Arina.id - Saat berangkat haji, terdapat sejumlah adab yang harus diperhatikan untuk memastikan perjalanan ibadah berjalan dengan lancar, baik, dan penuh berkah. Salah satunya adalah menjaga niat dan hati agar tetap fokus pada tujuan utama, yakni meraih haji yang mabrur.
Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adilatuhu (Darul Fikr, 1985: juz 3, h. 247-250), setidaknya ada 5 adab penting yang harus dilakukan saat berangkat haji agar perjalanannya lancar dan diberkahi, yaitu sebagaimana berikut:
1. Mencari Teman yang Baik
Selama melaksanakan ibadah haji, kita dituntut menjaga hati dan meluruskan niat demi meraih haji yang mabrur. Salah satu caranya adalah menjaga pergaulan selama perjalanan. Karena itu, sangat dianjurkan mencari teman yang saleh,yang mengingatkan kita kepada Allah, membantu dalam kebaikan, serta menjauhkan dari perbuatan yang dimurkai dan tidak diridhai oleh-Nya. Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
يَنبَغِي أَنْ يَطْلُبَ لَهُ رَفِيقًا مُوَافِقًا، رَاغِبًا فِي الْخَيْرِ، كَارِهًا لِلشَّرِّ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ. وَيَحرِصَ عَلَى رِضَا رَفِيقِهِ فِي جَمِيعِ طَرِيقِهِ، وَيَتَحَمَّلَ كُلُّ وَاحِدٍ صَاحِبَهُ، وَيَرَى لِصَاحِبِهِ عَلَيْهِ فَضْلًا وَحُرْمَةً، وَلَا يَرَى ذَلِكَ لِنَفْسِهِ، وَيَصْبِرَ عَلَى مَا وَقَعَ مِنْهُ أَحْيَانًا مِنْ جَفَاءٍ وَنَحْوِهِ.
Artinya, “Seseorang sepatutnya mencari teman seperjalanan yang sejalan dengannya, mencintai kebaikan dan membenci keburukan. Jika ia lupa, temannya mengingatkan; dan jika ia ingat, temannya membantunya. Ia hendaknya menjaga keridhaan temannya dalam setiap langkah perjalanan, saling menanggung beban satu sama lain, serta memandang temannya memiliki keutamaan dan kehormatan atas dirinya—bukan sebaliknya. Ia juga bersabar atas sikap kasar atau semisalnya yang terkadang terjadi dari temannya.”
2. Fokus Beribadah
Agar memperoleh pahala dan pencapaian spiritual yang maksimal, saat melaksanakan ibadah haji kita dianjurkan untuk fokus sepenuhnya dalam beribadah tanpa terdistraksi oleh urusan duniawi. Oleh karena itu, sebelum berangkat, sebaiknya kita menyelesaikan berbagai keperluan dunia agar tidak mengganggu kekhusyukan hati dan pikiran selama menjalankan rangkaian ibadah haji dengan ikhlas dan penuh penghayatan. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَفَرَّغَ لِلْعِبَادَةِ، خَالِيًا عَنِ التِّجَارَةِ؛ لِأَنَّهَا تُشْغِلُ الْقَلْبَ، فَإِنِ اتَّجَرَ مَعَ ذَلِكَ صَحَّ حَجُّهُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ﴾ [البقرة: ١٩٨]، وَيُرِيدَ بِعَمَلِهِ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى، لِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: ﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾ [البينة: ٥]، وَقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya, “Dianjurkan agar seseorang menyibukkan diri sepenuhnya untuk ibadah, tanpa disibukkan oleh urusan dagang, karena perdagangan bisa melalaikan hati. Namun, jika ia tetap berdagang dalam waktu itu, hajinya tetap sah, berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu” (QS al-Baqarah: 198). Ia harus meniatkan semua amalnya semata-mata untuk mengharap ridha Allah Ta‘ala, sebagaimana firman-Nya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas menjalankan agama-Nya” (QS al-Bayyinah: 5), dan sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
3. Melaksanakan Sholat Safar
Agar diberi keselamatan dan keberkahan dalam perjalanan, kita juga dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah safar sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun dan rakaat kedua membawa Al-Ikhlash. Setelah salam, dianjurkan membaca Ayat Kursi, surat Al-Quraisy, Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas.
Selanjutnya, dengan penuh kekhusyukkan meminta kepada Allah agar diberi keselamatan dalam perjalanan. Ketika selesai berdoa dan berdiri, dianjurkan membaca doa sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، اللَّهُمَّ اكْفِنِي مَا أَهَمَّنِي وَمَا لَمْ أَهْتَمْ بِهِ، اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي
Allahumma ilayka tawajjahtu, wa bika i‘taṣamtu, Allahummakfini mā ahammanī wa mā lam ahtam bih, Allahumma zawwidnī at-taqwā, waghfir lī dzanbī.
Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu aku menghadapkan diri, dan kepada-Mu aku berlindung. Ya Allah, cukupkanlah aku dari perkara-perkara yang membuatku khawatir maupun yang belum sempat kupikirkan. Ya Allah, bekalilah aku dengan ketakwaan, dan ampunilah dosaku.”
4. Doa Keluar Rumah
Ketika keluar dari rumah, dianjurkan membaca doa sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.
Allahumma innī a‘ūdzu bika min an aḍilla aw uḍalla, aw azilla aw uzalla, aw aẓlima aw uẓlama, aw ajhala aw yujhala ‘alayya.
Artinya, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyesatkan orang lain atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzalimi atau dizalimi, bersikap bodoh atau diperlakukan bodoh oleh orang lain.”
بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Bismillāh, tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Artinya, “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Selain doa, agar diberi keselamatan selama perjalanan, kita juga dianjurkan untuk bersedekah sebelum berangkat. Dalam praktiknya, biasanya seorang jamaah haji mengakadakan walimah safar, yaitu semacam syukuran dengan menyajikan makanan dan mengundang sanak saudara dan tetangga untuk menikmati bersama sekaligus berdoa untuk kelancaran ibadah.
5. Doa Naik Kendaraan
Saat naik kendaraan, entah itu mobil yang mengantar ke asrama haji, ke bandara, ataupun pesawat menuju Tanah Suci, kita dianjurkan membaca doa berikut:
سُبْحَانَكَ، اللهم إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبَرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اللهم هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهم أَنتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ وَالْمَالِ. اللهم إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمُنْقَلِبِ، وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ.
Subḥānakallāhumma innī ẓalamtu nafsī, faghfir lī, fa’innahu lā yaghfiru ad-dhunūba illā Anta. Allāhumma innā nas’alu-ka fī safarinā hādhā al-birra wat-taqwā, wa-min al-‘amali mā tuḥibbu wa tarḍā, Allāhumma hawwin ‘alaynā safaranā waṭwi ‘annā bu‘dahu, Allāhumma Anta as-ṣāḥibu fī as-safar, wal-khalīfatu fī al-ahlī wal-māl. Allāhumma innā na‘ūdhu bika min wa‘thā’i as-safar wa kāābati al-munqalib, wa sū’i al-manẓari fī al-ahlī wal-māli wal-walad.
Artinya, “Mahasuci Engkau, ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti di keluarga dan harta kami. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesedihan dalam perjalanan pulang, dan buruknya pandangan terhadap keluarga, harta, dan anak-anak kami.”
Dengan memperhatikan adab-adab yang telah disebutkan, perjalanan haji kita akan menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan. Menjaga niat, memilih teman yang baik, serta berdoa dengan sungguh-sungguh akan membantu kita mencapai tujuan utama ibadah haji, yaitu meraih haji yang mabrur. Semoga setiap langkah kita diberkahi dan dihimpun dalam kebahagiaan serta kedamaian dalam perjalanan spiritual ini.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


