Terdapat banyak sekali perempuan penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Salah satunya ialah Tsuwaibah. Ia tercatat sebagai ibu susuan pertama Rasulullah, setelah sebelumnya disusui oleh Ibunda beliau sendiri, yakni Sayyidah Aminah. Tsuwaibah juga mengambil peran penting di awal kehidupan Nabi.
Ia adalah orang yang pertama kali mengabarkan tentang kelahiran Nabi kepada paman Nabi, Abu Lahab. Diliputi kebahagiaan karena mendengar berita kelahiran keponakannya, Abu Lahab kemudian membebaskan Tsuwaibah.
Menjadi Penyebab Ringannya Siksaan Abu Lahab di Akhirat
Tsuwaibah adalah seorang perempuan yang berlatar belakang sebagai budak. Ia dimiliki oleh Abu Lahab, saudara dari Abdullah, ayah Nabi. Dengan demikian, beliau adalah paman Nabi. Meski masih bersaudara, namun Abu Lahab di kemudian hari malah menjadi musuh utama dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
Ia dipastikan masuk neraka karena sepak terjangnya yang sangat bengis kepada orang-orang Muslim di awal Islam, terutama ketika dakwah masih berpusat di Makkah, belum sampai menyebar ke Madinah lewat perantaraan hijrah. Kepastian masuk nerakanya Abu Lahab bahkan diabadikan dalam satu surat yang ada di Al-Qur'an, yakni surat Al-Lahab.
Meskipun dipastikan masuk neraka, namun sebuah riwayat menyebutkan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa di neraka. Ibn Baththal (W. 449 H), seorang sejawaran dari mazhab Maliki menyebutkan:
أن أبا لهب أعتق جارية يقال لها: ثويبة، وكانت قد أرضعت النبى، (صلى الله عليه وسلم) ، فرأى أبا لهب بعضُ أهله فى النوم، فسأله فقال: ما وجدت بعدكم من راحة غير أنى سقيت فى هذه، وأشار إلى النقرة التى تحت إبهامه، بعتقى ثويبة)
Artinya: “Sesungguhnya Abu Lahab membebaskan budak perempuan miliknya, yakni Tsuwaibah. Ia pernah menyusui Nabi Muhammad SAW. Sebagian anggota keluarga Abu Lahab ada yang pernah bermimpi bertemu dengannya sesudah ia mati. Saat ditanya tentang kabarnya kini, Ia berkata: ‘Sesudah meninggalkan kalian semua, aku tidak pernah beristirahat (dari siksaan) kecuali bahwa aku diberi minum lewat sini (isarat pada rongga ibu jari) sebab aku telah memerdekakan Tsuwaibah)." (Ibn Baththal, Syarah Shahih al-Buhari li Ibn Baththal [Riyadl: Maktabah al-Rasyd, 1423 H], j. III, h. 438)
Dapat kita pahami dari redaksi ini bahwa alasan keringanan siksa Abu Lahab di akhirat ialah karena ia pernah memerdekakan Tsuwaibah. Kisahnya ialah pada saat kelahiran Nabi, secara umum keluarga besar kakek Nabi, yakni Abdul Muthalib memang merindukan kelahiran anggota keluarga baru mereka yang saat itu berada dalam kandungan Sayyidah Aminah.
Rasa simpati mereka berikan kepada bayi yang akan lahir ini karena bayi tersebut dipastikan akan menjadi yatim karena ayahnya, yakni Abdullah telah meninggal sebelumnya.
Pada suatu penghujung malam yang spesial, Abu Lahab melihat adanya sinar terang yang memancar dari rumah Sayyidah Aminah. Ia pun menyuruh budaknya, yakni Tsuwaibah untuk melihat dari mana asal sinar tersebut dan apakah sebenarnya sinar itu. Tsuwaibah kemudian mendatangi rumah Sayyidah Aminah.
Di situ ia melihat sinar keluar dari bayi yang baru lahir. Ia pun takjub akan hal tersebut dan mengabarkan kepada tuannya bahwa Sayyidah Aminah baru saja melahirkan seorang bayi lelaki. Dan sinar yang dilihat oleh Abu Lahab berasal dari bayi tersebut.
Abu Lahab bersuka cita akan kabar tersebut. Ia kemudian membebaskan Tsuwaibah sebagai perwujudan rasa gembiranya. Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan alasan Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa di neraka ialah karena ia pernah kedapatan bergembira akan kelahiran Nabi dengan jalan membebaskan Tsuwaibah.
Menjadi Ibu Susuan Nabi
Sudah menjadi kelaziman bagi bangsa Arab khususnya penduduk Makkah di Zaman pra Islam, yakni menyusukan bayi pada wanita lain yang biasanya tinggal di pedesaan agar mereka tumbuh menjadi anak yang kuat dan bisa beradaptasi dengan iklim padang pasir yang keras. Demikian pula dengan Sayyidah Aminah. Ia menyusukan bayinya pada perempuan lain.
Perempuan pertama yang mendapatkan kehormatan untuk menyusui Nabi sesudah ibunda beliau ialah Tsuwaibah. Sejawaran Abu Nu’aim (W. 430 H) mengutip dari Barrah binti Abi Tajraah, sebuah riwayat yang mengkonfirmasi hal tersebut:
أَوَّلُ مَنْ أَرْضَعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُوَيْبَةُ - مَوْلَاةُ أَبِي لَهَبٍ - بِلَبَنِ ابْنٍ لَهَا يُقَالُ لَهُ مَسْرُوحٌ أَيَّامًا قَبْلَ أَنْ تَقْدُمَ حَلِيمَةُ، وَكَانَتْ قَدْ أَرْضَعَتْ قَبْلَهُ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَرْضَعَتْ بَعْدَهُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الْأَسَدِ الْمَخْزُومِيَّ
Artinya: “Wanita pertama yang menyusui Rasulullah ialah Tsuwaibah, budak perempuan milik Abu Lahab. Ia menyusui Nabi bersamaan dengan menyusui putranya sendiri, yakni Masruh. Ia terus menyusui Nabi hingga datang Halimah as-Sa’diyah. Sebelumnya, ia pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib, dan sesudahnya ia pernah menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi.” (Abu Nu’aim al-Asbihani, Dalail al-Nubuwwah [Beirut: Dar al-Nafais, 1986], j. I, h. 141)
Sebagai seorang ibu susuan pertama Nabi, tentu saja Tsuwaibah sangat dicintai oleh Nabi. Bahkan istri Nabi, Sayyidah Khadijah pun sangat mencintai Tsuwaibah. Ia terus dipenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari makanan hingga pakaian.
Pasca hijrah, Nabi pun tetap mengingat Tsuwaibah. Pada saat Tsuwaibah meninggal dunia, beliau sedang berada di tanah Khaibar. Nabi pun menanyakan kabar anak Tsuwaibah, yakni Masruh yang ternyata sudah meninggal sebelum Tsuwaibah. Dengan demikian, saat meninggal dunia, Tsuwaibah tidak memiliki keluarga biologis.
Meskipun tidak ada riwayat jelas tentang apakah Tsuwaibah beriman atau tidak, namun Imam Suyuthi menukil beberapa pendapat ulama yang menegaskan bahwa tidak ada perempuan yang menyusui Nabi kecuali ia masuk Islam. (Lihat: yarh Az-Zarqani, juz I halaman 258)
Kisah Tsuwaibah memberikan pelajaran pada kita bahwa sekecil apapun kebaikan seseorang, niscaya akan mendapatkan buah yang membahagiakan. Abu Lahab yang dipastikan masuk neraka mendapatkan keringanan siksa akibat membebaskan Tsuwaibah. Sebaliknya, Tsuwaibah sendiri sepanjang hidupnya senantiasa mendapatkan kebaikan dari Nabi meskipun hanya sebentar menyusui beliau. Wallahu a’lam bis shawab.
Editor:


