Arina.id - Film Thaghut menceritakan tentang masyarakat desa yang mengikuti ajaran sesat seorang praktisi spiritual yang bernama Abah Mulya (Whani Darmawan) yang ternyata bersekutu dengan setan. Sejak kematian Abah Mulya yang misterius, masyarakat setempat kehilangan sosok yang mereka puja selama ini hingga anaknya yang bernama Ainun (Yasmin Napper) didatangkan untuk menggantikannya.
Ainun datang bersama dua temannya yakni Bagas (Arbani Yasiz) dan Rini (Ria Ricis) untuk mengantarkan pemakaman ayahnya. Setelah menginap beberapa hari, Bagas menyadari jika ada yang aneh dengan padepokan ayah Ainun dan desa yang ditinggalinya.
Desa itu tidak ada adzan yang dikumandangkan dan tidak ada sholat jamaah yang didirikan. Bahkan Lingga (Dennis Adhiswara) melarang Bagas untuk melakukannya dan mengatakan jika ingin sholat, maka silahkan sholat sendiri.
Bagas menyadari keanehan yang dia rasakan hingga dia betemu dengan putra Abah Mulya yang bernama Rahmat (Keanu Azka). Rahmat pun mengatakan bahwa jika Bagas ingin mengetahui apa yang salah di desa ini, maka dia harus mengumandangkan adzan.
Kemudian Bagas mengumandangkan adzan Subuh di mushalla yang sudah lama tidak difungsikan. Sontak, banyak masyarakat yang terganggu, bahkan kesakitan, dan telinganya berdarah.
Adzan memang menjadi salah satu cara untuk mengusir gangguan makhluk halus seperti bangsa jin dan gangguan setan, sebagaimana dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Ibnu Juraij dari Sa’id bin Abi Waqash berikut:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: "إِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمُ الْغِيلَانُ فَأَذِّنُوا".
Artinya: "Dari Sa’id bin Abi Waqash berkata aku pernah mendengar Rasulullah bersabda “jika kalian diganggu makhluk halus maka adzanlah”. (al-Mushannaf, no. 9582.).
Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabarani dari Abu Hurairah yang secara jelas menyinggung azan sebagai tameng dari gangguan setan sebagai berikut:
إِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمْ الغَيْلَانُ فَنَادَوْا بِالأَذَانِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ أَدْبَرَ وَلَهُ حُصَّاصٌ
Artinya: "Jika kalian diganggu makhluk halus maka adzanlah, karena setan ketika mendengar adzan mereka menyingkir dan berlari terbirit-birit." (Kanzul Ummal, no. 17497.).
Imam al-Munawi menjelaskan alasan setan berlari ketika mendengarkan adzan sebagaimana berikut:
وإنما كان الشيطان ينفر منه لأنه جامع لعقيدة الإيمان مشتمل على نوعية العقليات والسمعيات لأنه ابتدأ أولا بالذات وما يستحقه من الكمال بقوله الله أكبر. ثم أثبت الوحدانية ونفى ضدها من الشرك ثم أثبت الرسالة ثم دعا إلى الصلاة وجعلها عقب إثبات الرسالة إذ معرفة وجوبها من جهته لا من جهة العقل. ثم دعا إلى الفلاح وهو الفوز والبقاء في النعيم الدائم وفيه إشعار بأمور الآخرة من بعث وجزاء وذلك كله متضمن لتأكيد الإيمان ومزيد الإيقان فلذلك نفر منه الشيطان
Artinya: Setan berlari ketika mendengar adzan karena adzan mengandung seluruh akidah keimanan dan bermacam dalil aqli dan sama’i, karena adzan dibuka dengan nama Dzat yang berhak atas segala kesempurnaan dengan kata Allahu Akbar. Kemudian menetapkan ke-Esa-an dan menafikan kemusyrikan, lalu menetapkan kerasulan, setelah itu mengajak untuk melaksanakan sholat sebagai manifestasi bahwa kewajiban sholat diketahui dari rasul bukan dari akal. Kemudian mengajak kepada kemenangan yakni kebahagiaan dan keabadian dalam kenikmatan dan terdapat beberapa indikasi tentang akhirat terkait kebangkitan dan pembalasan yang bisa memperkuat keimanan dan menambah keyakinan. Oleh karena itu setan berlari ketika mendengarnya." (Abdurrauf al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir: Al-Tijariyah a-Kubra], juz 1, hal. 318.).
Adzan juga disunnahkan ketika melihat orang lain dalam keadaan kebingungan, atau kesurupan sebagaimana berikut:
كما في أذن المهموم أي لأن همه يزول بالأذان، ولو لم يزل بمرة طلب تكريره. وكذا يقال في الذي بعده. قوله: والمصروع أي من الجن. فإذا أذن في أذنه يزول عنه صرعه ويذهب عنه الجن.
Artinya: "Seperti azdan di telinga orang yang kebingungan, karena kebingungannya akan hilang sebab adzan, dan boleh diulang-ulang jika belum hilang dengan sekali adzan. Begitu juga di telinga orang kesurupan jin, ketika telinganya diadzani, gangguan jin akan hilang." (Sayyid Bakri Syatha, I’anatut Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, 1997], juz 1, hal. 267.).
Bahkan Sayyid Bakri juga mencatat doa dan pengobatan mujarab yang berhubungan dengan adzan untuk menyembuhkan seseorang dari gangguan jin sebagai berikut:
فائدة من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر من لو أنزلنا هذا القرآن إلى آخرها، وآخر سورة الصافات من قوله فإذا نزل بساحتهم إلى آخرها.
Artinya: "Dari Syekh al-Syanwani, salah satu car mujarab untuk mebakar jin adalah adzan di telinga orang kesurupan 7 kali, kemudian membaca al-Fatihah 7 kali, lalu al-Falaq, al-Naas, Ayat Kursi, al-Thariq, dan akhir surat al-Hasyr, dan juga akhir surat al-Shaffat". (I’anatut Thalibin, juz 1, hal. 267.).
Walhasil, adzan memang bisa digunakan untuk mengusir gangguan jin dan setan yang mengganggu suatu daerah atau seseorang yang sedang kesurupan dengan dalil hadits Nabi dan juga beberapa catatan para ulama. Adzan mengandung beberapa ajaran keimanan Islam dan ajakan untuk sholat yang tidak disukai oleh setan, dan melakukan adzan ketika terjadi hal seperti itu adalah sunnah. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


