Paul Pobga bermain luar biasa. Dia seperti tak kehabisan tenaga. Posisinya sebagai gelandang membuat dia menjelajahi lapangan selama 90 menit. Hebatnya lagi, bola yang disundulnya berbuah gol. Malam itu dalam laga leg pertama semifinal Liga Europa, musim 2020-21, Manchester United menang besar atas tamunya, AS Roma asal Italia. Skornya, 6-2.
Tidak ada yang tahu saat itu Pogba, muslim asal Prancis -- tengah berpuasa. Sampai akhirnya, reporter BT Sports, Reshmin Chowdhury menceritakannya di media sosialnya. Dalam wawancaranya, Pogba ditanya cara dia tetap berpuasa di saat harus bertanding. “Paul menatap ke langit sambil menunjukkan telunjuknya, ‘Allah menolong kami’,” katanya.
Bukan hanya Pogba yang bisa melakukan itu. Karim Benzema, bekas penyerang bintang Real Madrid, juga dikenal sebagai seorang muslim yang taat yang berhasil mempertahankan penampilannya di level teratas saat berpuasa. Pemain lainnya, Sadio Mané, Mohamed Salah, Achraf Hakimi, N'Golo Kanté termasuk di antara pesepakbola papan atas yang tetap berpuasa selama pertandingan.
Pada saat Ramadan, tentu saja pekerjaan para pemain sepak bola itu jadi berat. Di satu sisi, mereka tetap menjalankan ibadah tapi sebagai pemain profesional – apa pun keadaannya, meski dalam keadaan tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam mereka harus tetap bermain bagus di lapangan.
Rayan Ait-Nouri, 23 tahun, pemain Wolverhampton yang bermain di Liga Primer, mengaku berat bermain pada saat perut kosong. Namun sebagai seorang muslim, Ait Nouri tetap menjalani ibadah puasa. “Sudah cukup sulit untuk bermain melawan pemain terbaik saat Anda tidak berpuasa, apalagi saat Anda berpuasa,” katanya pada TheNationalNews, pertengahan Februari silam.
Dari pengalamannya, untuk tetap menjaga kondisi tubuhnya -- pemain yang membela Aljazair ini, mencoba minum banyak air dan makan di malam hari. “Selain itu, saya mencoba berbicara dengan pemain lain yang juga berpuasa sehingga kami dapat saling mendukung.”
Pihak klub tentu mendukung para pemain muslimnya. Terutama dalam soal medis. Kepala tim medis klub Crystal Palace, Dr. Zafar Iqbal, menjelaskan pihaknya melakukan banyak perubahan dalam soal nutrisi para pemainnya yang menjalani ibadah puasa.
"Tentu saja, ibadah puasa ini menghadirkan tantangan untuk atlet profesional termasuk pemain sepak bola. Mereka harus tetap berlatih dengan giat dan juga mengoptimalkan performa, hidrasi, nutrisi, tidur, latihan, dan pemulihan," katanya.
Untuk itu, selama bertahun-tahun, Iqbal selalu menyiapkan bagan diet yang dibuat khusus untuk setiap pemain saat Ramadan tiba. Bekerja sama dengan ahli gizi klub, satu hal yang paling diperhatikan adalah soal asupan karbohidrat pada saat para pemain berbuka puasa.
“Saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan pada siang hari, makanan yang berlebih di dalam tubuh dan tidak digunakan akan disimpan sebagai lemak," jelasnya.
Untuk itu, Iqbal harus bertindak tegas. Dia pun dengan ekstra hati-hati memastikan makanan itu benar-benar aman untuk para pemainnya. "Satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan memastikan mereka mengonsumsi jenis makanan yang tepat," katanya.
Alhamdulillah, kata Iqbal, para pemain pun mengikuti pola makan yang diterapkannya. Sebabnya, mereka sadar aturan itu tak lain untuk kepentingannya sendiri. Tidak hanya itu, Iqbal juga menyatakan selain soal gizi – ternyata tak sedikit dari para pemain yang memang benar-benar mempersiapkan fisiknya dengan baik.
Satu yang disebutnya adalah beberapa pemain yang menambahkan hari puasa ke dalam jadwal mereka sebelum Ramadan tiba. “Sehingga tubuh mereka dapat menyesuaikan diri saat harus bermain pada bulan Ramadan,” katanya.
Bermain bola di saat berpuasa, seperti pengalaman Pogba dan pemain lainnya, tak lantas membuat mereka kehilangan tenaga atau kehebatan di lapangan. Rupanya, puasa memiliki aspek mental dan spiritual yang signifikan. Pemain sepak bola yang berpuasa umumnya cukup termotivasi untuk bermain dan jarang tampil di bawah level biasanya.
Sehingga tak ada alasan bagi mereka untuk membatalkan puasa pada saat pertandingan digelar. “Saya menjalankan agama saya setiap hari dengan berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberi saya semua yang saya miliki,” kata Rayan Ait-Nouri.
Begitulah. Juergen Klopp, saat menangani Liverpool pun menghadapi para pemainnya yang tetap memilih berpuasa meski harus turun bermain. "Dalam hidup ini, ada banyak hal yang lebih penting daripada sepak bola," kata.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


