Pengalaman Spiritual Dua Cucu Nabi saat Tunaikan Ibadah Haji

Pengalaman Spiritual Dua Cucu Nabi saat Tunaikan Ibadah Haji

Arina.id - Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi spiritual sangat mendalam. Dalam perjalanan menuju Baitullah, seorang hamba diajak untuk menanggalkan ego dan keduniawian, lalu menyatu dalam kehambaan total kepada Sang Pencipta.

Di antara para tokoh Islam yang dikenal memiliki pengalaman spiritual yang menggetarkan dalam ibadah haji adalah dua cucu Nabi Muhammad, yaitu Sayyidina ‘Ali bin Husain (putra Sayyidina Husein bin Ali) yang bergelar Zainul ‘Abidin dan Imam Ja’far Shadiq. Kedua tokoh ini menunjukkan bagaimana ketulusan dan rasa takut kepada Allah dapat melahirkan pengalaman rohani yang luar biasa dalam melaksanakan ibadah suci tersebut.

Rasa takut yang mereka alami bukanlah rasa takut yang bersumber dari ketakutan fisik, melainkan rasa takut yang lahir dari kesadaran akan kebesaran Allah dan kehinaan seorang hamba di hadapan-Nya. Bagi mereka, mengucapkan talbiyah bukan sekadar ritual lisan, melainkan sebuah pengakuan penuh tentang kesiapan seorang hamba untuk memenuhi panggilan-Nya. Hal ini yang kemudian melahirkan kegentaran hati yang luar biasa tatkala lafaz talbiyah hendak diucapkan.

Pengalaman Spiritual Sayyidina Ali bin Husain

Sayyidina ‘Ali bin Husain memiliki pengalaman spiritual yang menggetarkan hati dalam pelaksanaan ibadah haji. Hal ini sebagaimana kutipan riwayat Sufyan bin ‘Uyaynah yang disampaikan Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin berikut:

عَن سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ: حَجَّ زَيْنُ الْعَابِدِينَ، فَلَمَّا أَحْرَمَ وَاسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ اصْفَرَّ لَوْنُهُ، وَوَقَعَتْ عَلَيْهِ الرَّعْدَةُ، وَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُلَبِّيَ. فَقِيلَ: أَلَا تُلَبِّي؟ فَقَالَ: أَخْشَى أَنْ يَقُولَ لِي: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ! فَلَمَّا لَبَّى خَرَّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ وَسَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، فَلَمْ يَزَلْ يَعْتَرِيهِ ذَلِكَ حَتَّى قَضَى حَجَّهُ

Artinya: “Dari Sufyan bin ‘Uyainah: Zainul ‘Abidin menunaikan ibadah haji. Ketika ia telah berihram dan untanya telah stabil membawanya, wajahnya tiba-tiba pucat, tubuhnya bergetar, dan ia tidak mampu mengucapkan talbiyah. Lalu seseorang bertanya, ‘Mengapa engkau tidak mengucapkan talbiyah?’ Ia menjawab, ‘Aku takut jika Allah mengatakan kepadaku: ‘Tidak ada sambutan dan tidak ada kebahagiaan untukmu!’ Ketika ia mengucapkan talbiyah, ia langsung jatuh pingsan dan terjatuh dari untanya. Hal itu terus dialaminya sampai ia menyelesaikan hajinya.”  (Al-Ghazali, 2016: juz 1, h. 364)

Kisah tersebut menunjukkan bagaimana rasa takut kepada Allah hadir secara nyata dalam jiwa seorang hamba yang benar-benar merasakan keagungan dan kemahabesaran-Nya. Ketika ‘Ali Zainal ‘Abidin hendak mengucapkan “Labbaika Allahumma labbaik” sebagai bentuk panggilan hamba kepada Tuhannya, rasa takut akan tidak diterima oleh Allah membuatnya gemetar hebat, bahkan sampai pingsan. Hal ini menunjukkan ketulusan dan kehambaan yang dalam kepada Allah yang membuatnya merasakan getaran spiritual yang luar biasa dalam setiap langkah hajinya.

Lebih dari itu, rasa takut tersebut bukan didasarkan pada kurangnya keyakinan, melainkan pada kedalaman iman dan penghayatan akan hubungan hamba dan Tuhannya. Bagi ‘Ali, mengucapkan talbiyah bukan sekadar melafalkan kalimat, tetapi sebuah pengakuan akan kehambaan di hadapan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, setiap kata yang diucapkan seakan menghadirkan rasa malu jika tidak disertai ketulusan yang sempurna.

Pengalaman Spiritual Imam Ja’far Shadiq

Tidak jauh berbeda dengan Zainul ‘Abidin, Imam Ja’far Shadiq juga mengalami pengalaman spiritual yang mendalam saat menunaikan ibadah haji. Hal ini sebagaimana kutipan riwayat Malik bin Anas yang disampaikan Akram Jalal Karim dalam Madarijul Kamal berikut:

عَن مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ: حَجَجْتُ مَعَهُ (أَيْ الإِمَامِ الصَّادِقِ سَنَةً، فَلَمَّا اسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ عِنْدَ الإِحْرَامِ كَانَ كُلَّمَا هَمَّ بِالتَّلْبِيَةِ انْقَطَعَ الصَّوْتُ فِي حَلْقِهِ، وَكَادَ أَنْ يَخِرَّ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَقُلْتُ: قُلْ يَا ابْنَ رَسُولِ اللهِ، وَلَابُدَّ لَكَ مِنْ أَنْ تَقُولَ. فَقَالَ: يَا ابْنَ أَبِي عَامِرٍ، كَيْفَ أَجْسُرُ أَنْ أَقُولَ: "لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ" وَأَخْشَى أَنْ يَقُولَ تَعَالَى لِي: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ؟!

Artinya: “Dari Malik bin Anas: Aku berhaji bersama Imam Ja‘far ash-Shadiq pada suatu tahun. Ketika untanya telah stabil membawanya saat ihram, setiap kali ia hendak mengucapkan talbiyah, suaranya terhenti di tenggorokannya dan hampir saja ia jatuh dari untanya. Maka aku berkata, ‘Ucapkanlah, wahai putra Rasulullah! Engkau harus mengucapkannya.’ Beliau menjawab, ‘Wahai putra Abu ‘Amir, bagaimana aku berani mengucapkan, ‘Labbaika Allahumma labbaik,’ sementara aku khawatir Allah akan menjawabku: ‘Tidak ada sambutan dan tidak ada kebahagiaan untukmu!’” (Karim, 2020: h. 145)

Kisah pengalaman spiritual Imam Ja’far Shadiq saat menunaikan ibadah haji mengungkapkan rasa takut yang mendalam kepada Allah. Ketika hendak mengucapkan talbiyah, suara beliau terhenti di tenggorokan, seakan gentar menyambut panggilan Tuhan. Ini bukanlah ketakutan biasa, melainkan manifestasi dari kesadaran spiritual yang tinggi. Imam Ja’far Shadiq menyadari betapa agungnya panggilan itu dan betapa besarnya tanggung jawab seorang hamba di hadapan-Nya.

Jawaban beliau kepada Malik bin Anas menunjukkan kedalaman iman yang luar biasa. Ketika diminta melafalkan talbiyah, beliau berkata takut jika Allah menolak sambutannya. Ucapan itu mencerminkan kehati-hatian dan kesadaran spiritual yang begitu tinggi, seolah-olah kehadiran Allah begitu nyata dan tak terjangkau oleh kelalaian sedikit pun. Inilah bentuk ketundukan sejati yang lahir dari penghayatan makna talbiyah yang sesungguhnya.

Pengalaman spiritual Sayyidina ‘Ali bin Husain dan Imam Ja’far Shadiq dalam ibadah haji mengajarkan kita tentang ketulusan, kesadaran, dan kedalaman iman. Ketakutan mereka bukan karena keraguan, tetapi karena kesadaran akan kebesaran Allah. Mereka mengingatkan kita untuk melaksanakan ibadah dengan penuh kehati-hatian dan penghayatan. Setiap kalimat dalam ibadah adalah pengakuan tulus akan kehambaan kita di hadapan Sang Pencipta.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo