KH Hasyim Asy'ari Serukan Batasan Perayaan Maulid Nabi yang Kini Justru jadi Ladang Kemaksiatan

KH Hasyim Asy'ari Serukan Batasan Perayaan Maulid Nabi yang Kini Justru jadi Ladang Kemaksiatan

Arina.id — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu tradisi yang banyak dilakukan umat Islam setiap bulan Rabiul Awal. Momentum tersebut biasanya diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, shalawat, dzikir, pengajian, pembacaan sejarah kehidupan Nabi hingga makan bersama.

Namun, KH Hasyim Asy’ari mengingatkan agar perayaan Maulid Nabi tidak diisi dengan kegiatan yang justru bertentangan dengan ajaran Islam.

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut menjelaskan bahwa peringatan Maulid pada dasarnya merupakan momentum untuk berkumpul, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW serta mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran sosok yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.

Pandangan tersebut disampaikan KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Tanbihat wal-Wajibat. Beliau mengutip pendapat para ulama mengenai bentuk peringatan Maulid yang dianjurkan.

"Maulid yang dianjurkan oleh para imam adalah kegiatan berkumpulnya masyarakat, membaca ayat Al-Qur'an, membaca riwayat tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad, peristiwa luar biasa sejak dalam kandungan dan kelahiran Nabi, dan sejarah yang penuh berkah setelah dilahirkan."

Setelah rangkaian tersebut, masyarakat dapat menyajikan makanan untuk disantap bersama. KH Hasyim Asy’ari juga menjelaskan bahwa apabila perayaan ditambah dengan tabuhan rebana selama tetap memperhatikan adab, kegiatan tersebut tidak menjadi persoalan.

Meski demikian, Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ini memberikan catatan penting. Menurutnya, tidak semua bentuk kegiatan yang mengatasnamakan peringatan Maulid otomatis sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam Tanbihat wal-Wajibat, beliau menyoroti sejumlah praktik yang dinilai menyimpang ketika disisipkan dalam acara Maulid. Di antaranya pertunjukan yang tidak sesuai dengan syariat, bercampurnya laki-laki dan perempuan tanpa memperhatikan ketentuan agama, tarian yang berlebihan, permainan kartu, tertawa terbahak-bahak serta berbagai perbuatan mungkar lainnya.

Karena itu, perayaan Maulid seharusnya tidak kehilangan tujuan utamanya hanya karena mengikuti bentuk hiburan atau tradisi tertentu.

KH Hasyim Asy’ari juga mengutip pandangan Abu Syamah dalam kitab Al-Ba’its fi Inkari al-Bida’i wa al-Hawadits. Dalam pandangan tersebut, salah satu bentuk aktivitas positif pada masa itu adalah kegiatan masyarakat di Kota Irbil, Irak, yang diisi dengan sedekah, berbagai kebaikan, mengenakan pakaian terbaik dan menunjukkan kegembiraan.

Kegembiraan tersebut juga diwujudkan melalui perhatian kepada masyarakat miskin. Semua itu dipandang sebagai ekspresi kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus rasa syukur kepada Allah SWT atas diutusnya Nabi sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Esensi Maulid adalah Meneladani Nabi

Peringatan Maulid Nabi pada akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Esensinya adalah menghadirkan kembali keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan umat Islam.

Momentum Rabiul Awal dapat menjadi ruang untuk mengenal kembali perjalanan hidup Nabi, membaca shalawat, mempelajari akhlaknya serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Dengan demikian, kegiatan Maulid dapat diisi dengan aktivitas yang memberikan manfaat, seperti membaca Al-Qur’an, mengkaji sirah Nabi, bershalawat, bersedekah, memberi makan masyarakat dan memperkuat hubungan sosial.

Pandangan serupa juga dikemukakan Imam Jalaluddin al-Suyuthi. Ia berpandangan bahwa orang yang mengadakan peringatan Maulid sebagai bentuk kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan memuliakan beliau dapat memperoleh pahala dari Allah SWT.

Karena itu, pesan KH Hasyim Asy’ari relevan untuk menjadi pengingat bahwa kegembiraan dalam memperingati Maulid tetap perlu ditempatkan dalam koridor ajaran agama.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo