: untuk tetap terpesona. Untuk tidak berhenti takjub pada seekor simpanse yang membuat alat dari ranting, pada seekor burung beo yang belajar pant-hoot, pada seekor anak kecil yang percaya ia bisa menanam pohon dan mengubah dunia. Itulah visi Jane: sains yang dibangun bukan dari ketakutan, melainkan dari cinta yang berani.
Politik Harapan di Tengah Krisis
Ada kata yang terus muncul dalam setiap testimoni tentang Jane Goodall: hope (harapan). Kata itu tampak semenjana, hampir usang, namun dalam tangan Jane, ia menjelma menjadi strategi politik yang halus, bahkan radikal. Di tengah dunia yang dicekik oleh kapitalisme ekstraktif, kehancuran hutan, dan statistik kepunahan yang mencekam, Jane memilih untuk tidak menyerah pada narasi apokaliptik. Baginya, putus asa bukan pilihan; ia adalah bentuk kemewahan yang tidak boleh kita nikmati ketika spesies lain sedang bertahan di tepi jurang.
Camilla Fox menulis bahwa bersama Jane, ia menemukan “peace of wild things”, sebuah kedamaian yang lahir dari keyakinan bahwa di alam liar selalu ada kesempatan untuk memulai kembali (Fox, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Harapan, bagi Jane, bukanlah ilusi, melainkan energi yang membuat manusia tetap bergerak meski jalannya berliku. Di sini kita melihat politik Jane: ia mengubah harapan menjadi bahan bakar, bukan pelarian.
Kekuatan inspirasional Jane tidak terbatas pada ilmuwan atau aktivis. Leonard George menyebutnya sebagai pemberi “hope” yang membuat orang percaya bahwa bahkan tindakan kecil bisa berdampak luas (George, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Dalam dunia yang dikuasai logika ekonomi neoliberal, di mana segala sesuatu diukur dengan efisiensi dan profit, keyakinan Jane bahwa “setiap individu bisa membuat perbedaan” adalah sebuah sanggahan yang tajam. Ia melawan politik ketidakberdayaan dengan politik harapan.
Tetapi kritik pun muncul: bukankah harapan bisa menjadi candu? Bukankah terlalu banyak optimisme justru membuat kita lalai melihat kerasnya realitas? Beberapa skeptis menuduh Jane terlalu manis, terlalu “naif” dalam menghadapi skala krisis ekologis global. Namun, seperti ditunjukkan Darlene Zavalney, justru sikap Janelah yang membuat ribuan orang, dari anak-anak sekolah hingga pejabat publik, berani melangkah, ketika statistik suram seharusnya membuat mereka lumpuh (Zavalney, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Harapan Jane bukanlah bunga plastik; ia adalah benih yang ditanam dalam tanah nyata, yang butuh perawatan dan aksi.
Yang paling menarik adalah bagaimana Jane mampu berbicara dengan generasi muda. Program Roots & Shoots yang ia dirikan menjadi wadah bagi jutaan anak di seluruh dunia untuk percaya bahwa tindakan kecil mereka berarti. Zoe Weil, salah seorang aktivis pendidikan, menulis: “In Jane’s footsteps, I walk.” Kalimat sederhana ini menegaskan bahwa inspirasi bukan soal retorika, melainkan teladan yang konkret (Weil, dalam Peterson & Bekoff, 2015). Jane mengubah dirinya dari sekadar ilmuwan menjadi jejak. Jejak, jika diikuti banyak orang, bisa menjadi jalan anyar.
Inspirasi Jane tidak pernah steril dari kontradiksi. Ia adalah sosok yang lembut, tetapi juga keras kepala. Ia menolak tunduk pada norma akademik yang menyingkirkan emosi, sekaligus menolak tunduk pada fatalisme politik yang menyingkirkan harapan. Justru di dalam kontradiksi itulah kekuatannya tumbuh. Harapan yang ia bawa bukan sekadar optimisme kosong, melainkan perlawanan yang senyap terhadap budaya putus asa yang kerap diproduksi oleh kekuasaan.
Mungkin, di sinilah letak “Jane Effect” yang paling subtil: ia membuat kita percaya bahwa inspirasi bukanlah hadiah dari langit, tetapi hasil dari keberanian seorang individu untuk terus mengulang kalimat semenjana: kita tidak boleh menyerah. Dalam dunia yang semakin keras, kata-kata itu bukan lagi manis, melainkan subversif.
Warisan Jane bukanlah monumen simpanse semata. Ia lebih merupakan gelombang yang meluap jauh melampaui Gombe. Ia menantang kita bertanya ulang: apakah manusia benar-benar berhak memerintah alam, atau hendakkah kita kembali belajar dari keheningan yang kita rusak?
Di Indonesia hari ini, setiap hari adalah medan perang untuk ekosistem: hutan dibabat, sungai tercemar, satwa diburu, habitat terfragmentasi. Dalam konteks itu, warisan Jane menjadi semakin relevan, bukan sebagai kenangan biografis, tetapi sebagai panggilan moral. Baginya, harapan bukanlah kata kosong yang manis; ia adalah energi pembangkit, senjata lembut yang menolak tunduk pada kehancuran.
Warisan itu di Indonesia memiliki resonansi khusus. Di pulau lebat Kalimantan, Sumatra, Papua, rimba-rimba kita bergema dengan krisis kehilangan satwa: orangutan, harimau, badak, gajah Aceh. Semuanya terancam punah. Di tengah kegaduhan tersebut, prinsip Jane menghantam: bahwa setiap makhluk punya nilai tak terlihat. Bahwa kita tak bisa memandang alam sebagai ladang sumber daya, melainkan sebagai komunitas hidup yang mesti dilindungi dari kerapuhan manusia itu sendiri.
Tatkala Jane berkata bahwa alam jika diberi waktu dan sedikit bantuan bisa pulih kembali, itu bukan optimisme buta. Ia telah melihatnya dengan matanya sendiri: ekosistem yang retak, ketika diberi ruang dan iklim dukung, bisa menumbuhkan kembali akar kehidupan. Sekarang kita di Indonesia harus menanyakan: sudahkah kita memberikan ruang itu? Sudahkah kita memberi “waktu dan sedikit bantuan” pada hutan kita?
Dalam segenap gemuruh dunia yang semakin gaduh, warisan Jane masih berdentang: bahwa perubahan besar bisa lahir dari langkah-langkah kecil yang tak pernah mundur. Di Indonesia, jejak itu bisa menjadi pijakan, bukan hanya untuk melindungi alam, tetapi untuk mengingat bahwa manusia dan makhluk lain adalah satu simfoni hidup nan rapuh.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor:


