Islam kerap muncul dalam percakapan publik dengan vonis yang sudah menunggu. Ketika bom meledak, perang pecah, seorang penceramah melontarkan ucapan kasar, atau sekelompok orang menyerang rumah ibadah, perbuatan segelintir orang segera dianggap mewakili seluruh agama. Identitas jutaan pemeluknya pun ikut menanggung kesalahan yang tidak mereka lakukan.
John L. Esposito (1940-2026) menghabiskan karier akademiknya untuk memperlambat cara berpikir seperti itu. Ia mengajukan pertanyaan yang terdengar semenjana. Islam yang mana? Muslim di negara mana? Siapa yang sedang berwicara? Atas nama siapa? Keadaan sejarah apa yang membentuk tindakan mereka
Pertanyaan semacam itu tidak mudah hidup di ruang publik. Televisi membutuhkan jawaban sebelum semua fakta terkumpul. Media sosial menuntut sikap sebelum orang selesai membaca. Politikus memerlukan lawan yang mudah dikenali. Kerumitan dianggap mengganggu karena tidak dapat diringkas menjadi judul pendek atau potongan video.
Esposito justru memilih kerumitan. Ia tidak meminta dunia membebaskan Islam dari kritik. Ia meminta orang berlaku adil tatkala mengkritiknya. Ia menolak anggapan bahwa kekerasan yang dilakukan sebuah kelompok otomatis menjelaskan keyakinan jutaan manusia. Ia juga tidak menerima sikap sebagian Muslim yang menganggap setiap kritik sebagai serangan terhadap agama.
Di situlah keteguhan intelektualnya. Ia tidak mengganti prasangka cendala dengan pujian yang kosong. Ia menggantinya dengan pengetahuan.
Sarjana yang Mengusik Kepastian
Tamara Sonn menempatkan Esposito sebagai salah satu sarjana Islam paling dikenal di Amerika Utara dan dunia akademik. Ia menulis dan menyunting lebih dari 70 buku, membangun ensiklopedia dan kamus, memimpin organisasi keilmuan, serta mengajar selama hampir setengah abad (Sonn, 2021, hlm. 2–3).
Angka itu menunjukkan produktivitas, tetapi belum menjelaskan pengaruhnya. Sumbangan Esposito terletak pada cara ia mengubah pertanyaan tentang Islam.
Tradisi lama dalam studi Islam sering melukiskan agama ini sebagai satu kesatuan yang tidak berubah. Seorang penulis dapat mengambil perilaku masyarakat tertentu pada masa tertentu, lalu menggunakannya untuk menjelaskan seluruh Muslim. Sejarah menghilang. Perbedaan budaya tidak dianggap penting. Perselisihan internal umat diperlakukan sebagai penyimpangan dari gambaran tunggal yang sudah disiapkan.
Esposito menolak kebiasaan tersebut. Ia menunjukkan bahwa Islam hidup melalui banyak mazhab, bahasa, negara, lembaga, kelas sosial, dan pengalaman politik. Kelompok yang memakai ajaran Islam untuk membenarkan kekerasan memang harus diperiksa. Walakin, kelompok itu tidak lebih mewakili seluruh Muslim daripada kaum rasis dan antisemit yang memakai simbol Kristen mewakili seluruh kekristenan (Sonn, 2021, hlm. 3–4).
Politik menyukai jawaban satu kalimat. Esposito menghabiskan hidup akademiknya untuk menjelaskan mengapa jawaban itu sering menipu.
Tidak Hidup di Ruang Hampa
Cara termudah menyalahpahami agama ialah mengeluarkannya dari sejarah. Sebuah ayat dipisahkan dari perdebatan tafsir. Sebuah gerakan dilepaskan dari represi negara. Konflik tanah disebut perang agama. Keputusan penguasa dianggap sebagai perintah kitab suci.
Esposito memilih cara membaca yang lebih sabar. Ia memeriksa siapa yang menafsirkan agama, lembaga mana yang memberinya otoritas, keadaan sosial apa yang dihadapi masyarakat, dan kepentingan politik apa yang memengaruhi pilihan mereka.
Konteks tentu tidak menghapus tanggung jawab. Pelaku kekerasan tetap harus menjawab tindakannya. Pemimpin agama tidak dapat memakai kemiskinan atau ketidakadilan sebagai izin untuk menyebarkan kebencian. Pemerintah yang menindas juga tidak boleh berlindung di balik sejarah kolonial.
Akan tetapi, tanpa konteks, analisis mudah berubah menjadi prasangka yang memakai istilah akademik.
Cara kerja Esposito dapat diterapkan ketika kita membaca berita hari ini. Siapa pelakunya? Organisasi apa yang ia wakili? Apakah tindakannya mendapat dukungan luas? Apa hubungan peristiwa itu dengan kekuasaan, ekonomi, perang, atau diskriminasi? Siapa yang memperoleh keuntungan ketika seluruh kelompok dipukul rata?
Pertanyaan tersebut tidak memerlukan gelar doktor. Redaksi media, guru, pengurus rumah ibadah, aparat, dan pengguna media sosial dapat menggunakannya. Hambatannya sering bukan kurangnya pengetahuan. Kita kadang lebih ingin membuktikan keyakinan sendiri tinimbang memahami apa yang terjadi.
Tanpa Kepanikan
Esposito juga menantang keyakinan lama bahwa agama akan mundur ketika masyarakat menjadi modern. Agama diperkirakan bertahan sebagai urusan pribadi. Politik, ekonomi, dan hukum dianggap akan mengikuti nalar sekuler.
Sejarah bergerak ke arah liyan. Agama tetap berperan dalam politik Amerika Serikat, India, Israel, Eropa, Amerika Latin, dan berbagai negara Muslim. Namun, keterlibatan agama dalam masyarakat Muslim sering diberi nama khusus, “Islam politik”, seolah pertemuan antara agama dan kekuasaan hanya terjadi dalam Islam.
Esposito menyebut salah satu bentuk bias tersebut sebagai “fundamentalisme sekuler”. Istilah itu menunjuk pandangan yang menganggap hubungan agama dengan politik selalu tidak normal, irasional, berbahaya, dan ekstrem (Hashemi, 2021, hlm. 84).
Kritik itu tidak berarti semua gerakan berbasis agama laik dibela. Esposito meminta orang membedakan partai yang mengikuti pemilu, organisasi yang memberi layanan sosial, gerakan yang melawan kediktatoran, dan kelompok yang memakai kekerasan.
Pembedaan tersebut menentukan kualitas penilaian. Partai yang menerima pergantian kekuasaan tidak sama dengan milisi. Aktivis yang memakai bahasa agama untuk melawan korupsi tidak otomatis menjadi pendukung negara teokratis. Organisasi yang menuntut pemilu tidak dapat disamakan dengan kelompok yang ingin menghancurkan sistem politik melalui teror.
Ketika semua gerakan dimasukkan ke dalam kotak yang sama, istilah ekstremisme berubah menjadi alat untuk membungkam lawan.
Aljazair memberi contoh tentang mahalnya kesalahan membaca politik Islam. Pemerintah menghentikan proses demokrasi setelah Front Keselamatan Islam unggul dalam pemilu pada awal 1990-an. Pembatalan politik, penahanan, dan kekerasan negara ikut mendorong negeri itu memasuki perang saudara. Nader Hashemi menilai kerangka Esposito penting karena mengharuskan peneliti membaca gerakan Islam melalui sejarah, perubahan internal, dan keadaan sosial yang melahirkannya (Hashemi, 2021, hlm. 83–85).
Kesalahan memahami agama tidak berhenti di ruang seminar. Ia dapat berubah menjadi kebijakan yang menutup demokrasi dan memperbesar kekerasan.
Bukan Halaman Tambahan
Kajian Islam global lama menempatkan Timur Tengah sebagai pusat. Islam dijelaskan melalui sejarah Arab, pemikir Arab, konflik Arab, dan persoalan negara Arab. Indonesia serta Asia Tenggara sering muncul sebagai tambahan.
Padahal Asia Tenggara menampung hampir 300 juta Muslim, sekitar 14 persen dari populasi Muslim dunia ketika Overcoming Orientalism terbit. Kawasan sebesar itu masih kurang mendapat tempat dalam analisis mengenai Islam global (Aljunied, 2021, hlm. 94–95).
Pengabaian itu tidak hanya menyangkut jumlah penduduk. Pengalaman Asia Tenggara menunjukkan bahwa modernitas Muslim tidak memiliki satu jalur. Hubungan agama, negara, kebudayaan, dan masyarakat majemuk berkembang melalui sejarah lokal.
Khairudin Aljunied memakai kerangka Esposito untuk membaca apa yang ia sebut sebagai “mozaik reformisme Islam” Asia Tenggara. Para pembaru sama-sama merujuk Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi mereka tidak menghasilkan agenda yang seragam. Pengalaman kolonial, perubahan pendidikan, adat, ekonomi, serta pembentukan negara modern memengaruhi pemikiran mereka (Aljunied, 2021, hlm. 95–97).
Nurcholish Madjid mengkritik penggunaan agama sebagai alat mobilisasi politik. Ia juga menolak sekularisme yang hendak mengusir agama dari kehidupan bersama. Kuntowijoyo mendorong umat keluar dari beban sejarah melalui ilmu dan perubahan sosial. Zakiah Daradjat menghubungkan agama dengan pendidikan, kesehatan mental, kehidupan keluarga, dan pemberdayaan perempuan.
Mereka tidak menghasilkan satu bentuk Islam Indonesia. Perbedaan itulah yang membuat pengalaman Indonesia penting. Islam Indonesia tidak hidup di pinggir dunia Islam. Peta pengetahuan kitalah yang terlalu lama menggambar pusat secara sempit.
Siapa Berwicara untuk Islam?
Salah satu buku Esposito bersama Dalia Mogahed berjudul Who Speaks for Islam? Pertanyaan itu lebih penting daripada jawaban tunggal apa pun. Siapa yang berhak mewakili masyarakat Muslim yang hidup di banyak negara dan berbicara dalam ratusan bahasa?
Pemerintah kerap menunjuk ulama yang dianggap aman. Televisi memilih pembicara yang mudah menciptakan pertengkaran. Kelompok bersenjata mengangkat dirinya sebagai penjaga iman. Pengkritik Islam mengambil perilaku paling ekstrem sebagai ringkasan tentang seluruh agama.
Semua pihak menginginkan satu suara karena satu suara mudah digunakan. Negara dapat mengaturnya. Media dapat menyiarkannya. Pendukung dapat mengikutinya. Lawan dapat menyerangnya.
Esposito mengalihkan perhatian kepada Muslim biasa. Mereka memikirkan pekerjaan, biaya pendidikan, kesehatan, keluarga, keamanan, keadilan, dan masa depan anak. Sikap politik mereka berbeda. Tingkat keberagamaan mereka beragam. Mereka dapat mengkritik kebijakan Barat tanpa menyetujui terorisme. Mereka dapat menjalankan ibadah dengan tekun sambil menerima pemilu. Mereka dapat menginginkan nilai agama hadir dalam hukum, tetapi menolak kekuasaan ulama atas negara.
Pelajarannya mudah dipahami. Jangan meminta satu orang menjelaskan masyarakat yang sangat luas. Dengarkan lebih banyak suara.
Media perlu berhenti menghubungi tokoh yang sama setiap kali isu Islam muncul. Kampus perlu membaca pemikir dari Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, Eropa, dan komunitas Muslim minoritas. Pemerintah harus membedakan organisasi yang kritis dari kelompok yang mengancam kekerasan. Umat Islam juga perlu menerima bahwa perbedaan internal tidak selalu berarti perpecahan.
Keragaman bukan gangguan dalam cerita Islam. Keragaman merupakan kenyataan ceritanya.
Prasangka di Bilik Suara
Esposito memulai karier ketika orientalisme masih kuat dalam kajian Islam. Stereotip yang dahulu hidup dalam buku kemudian berpindah ke berita televisi, kebijakan keamanan, kampanye politik, dan media sosial. Bentuk barunya dikenal sebagai Islamofobia.
Bersama Sahar F. Aziz, Esposito menunjukkan bahwa Islamofobia dan populisme kanan saling menguatkan. Politikus membagi masyarakat menjadi rakyat asli dan kelompok asing. Muslim kemudian digambarkan sebagai ancaman terhadap kebudayaan, keamanan, pekerjaan, dan identitas kelompok mayoritas (Aziz & Esposito, 2024, hlm. 1–5).
Cara itu bekerja karena ketakutan membutuhkan sasaran. Ketika pekerjaan sulit, biaya hidup meningkat, dan kepercayaan kepada pemerintah menurun, populis menawarkan jawaban yang mudah. Pendatang dianggap mengambil pekerjaan. Minoritas dituduh menolak menyesuaikan diri. Muslim digambarkan ingin menggantikan kebudayaan nasional.
Persoalan ekonomi lalu berubah menjadi permusuhan identitas.
Global Islamophobia and the Rise of Populism menelaah kasus di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Buku tersebut menunjukkan bagaimana politikus, organisasi masyarakat, dan media konservatif memakai Islamofobia untuk membangkitkan kecemasan mayoritas terhadap hilangnya kekuasaan serta status sosial (Aziz & Esposito, 2024, hlm. 6–7).
Islamofobia tidak berhenti sebagai rasa tidak suka. Ia dapat melahirkan diskriminasi, pengawasan, pembatasan kewarganegaraan, pengucilan, penahanan, dan kekerasan. Dalam bentuk terburuknya, prasangka memberi bahasa pembenaran bagi pembersihan etnis serta penghancuran kehidupan (Aziz & Esposito, 2024, hlm. 4–5).
Orientalisme membuat Muslim tampak asing. Populisme mengubah keasingan itu menjadi suara pemilih.
Mengakhiri Percakapan
Indonesia sering memandang Islamofobia sebagai penyakit masyarakat Barat. Pandangan itu membuat kita terlalu nyaman. Cara membaca Esposito juga berguna untuk menilai bagaimana masyarakat Muslim memberi label kepada sesama warga.
Sebagian orang menyebut setiap kritik terhadap organisasi Islam sebagai kebencian kepada agama. Sebagian lain menganggap setiap ekspresi agama di ruang publik sebagai ancaman bagi demokrasi. Kata “radikal”, “liberal”, “fundamentalis”, “sekuler”, dan “anti-Islam” kerap berfungsi sebagai putusan sebelum percakapan dimulai.
Label memang membantu mengenali pola. Masalah muncul ketika label mengambil alih pekerjaan berpikir.
Empat pertanyaan dapat memperbaiki percakapan. Siapa yang mengeluarkan pernyataan? Apakah ia berbicara sebagai pribadi atau mewakili organisasi? Keadaan sosial apa yang melahirkan sikap itu? Siapa yang mendapat keuntungan ketika seluruh kelompok dianggap sama?
Redaksi dapat mengajukan pertanyaan tersebut sebelum memilih judul. Guru dapat memakainya ketika membahas konflik agama. Aparat perlu menggunakannya sebelum mengategorikan suatu organisasi. Pengguna media sosial dapat berhenti sejenak sebelum menyebarkan potongan ceramah yang kehilangan konteks.
Kebiasaan itu tidak menjamin semua pihak akan sepakat. Ia mencegah perbedaan berubah terlalu cepat menjadi kebencian.
Turun dari Kampus
Karen Armstrong melihat Esposito sebagai sarjana yang membawa pengetahuan dari ruang kelas dan perpustakaan menuju politik serta percakapan publik. Baginya, ilmu perlu kembali ke masyarakat dan membantu mengurangi kerusakan yang terjadi di sana (Armstrong, 2021, hlm. 57).
Pilihan tersebut mengandung risiko. Akademisi yang menulis bagi pembaca umum dapat dituduh terlalu menyederhanakan persoalan. Sarjana yang ikut berbicara tentang kebijakan dapat dianggap kehilangan jarak akademik.
Esposito menerima risiko itu. Ia menulis karya akademik, ensiklopedia, buku pengantar, dan penjelasan yang dapat digunakan wartawan maupun pembuat kebijakan. Ia membuktikan bahwa bahasa yang terang tidak harus menghasilkan pikiran yang dangkal.
Pelajaran itu penting bagi akademisi Indonesia. Banyak penelitian agama berhenti di jurnal yang dibaca oleh sesama peneliti. Sementara itu, ruang publik dipenuhi potongan video, rumor, kutipan tanpa konteks, dan pendapat yang disampaikan dengan keyakinan tinggi.
Tatkala sarjana memilih diam, orang yang paling lantang mudah dianggap sebagai orang yang paling tahu.
Warisan Cara Meneroka
Arkian, John L. Esposito tidak menawarkan satu rumusan yang menyelesaikan seluruh perdebatan tentang Islam. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih berguna, yaitu disiplin untuk tidak tergesa-gesa.
Baca agama bersama sejarahnya. Bedakan umat dari pelaku. Periksa hubungan antara gagasan dan kekuasaan. Dengarkan orang yang jarang masuk berita. Gunakan ukuran yang sama ketika menilai kekerasan, siapa pun pelakunya.
Islam tidak meminta kekebalan dari kritik. Kritik diperlukan agar agama tidak berubah menjadi alat kekuasaan. Umat perlu berani menghadapi diskriminasi gender, kekerasan sektarian, otoritarianisme, korupsi, dan penyalahgunaan dalil yang tumbuh di lingkungannya sendiri.
Walakin, kritik yang adil memerlukan bukti, konteks, dan ukuran yang setara. Tanpa ketiganya, kritik mudah berubah menjadi izin untuk merendahkan manusia.
Islam bukan satu cerita. Selama puluhan tahun, Esposito berusaha menjaga agar dunia tidak melupakan kenyataan itu. Di tengah politik yang memperoleh keuntungan dari ketakutan dan media yang hidup dari kemarahan, kesediaan memahami orang lain mungkin tampak sebagai pekerjaan kecil. Dari pekerjaan kecil itulah keadilan mulai bekerja.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor:


