Nabi Muhammad sebagai manusia yang istimewa di muka bumi ini berhasil menancapkan tonggak sejarah Islam. Setiap hal yang berkaitan dengan beliau akan selalu diteladani dan dimuliakan oleh umatnya, termasuk hari kelahirannya yakni pada bulan Rabiul Awal.
Bulan Rabiul Awal identik dengan maulid Nabi Muhammad yang memiliki sejumlah keistimewaan dan keteladanan. Pada bulan itu pula, seluruh umat Islam bergembira merayakan maulid sesuai tradisi yang berkembang di daerahnya masing-masing, seperti pembacaan maulid barzanji, shalawat, dzikir dan lain sebagainya.
Berbagai luapan ekspresi yang timbul dari masyarakat biasanya diwujudkan sesuai kearifan lokal. Misalnya, masyarakat Jawa merayakan maulid dengan grebek maulud, muludan, dan sejenisnya. Seusai kegiatan, masyarakat kemudian menyantap hidangan bersama-sama.
Sedangkan di lingkungan pesantren biasanya menyemarakkan maulid dengan membaca tarikh Nabi Muhammad dalam kitab Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saraful Anam, Burdah, dan lain-lain. Sering pada momentum Maulid diisi pengajian, kemudian diakhiri dengan makan bareng.
Semua itu merupakan ekspresi atau ungkapan rasa syukur dan bahagia atas hari kelahiran Nabi yang telah membimbing, menuntun, dan memberikan arahan jalan hidup sesuai ajaran agama Islam.
Meski demikian, tidak semua kegiatan yang diperuntukkan memperingati maulid Nabi itu sejalan dengan aturan agama Islam. Terlebih di era sekarang kadang diselingi beberapa acara yang menjurus pada kemaksiatan. hal ini tentunya ini dilarang.
Salah satu kasus Maulid yang tidak sesuai ajaran Islam pernah disorot oleh KH Hasyim Asyari. Beliau menyoroti kegiatan Maulid yang diselingi dengan pencak, pertunjukan yang melenceng dari syariat, bercampurnya laki-laki perempuan, tarian eksotis, bermain kartu, tertawa terbahak-bahak, dan perbuatan munkar lain.
KH Hasyim Asy’ari menegur keras perayaan itu dalam karyanya berjudul Tanbihat wal-Wajibat. Secara tegas beliau memberikan rambu-rambu saat mengadakan acara maulid:
اَلتَّنْبِيْهُ الْأَوَّلُ يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الْعُلَمَاءِ الْآتِيْ ذِكْرُهُ أَنَّ الْمَوْلِدَ الَّذِيْ يَسْتَحِبُّهُ الْأَئِمَّةُ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِيْ حَمْلِهِ وَمَوْلِدِهِ مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ سِيَرِهِ الْمُبَارَكَاتِ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُمْ طَعَامٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى ذَلِكَ ضَرْبَ الدُّفُوْفِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْأَدَبِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ
Artinya: "Peringatan pertama yang dikutip dari pendapat para ulama (yang akan disebutkan nanti), bahwa maulid yang dianjurkan oleh para imam adalah kegiatan berkumpulnya masyarakat, membaca ayat Al-Qur'an, membaca riwayat tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad, peristiwa luar biasa sejak dalam kandungan dan kelahiran Nabi, dan sejarah yang penuh berkah setelah dilahirkan. Kemudian menyajikan beberapa hidangan untuk masyarakat lalu menyantapnya dan selanjutnya mereka bubar. Apabila mereka menambahkan beberapa kegiatan dengan memukul rebana disertai tetap menjaga adab, maka hal itu tidak apa-apa."
KH. Hasyim menuturkan kembali dengan mengutip pendapat Abu Syamah dalam kitabnya Al Ba’its Fi Inkari al Bida’I Wa al Hawadits yang menyebutkan bahwa kegiatan positif dari bid’ah di zaman kita sekarang ini adalah aktivitas yang biasa dilakukan penduduk Kota Irbil, Irak seperti bersedekah, berbuat baik, menampakkan perhiasan dalam berbusana dan kebahagiaan. Namun hal tersebut tetap disertai dengan berbuat baik kepada fakir miskin yang sebagai bentuk manivestasi rasa cinta dan mengagungkan Nabi SAW serta rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah dianugerahkan, dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta dan rahmat atas seluruh para utusan. Semoga Allah senantiasa memperbaiki hari yang bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam setiap tahunnya.
Penegasan KH Hasyim ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa merayakan maulid Nabi Muhammad itu harus diisi dengan kegiatan yang positif dan mencerminkan kebaikan seperti diisi dengan bacaan Al-Qur'an, kisah kemuliaan Nabi, disuguhi hidangan makanan atau bahkan diiringi dengan tabuhan rebana, itu semua termasuk perbuatan yang tidak dilarang dalam Islam. Bahkan banyak para imam dan ulama menganjurkan agar senantiasa mengadakan peringatan maulid setiap bulan Rabiul Awal.
Perlu diingat kembali bahwa tujuan utama mengadakan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk meneladani kisah perjalanan hidup disertai membaca shalawat atas Nabi, mengagungkan kedudukannya, dan menampakkan kebahagiaan di bulan kelahirannya.
Imam Al-Suyuti mengatakan bahwa orang yang mengadakan peringatan Maulid, maka ia termasuk melakukan perbuatan yang akan mendapatkan pahala dari Allah karena telah bergembira atas kelahiran dan memuliakan Nabi Muhammad.
Editor: Muhammad Faizin


