Pada masa pra-Islam, poligami telah menjadi perilaku yang sangat mafhum. Bukan hanya terjadi di dunia Arab, orang-orang Eropa seperti Yugoslavia, Jerman, Belgia, Belanda, Denmark Swedia dan inggris, semua adalah bangsa-bangsa yang berpoligami.
Poligami juga sering dikaitkan sebagai ajaran yang bersumber dari agama Islam karena Rasulullah SAW memiliki riwayat menikah dengan 11 orang perempuan, walaupun masa monogami beliau lebih panjang dibanding masa berpoligaminya.
Hari ini, diskursus poligami menjadi diskursus yang banyak diperbincangkan karena beberapa kelompok menganggap bahwa poligami adalah perilaku yang diskriminatif terhadap perempuan. Namun demikian, terlepas dari pro dan kontra perihal tindakan poligami, ternyata Rasulullah SAW pernah melarang menantunya, Ali bin Abi Thalib, memadu Sayyidah Fatimah Az-Zahra.
Suatu hari, Ali bin Abi Thalib memiliki niat untuk memadu Sayyidah Fatimah Az-Zahra dengan meminang putri Abu Jahal, tokoh Quraisy yang sangat keras menentang dakwah Nabi Muhammad SAW dan Islam. Mendengar hal tersebut, Sayyidah Fatimah Az-Zahra menemui ayahnya, Rasulullah SAW, dan mengadu: “Kaummu mengira bahwa engkau tidak ikut marah apabila putrinya marah. Ali ingin menikahi putri Abu Jahal.”
Menanggapi aduan putrinya, Rasulullah SAW berdiri seraya berkata: “Sungguh, Fatimah adalah bagian dariku. Aku tidak suka apabila ia disakiti. Demi Allah, putri utusan Allah dan putra musuh Allah tidak bisa berkumpul pada satu suami.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam Riwayat lain Rasulullah mengatakan: “Maka aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, kecuali jika Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku, dan apa yang mengganggunya itu membuatku terganggu.”
Karena kecintaannya yang begitu dalam terhadap Sayyidah Fatimah Az-Zahra, Ali bin Abi Thalib kemudian membatalkan rencananya tersebut.
Sebagai seorang laki-laki yang memiliki banyak istri, sekaligus sosok yang memiliki kecerdasan batin dan emosional, Rasulullah SAW tentu saja mengetahui bagaimana perasaan cemburu dan sakit hati yang dirasakan oleh para istrinya. Dalam sebuah Riwayat, dikatakan bahwa Sayyidah Aisyah adalah salah satu istri paling pencemburu.
Sayyidah Aisyah diceritakan pernah membuat rencana supaya Nabi SAW berpaling dari istri-istrinya yang lain. Sayyidah Aisyah bahkan pernah sangat marah ketika ia mengetahui bahwa salah satu istri Nabi yang seorang budak, Mariyah Qibthiyah, mengandung anak dari Nabi SAW. Perasaan marah itu juga ditampakkan oleh Sayyidah Aisyah secara terang-terangan terhadap Nabi SAW, sehingga Nabi SAW lelah dan memilih untuk mnyendiri selama satu bulan lamanya.
Peristiwa ini juga menjadi Asbab al-Wurud salah satu hadits Nabi SAW:
Pada suatu malam ketika Umar bin Khattab sedang berbincang-bincang tentang adanya kabar bahwa Ratu Ghassan sedang mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu kaum Muslim, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk keras-keras oleh seseorang yang tak dikenal. “Apakah Umar sudah tidur?.” Mendengar teriakan dan ketukan pintu tersebut, Umar berjalan untuk membukakan pintunya. Ketika Umar membuka pintu, didapatinya tetangganya sendiri, seorang Anshar dari keluarga Umayyah bin Zaid yang baru pulang mengikuti pengajian Rasulullah SAW. Umar lalu bertanya, “Ada apa? Apakah pasukan Ghassan sudah datang?”. Orang tersebut menjawab “Tidak.” Orang tersebut lalu menimpali Umar “Ada peristiwa yang lebih gawat dari itu. Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya,” jawabnya.
Mendengar berita tersebut, Umar tercengang karena tidak menyangka bahwa Rasulullah SAW melakukan hal tersebut. Namun untuk mengetahui kebenaran akan kabar tersebut, keesokan harinya Umar menghadap Nabi SAW dan bertanya kepada beliau, “Apakah benar, engkau telah menceraikan istri-istrimu.?” Dengan kepala tegak memandang Umar, Rasulullah menjawab “Tidak”, dan Nabi bersumpah untuk tidak mengumpuli istri-istrinya selama satu bulan.
Jadi, alasan utama Rasulullah SAW melarang Ali bin Abi Thalib berpoligami karena beliau tidak ingin putrinya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, mengalami rasa sakit dan perselisihan sebagaimana yang dialami oleh istri-istrinya.
Editor:


