Dalam ajaran Islam, eksistensi jin sama dengan manusia. Mereka berkewajiban untuk menyembah Allah swt dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Sebagaimana manusia, jin juga ada yang tidak mau tunduk pada ajaran Islam. Menariknya, jin mempunyai sejumlah kemampuan khusus yang tidak dimiliki manusia, yang jika dicerna secara logika tidak masuk akal. Apa saja kesaktian bangsa jin? Mari simak tulisan bertema jin kali ini.
Berpindah Secepat Kilat
Salah satu kesaktian yang dimiliki bangsa jin adalah mampu bergerak atau berpindah tempat dengan kecepatan yang di luar nalar. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an saat menceritakan sosok jin ‘Ifrit yang mengaku bisa memindahkan singgasana Ratu Baqlis sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya.
Dikisahkan, sekali waktu Ratu Balqis beserta pasukannya bermaksud mendatangi Nabi Sulaiman di istananya. Mendengar kabar itu Sulaiman segera memberikan tawaran kepada penduduk istana, siapa yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis sebelum penguasa dari tanah Saba’ itu tiba. Dengan percaya diri, ‘Ifrit -jenis jin terkuat- menyanggupi untuk memindahkan singgasana secepat kilat, prediksinya akan sampai sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Kisah ini diabadikan dalam firman Allah,
قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ. قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ
Artinya, “Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya. Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” (QS An-Naml [27]: 39-40)
Mendengar tawaran ‘Ifrit, tampaknya Nabi Sulaiman masih kurang puas. Ia menginginkan yang lebih cepat dari itu. Tiba-tiba ada seseorang yang menyanggupi bahwa ia bisa memindahkan singgasana Balqis sebelum Sulaiman mengedipkan mata. Memang di atas langit masih ada langit. Lantas mengapa sang nabi meminta hal “aneh” demikian? Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Nabi Sulaiman ingin menunjukkan mukjizat kepada Balqis sehingga ratu dari negeri Saba’ itu bertekuk lutut dan mau beriman. Sebab, sebelumnya Balqis tidak mau mengikuti paham keagamaan Sulaiman. (Ibnu Katsir, 1997: vol. 6, h. 192)
Menurut Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya, para ulama berbeda pendapat ke dalam dua pandangan terkait sosok yang mampu memindahkan singgasana sebelum Nabi Sulaiman mengedipkan mata tersebut. Pendapat pertama mengatakan sosok itu adalah malaikat, sementara pendapat kedua menyebut sebagai manusia. Terkait siapa malaikat tersebut juga terjadi perbedaan pendapat. Ada yang menyebut Malaikat Jibril, ada pula yang mengatakan malaikat khusus yang Allah utus untuk mendampingi Sulaiman.
Sementara menurut pendapat yang mengatakan sosok manusia juga terjadi perbedaan. Ada yang mengatakan Nabi Khidir. Ada yang menyebut Ashif bin Barkhiya (ini pendapat yang masyhur), yaitu orang saleh yang mengetahui ismul a’dzam, isim yang jika disertakan dalam doa maka doa tersebut pasti diijabah. Ada yang mengatakan orang saleh penduduk dasar laut, yang muncul ke daratan untuk membantu Sulaiman. Ada juga yang mengatakan sosok itu adalah Nabi Sulaiman sendiri. Wallahu a’lam. (ar-Razi, 1981: vol. 24, h. 197)
Berubah Wujud
Jika menonton film Marvel, pasti kita akan mengenal sejumlah karakter yang memiliki kemampuan shapeshift atau berubah penampilan sesuai kehendak hingga menirukan orang lain. Kemampuan “super” ini juga dimiliki oleh bangsa jin. Makhluk gaib ini bisa berubah wujud sesuai kehendak mereka. Hal ini salah satunya terjadi saat peristiwa perang Badar ketika ada sosok jin menyamar menjadi Suraqah bin Malik dari Bani Mudlij, seorang lelaki dari kubu musyrikin. Diriwayatkan,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: جَاءَ إِبْلِيسُ يَوْمَ بَدْرٍ فِي جُنْدٍ مِنَ الشَّيَاطِينِ مَعَهُ رَأَيْتُهُ فِي صُورَةِ رَجُلٍ مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ فِي صُورَةِ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ، فَقَالَ الشَّيْطَانُ لِلْمُشْرِكِينَ: لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ، فَلَمَّا اصْطَفَّ النَّاسُ، أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْضَةً مِنَ التُّرَابِ، فَرَمَى بِهَا فِي وُجُوهِ الْمُشْرِكِينَ، فَوَلَّوْا مُدْبِرِينَ. وَأَقْبَلَ جِبْرِيلُ إِلَى إِبْلِيسَ، فَلَمَّا رَآهُ، وَكَانَتْ يَدُهُ فِي يَدِ رَجُلٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، انْتَزَعَ إِبْلِيسُ يَدَهُ، فَوَلَّى مُدْبِرًا هُوَ وَشِيعَتُهُ، فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا سُرَاقَةُ تَزْعُمُ أَنَّكَ لَنَا جَارٌ؟ قَالَ: (إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ) وَذَلِكَ حِينَ رَأَى الْمَلاَئِكَةَ
Artinya, “Diriwasyatkan dari ‘Abbas, dia berkata, ‘Saat perang Badar, iblis muncul di barisan tentera setan dan aku melihat dia berubah wujud seperti lelaki dari Bani Mudlij, dengan rupa seperti Suraqah bin Malik bin Jus’um. Dia berkata kepada kaum musyik, ‘Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan kalian pada hari ini dan sesungguhnya saya adalah pelindungmu.’ Ketika pasukan telah berbaris, Rasulullah mengambil segenggam debu, lalu melemparkannya ke arah tentara musyrikin. Mereka pun lari bertempiaran. Lalu Jibril menuju ke arah iblis.
Ketika itu iblis sedang memegang tangan salah seorang musyrik. Apabila dia melihat kedatangan Jibril, dia terus melepaskan tangan orang musyrik tersebut, kemudian iblis bersama setan-setan yang mengiringinya melarikan diri. Lelaki (musyrik) itu pun berkata, ‘Wahai Suraqah, bukankah kau tadi menjadi pelindung kami?’ Iblis menjawab, ‘Sesungguhnya aku dapat melihat apa yang tidak bisa kalian lihat, sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” Ketika itulah iblis melihat para malaikat. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya. (ath-Thabari, 2013: vol. 6, h. 264)
Menembus Portal Langit
Ketika Allah menentukan sebuah suratan takdir, tidak ada yang bisa mengetahui isi suratan tersebut kecuali para malaikat yang ada di langit. Biasanya mereka akan saling berbisik setelah Allah menentukan sebuah putusan, Ketika itulah para jin yang diam-diam mencuri dengar perbincangan para malaikat. Dengan begitu jin tahu peristiwa apa yang akan terjadi berdasarkan informasi yang mereka peroleh.
Jin-jin itu kemudian menyampaikan informasi ini kepada para dukun, dengan begitu sang dukun bisa mengetahui hal-hal gaib. Hanya saja biasanya jin tadi menambahkan informasi bohong kepada si dukun dengan tujuan untuk menyebarkan dusta dan menyesatkan umat manusia. Sejak Nabi Isa lahir, akses ke langit tertutup tiga lapis sehingga jin tidak leluasa seperti dulu. Hingga kemudian Nabi Muhammad lahir akses ke “portal” langit itu benar-benar ditutup seutuhnya sehingga jin sama sekali tidak bsia mencuri dengar. Syekh Abul Qasim as-Suhaili dalam ar-Raudhul Unf menyebutkan,
رُوِيَ فِي مَأْثُورِ الْأَخْبَارِ أن إبليس كان يخترق السّماوات قَبْلَ عِيسَى، فَلَمّا بُعِثَ عِيسَى، أَوْ وُلِدَ حجب عن ثلاث سماوات، فَلَمّا وُلِدَ مُحَمّدٌ حُجِبَ عَنْهَا كُلّهَا، وَقُذِفَتْ الشّيَاطِينُ بِالنّجُومِ
Artinya, “Diriwayatkan dalam beberapa hadis yang ma’tusr, dulu iblis bia mencuri dengar di langit sebelum Nabi Isa diutus. Setelah Isa diutus atau dilahirkan, tertutup tiga lapis langit. Hingga Nabi Muhammad lahir iblis tidak bisa lagi mencuri dengar sama sekali, sebab setan-setan sudah dilempari dengan bintang-bintang.” (Abul Qasim as-Suhaili, t.t.: vol. 2, h. 194).
Fakta ini membuktikan bahwa sebelum Nabi Isa lahir, para dukun memang benar-benar ada dan memiliki kesaktian. Dengan memperbantukan jin, mereka memiliki kemampuan meramal. Hanya saja karena jin tersebut punya misi menyesatkan manusia, maka informasi yang disampaikan makhluk gaib ini juga banyak ditambahi kebohongan. Sejak Nabi Isa lahir, apalagi sejak Nabi Muhammad hadir, akses portal langit bagi jin benar-benar ditutup. Ketika ada jin berusaha naik mencuri dengar, ia akan dilempari benda langit hingga terjatuh. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ
Artinya, “Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk [67]: 5).
Jadi kalau hari ini masih ada dukun yang mengaku sakti bisa meramal jelas bohong. Kalaupun dia menggunakan bantuan jin untuk mencari informasi gaib, jelas informasi yang ia peroleh hanya berisi kebohongan yang sudah didikte oleh bangsa jin.
Demikianlah sejumlah kesaktian yang dimiliki bangsa jin. Terkadang, masih ada saja orang -seperti dukun- yang menghambakan diri kepada bangsa jin agar diberi keberuntungan atau bahkan memiliki kesaktian tertentu. Padahal, ketika seorang manusia memiliki ketergantungan pada makhluk gaib ini, ia akan berada di bawah pengaruhnya bahkan bisa diseret dalam kekufuran. Na’ūdzubillah.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


