Dark
Light
Dark
Light

Kisah Tukang Nebeng Makan dan 2 Orang Temannya

Kisah Tukang Nebeng Makan dan 2 Orang Temannya

Makan merupakan aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan karena hal itu menjadi kebutuhan dasar manusia. Mengingat hal tersebut, Islam memberikan panduan terkait dengan makan, mulai dari hukum hingga adabnya. Di antara perilaku buruk terkait makan adalah nebeng makan di tempat orang tanpa izin. 

Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Adzkiya [Beirut: Daru Ihyail Ulum, 1990] halaman 235-236 mengisahkan, ada 3 orang yang berkawan dan sering nebeng makan pada orang lain. Biasanya mereka beraksi ketika ada acara resepsi pernikahan karena di sana mereka bisa menyantap makanan enak dengan cuma-cuma.

Suatu hari, salah seorang dari "kawanan makan gratis" ini mengadakan resepsi pernikahan anaknya. Dia sengaja tidak memberi kabar apalagi mengundang 2 orang temannya. Pasalnya, dia tahu kedatangan mereka berdua cuma untuk nebeng makan.

"Tentu saja ini bisa merugikan," pikirnya.

Ternyata kabar acara pernikahan ini terdengar juga oleh 2 orang kawannya itu. Di hari H, mereka sengaja berangkat lebih awal, tujuannya tentu saja bukan untuk membantu menyiapkan acara, tapi agar bisa menikmati hidangan lebih awal karena biasanya menunya masih lengkap.

"Gawat! Dari mana mereka bisa tahu acara ini?" gumamnya ketika melihat 2 orang kawannya sudah hadir lebih awal, padahal tamu-tamu yang lain belum datang.

Dia pun langsung memutar otak agar makanan yang disiapkan bisa steril dan tidak tersentuh oleh 2 orang temannya itu. Akhirnya ia mendapatkan ide dengan menempatkan mereka di ruangan atas yang diakses dengan tangga manual. Untuk naik ke ruangan tersebut, perlu membawa dan memasang tangga yang disimpan di tempat khusus.

"Ayo naiklah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, nanti aku siapkan hidangan khusus untuk kalian," ajaknya usai memasang tangga.

Saat keduanya sudah berada di ruangan atas, pemilik rumah yang juga teman mereka itu langsung melepas dan membawa kembali tangga ke tempat semula. Dengan begitu, tentu saja mereka berdua tidak bisa turun dan mengganggu makanan.

Melihat situasi sudah kondusif, tuan rumah mulai mengeluarkan hidangan untuk menyambut para tamu undangan dan tetangga. Singkat cerita, acara pun berjalan dengan lancar dan normal. Ketika para tamu sudah pulang, dia kembali memasang tangga agar 2 orang temannya bisa turun.

"Ayo turun!" teriaknya memanggil 2 temannya yang ada di ruangan atas. Ketika sudah turun, bukannya diberi makan, mereka berdua malah disuruh pulang.

Kisah ini memberikan pelajaran tentang pentingnya memiliki sensitivitas pada perasaan orang lain. Dalam melakukan sesuatu, terkadang kita lebih mementingkan urusan pribadi tanpa peduli dengan kondisi dan perasaan orang lain. 

Tukang nebeng makan, sebagaimana dalam kisah ini, tidak mau makanannya ditebeng oleh orang lain. Padahal dia sendiri sebelumnya sering melakukan hal yang sama. Jadi sebelum memperlakukan orang lain, kiranya perlu membayangkan kita sedang berada di posisi orang tersebut. 

Selain itu, kisah ini juga mengingatkan tentang sebuah istilah “siapa yang menanam dia yang akan menuai” yang diartikan dengan semua perbuatan pasti akan ada balasannya, baik di dunia apalagi kelak di akhirat.

Kebaikan yang dilakukan akan berbalik pada diri sendiri, begitu pun dengan keburukan. Untuk itu, sebaiknya kita berusaha untuk istiqamah dalam menebarkan kebaikan kepada siapa pun karena hal itu akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan yang lebih dan terkadang tidak terduga sebelumnya. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo