Arina.id - Beliau lebih dikenal dengan sapaan Sahabat Tamim ad-Dari, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki nama lengkap Abu Ruqayyah Tamim bin Aws bin Kharijah bin Sawd bin Jazimah al-Lakhmi al-Filastini.
Ia berasal dari kabilah Lakhm, salah satu suku besar keturunan Ya’rub bin Qahtan, yang termasuk dalam silsilah bangsa Arab Selatan (Arab Qahtaniyah).
Suku ad-Dar, tempat sahabat Tamim berasal, merupakan salah satu cabang dari kabilah Lakhm. (Ad-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’ (Beirut; Muassasah ar-Risalah,1985) juz 2 hal.442)
Sebelum memeluk Islam, sahabat Tamim ad-Dari merupakan seorang penganut agama Nasrani. Ia masuk Islam ketika Rasulullah SAW telah berada di Madinah. Keislamannya sempat menggemparkan masyarakat Madinah, karena ia membawa sebuah kisah yang menarik yakni perjumpaanya dengan Dajjal.
Karena kisah yang dibawa sahabat Tamim begitu menggemparkan dan penting, Rasulullah SAW mengumpulkan penduduk Madinah di masjid. Di sana, beliau menceritakan kembali kisah Tamim sebagai penguat dari informasi yang sebelumnya telah beliau sampaikan tentang Dajjal.
Kisah ini terekam rapi dalam Kitab Shahih Muslim, dalam bab Qishshatu al-Jassasah. Saat itu, Rasulullah SAW sedang berada di atas mimbar, lalu beliau bersabda:
أَتَدْرُونَ لِمَ جَمَعْتُكُمْ؟
“Apakah kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian?”
Para jamaah yang hadir saat itu pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu Rasulullah SAW bersabda bahwa alasan beliau mengumpulkan penduduk Madinah adalah karena sahabat Tamim ad-Dari telah masuk Islam dan menceritakan kisah perjumpaannya dengan Dajjal.
إِنِّي وَاللَّهِ مَا جَمَعْتُكُمْ لِرَغْبَةٍ وَلَا لِرَهْبَةٍ، وَلَكِنْ جَمَعْتُكُمْ لِأَنَّ تَمِيمًا الدَّارِيَّ كَانَ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا، فَجَاءَ فَبَايَعَ وَأَسْلَمَ، وَحَدَّثَنِي حَدِيثًا وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ مَسِيحِ الدَّجَّالِ.
"Sesungguhnya demi Allah, aku tidak mengumpulkan kalian karena suatu keinginan atau rasa takut. Tapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad-Dari yang dulunya adalah seorang Nasrani, lalu ia datang, berbaiat, masuk Islam, dan menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sejalan dengan apa yang selama ini aku ceritakan kepada kalian tentang Dajjal."
Lantas Rasulullah mulai menceritakan kisah perjumpaan sahabat Tamim dengan dajjal.
***
Suatu ketika sahabat tamim berlayar bersama 30 orang lainnya. Mereka terombang-ambing di laut selama sebulan penuh hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau.
Di sana, mereka bertemu dengan makhluk aneh berbulu lebat, saking lebat bulunya sampai-sampai mereka tidak bisa membedakan mana depan dan mana belakang tubuhnya.
Makhluk itu berkata, “Aku adalah al-Jassasah.” Lalu ia menyuruh mereka pergi ke sebuah bangunan tua (biara) untuk menemui seseorang yang ingin tahu berita tentang manusia.
Mereka pun pergi dan menemukan seorang laki-laki yang tubuhnya sangat besar, sedang dirantai sangat kuat. Tangannya diikat ke leher dan kakinya dibelenggu. Ia adalah Dajjal.
Dajjal kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepada rombongan sahabat Tamim Ad-Dari. Pertama, ia bertanya perihal apakah pohon kurma di daerah Baisan masih berbuah. Mereka menjawab bahwa pohon-pohon itu masih berbuah. Dajjal pun menanggapi bahwa kelak pohon-pohon tersebut tidak akan berbuah lagi.
Kedua, ia bertanya apakah Danau Tiberias masih memiliki air. Mereka menjawab bahwa airnya masih banyak. Dajjal lalu menanggapi bahwa suatu saat danau itu akan mengering.
Ketiga, ia menanyakan tentang mata air di Zughar, apakah ia masih mengalir. Mereka menjawab bahwa airnya masih mengalir. Dajjal pun menegaskan bahwa nantinya mata air itu juga akan mengering.
Terakhir, Dajjal bertanya apakah Nabi terakhir sudah muncul (Nabi Muhammad SAW). Mereka menjawab bahwa Nabi itu telah keluar dari tanah kelahirannya Makkah dan sekarang tinggal di Madinah. Mendengar itu, Dajjal berkata bahwa siapa saja yang mengikuti Nabi tersebut akan mendapatkan keselamatan.
Setelah Dajjal selesai mengajukan pertanyaan-pertanyaan, ia kemudian memperkenalkan dirinya kepada rombongan Tamim Ad-Dari.
وَإِنِّي مُخْبِرُكُمْ عَنِّي، إِنِّي أَنَا الْمَسِيحُ، وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ يُؤْذَنَ لِي فِي الْخُرُوجِ، فَأَخْرُجَ فَأَسِيرَ فِي الْأَرْضِ، فَلَا أَدَعُ قَرْيَةً إِلَّا هَبَطْتُهَا فِي أَرْبَعِينَ لَيْلَةً، غَيْرَ مَكَّةَ وَطَيْبَةَ، فَهُمَا مُحَرَّمَتَانِ عَلَيَّ كِلْتَاهُمَا.
“Aku akan memberitahu kalian tentang diriku. Sesungguhnya aku adalah Al-Masih (Dajjal). Sebentar lagi aku akan diizinkan untuk keluar (menyebar ke seluruh bumi). Aku akan berjalan ke berbagai tempat dan tidak akan melewati satu pun desa kecuali aku akan memasukinya dalam waktu empat puluh malam. Kecuali Makkah dan Thaybah (Madinah), karena keduanya diharamkan bagiku untuk memasukinya.”
Dari pertemuan itu, Tamim Ad-Dari mendapat hidayah. Ia pun pergi ke Madinah, menemui Rasulullah SAW, lalu memeluk Islam dan menceritakan sendiri pengalaman yang ia alami. Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, menambah keyakinan tentang keberadaan Dajjal dan akan datangnya hari kiamat, sehingga kita bisa lebih siap dan semangat dalam beribadah. Wallahu a’lam.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor:


