4 Hal yang Perlu Dilakukan Calon Jemaah Haji menurut Al-Ghazali

4 Hal yang Perlu Dilakukan Calon Jemaah Haji menurut Al-Ghazali

Arina.id - Berangkat haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual yang memerlukan kesiapan jiwa dan raga. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin (Darul Arqam, 2016: juz 1, h. 334-335) menjelaskan, setidaknya ada 4 hal yang perlu dilakukan oleh calon jemaah haji, yaitu sebagaimana berikut:

1. Persiapan Lahir Batin

Persiapan lahir batin sebelum berangkat haji sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Seorang calon haji sebaiknya memulai dengan bertobat, melunasi utang, mengembalikan amanah, dan menyiapkan nafkah bagi keluarga yang ditinggal hingga ia kembali. Bekal yang dibawa hendaknya berasal dari harta yang halal dan cukup untuk perjalanan, serta disertai niat membantu sesama dan bersedekah sebelum berangkat, sebagai tanda kesiapan spiritual dan sosial. Imam Al-Ghazali menjelaskan:

يَنْبَغِي أَنْ يَبْدَأَ بِالتَّوْبَةِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ وَقَضَاءِ الدُّيُونِ وَإِعْدَادِ النَّفَقَةِ لِكُلِّ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ إِلَى وَقْتِ الرُّجُوعِ، وَيَرُدَّ مَا عِنْدَهُ مِنَ الْوَدَائِعِ، وَيَسْتَصْحِبَ مِنَ الْمَالِ الْحَلَالِ الطَّيِّبِ مَا يَكْفِيهِ لِذَهَابِهِ وَإِيَابِهِ مِنْ غَيْرِ تَقْتِيرٍ بَلْ عَلَى وَجْهٍ يُمْكِنُهُ مَعَهُ التَّوَسُّعُ فِي الزَّادِ وَالرِّفْقُ بِالضُّعَفَاءِ وَالْفُقَرَاءِ، وَيَتَصَدَّقُ بِشَيْءٍ قَبْلَ خُرُوجِهِ، فَإِنِ اكْتَرَى فَلْيُظْهِرْ لِلْمُكَارِي كُلَّ مَا يُرِيدُ أَنْ يَحْمِلَهُ مِنْ قَلِيلٍ أَوْ كَثِيرٍ لِيَحْصُلَ رِضَاهُ فِيهِ

Artinya, “Seseorang sebaiknya memulai dengan bertobat, mengembalikan hak orang lain yang pernah ia zalimi, melunasi utangnya, dan menyiapkan nafkah bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya hingga waktu ia kembali. Ia juga harus mengembalikan barang titipan yang ada padanya, serta membawa bekal dari harta yang halal dan baik secukupnya untuk perjalanan pergi dan pulang, bukan dengan cara pelit, tetapi dengan kelapangan yang memungkinkan ia memperbanyak bekal serta berbuat baik kepada orang-orang lemah dan fakir.

“Ia juga disunnahkan bersedekah sebelum berangkat. Jika ia menyewa kendaraan atau jasa angkut, hendaknya ia tunjukkan terlebih dahulu semua barang yang ingin dibawanya, sedikit maupun banyak, agar si penyewa merasa ridha dan tidak keberatan.”

2. Memilih Teman Saleh

Dalam perjalanan haji, dianjurkan untuk memilih teman yang saleh, cinta kebaikan, dan dapat saling membantu dalam ketaatan. Ia akan mengingatkan saat lalai, menyemangati saat lemah, menguatkan saat tak berdaya, dan menenangkan saat gelisah. Sebelum berangkat, hendaknya berpamitan kepada kerabat, sahabat, serta tetangga, sambil memohon doa dari mereka demi kelancaran dan keberkahan perjalanan. Al-Ghazali menjelaskan:

يَنْبَغِي أَنْ يَلْتَمِسَ رَفِيقًا صَالِحًا مُحِبًّا لِلْخَيْرِ مُعِينًا عَلَيْهِ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ، وَإِنْ جَبُنَ شَجَّعَهُ، وَإِنْ عَجَزَ قَوَّاهُ، وَإِنْ ضَاقَ صَدْرُهُ صَبَّرَهُ، وَيُوَدِّعَ رُفَقَاءَهُ الْمُقِيمِينَ وَإِخْوَانَهُ وَجِيرَانَهُ، فَيُوَدِّعُهُمْ وَيَلْتَمِسُ أَدْعِيَتَهُمْ

Artinya, “Seseorang sebaiknya mencari teman perjalanan yang saleh, mencintai kebaikan, dan dapat membantunya dalam berbuat baik. Jika ia lupa, temannya akan mengingatkan; jika ia ingat, temannya akan membantunya; jika ia merasa takut, temannya akan menyemangatinya; jika ia lemah, temannya akan menguatkannya; dan jika ia merasa sempit hati, temannya akan menghiburnya. Hendaknya pula ia berpamitan kepada sahabat-sahabatnya yang tinggal, saudara-saudaranya, dan tetangganya, serta meminta doa-doa mereka.”

3. Melaksanakan Shalat Safar

Sebelum memulai perjalanan, calon jamaah dianjurkan melaksanakan shalat safar sebanyak dua rakaat. Rakaat pertama mambaca surat Al-Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas. Selesai salam, Disunnahkan membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ وَالْأَصْحَابِ، احْفَظْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ كُلِّ آفَةٍ وَعَاهَةٍ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي مَسِيرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ

Allahumma anta ash shahibu fis safar wal khalifatu fil ahli wal mali wal waladi wal ashab Ihfazhna wa iyyahum min kulli afatin wa ‘ahah. Allahumma inna nas aluka fi masirina hadzal birra wat taqwa wa minal ‘amali ma tardha. Allahumma inna na’udzu bika min wa’tha’is safar wa kaabatil munqalab wa suu’il mandzari fil ahli wal mali wal walad

Artinya, “Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pelindung bagi keluarga, harta, anak-anak, dan para sahabat. Lindungilah kami dan mereka dari segala bencana dan penyakit. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, duka saat kembali, dan segala hal yang tidak menyenangkan menimpa keluarga, harta, atau anak-anak kami.”

4. Membaca Doa Perjalanan

Ketika selesai berdoa selepas shalat safar, begitu tiba di pintu rumah saat hendak keluar, dianjurkan membaca doa berikut:

 بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ، اللَّهُمَّ إِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشَرًا وَلَا بَطَرًا وَلَا رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً بَلْ خَرَجْتُ اتِّقَاءَ سُخْطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ وَقَضَاءَ فَرْضِكَ وَاتِّبَاعَ سُنَّةِ نَبِيِّكَ

Bismillah tawakkaltu ‘alallāh lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh. Rabbi a’ūdzu bika an adhillla aw udhalla aw azilla aw uzalla aw azhlima aw uzhlama aw ajhala aw yujhala ‘alayya. Allahumma innī lam akhruj asyaran wa lā batharan wa lā riā’an wa lā sum’atan bal kharajtu ittiqā’a sukhtika wabtighā’a marḍātika wa qaḍā’a farḍika wattibā’a sunnati nabiyyika

Artinya, “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan atau menyesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzalimi atau dizalimi, bersikap bodoh atau dibodohi. Ya Allah, sesungguhnya aku keluar bukan karena kesombongan, keangkuhan, riya, atau mencari pujian. Tetapi aku keluar demi menghindari murka-Mu, mengharap ridha-Mu, menunaikan kewajiban-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu.”

Demikianlah nasihat Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin mengingatkan kita bahwa haji bukan sekadar ritual, tetapi momen penyucian diri yang utuh. Persiapan lahir batin, memilih teman saleh, menjaga adab safar, serta mengamalkan doa-doa perjalanan adalah bagian dari membangun spiritualitas haji. Dengan meneladani bimbingan ini, semoga perjalanan haji menjadi lebih bermakna dan diterima sebagai amal yang diridhai Allah.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo