Dark
Light
Dark
Light

Lupa Sahur, Tetap Lanjut Puasa atau Batalkan Saja?

Lupa Sahur, Tetap Lanjut Puasa atau Batalkan Saja?

Arina.id - Puasa secara etimologi diartikan menahan diri (imsak) dari perbuatan dan bicara. Sedangkan secara syara' adalah menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. Memasuki separoh bulan Sya'ban, sebagian umat Islam meningkatkan ibadah  seperti berpuasa untuk menyambut Nisfu Sya'ban dan Ramadhan.

Umumnya, ibadah puasa dipersiapkan secara matang, sejak sebelum memasuki waktu sahur. Akan tetapi kadang ada yang tidak sempat sahur karena tertidur lelap. Akhirnya kondisi tubuh loyo dan stamina kurang prima.

Pertanyaannya, dalam kondisi tidak sahur, apa yang sebaiknya dilakukan? Apakah melanjutkan berpuasa atau dibatalkan saja?

Perhatikan keterangan kitab Sahih Muslim berikut ini:

 عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم يا عائشة هل عندكم شيء قالت فقلت يا رسول الله ما عندنا شيء قال فإني صائم قالت فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فأهديت لنا هدية أو جاءنا زور قالت فلما رجع رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت يا رسول الله أهديت لنا هدية أو جاءنا زور وقد خبأت لك شيئا قال ما هو قلت حيس قال هاتيه فجئت به فأكل ثم قال قد كنت أصبحت صائما

Artinya: "Riwayat dari Aisyah, ia menceritakan, suatu hari, Nabi Muhammad menemui kami, dan bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?‘ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan puasa. Aisyah mengisahkan, lalu Rasulullah pergi keluar, kemudian aku mendapatkan hadiah atau dikunjungi peziarah. Ketika Rasullullah pulang ke rumah, maka aku memberitahukan pada beliau: aku menyimpan sesuatu untuk engkau, wahai Rasulullah, beliau bertanya, apakah itu?, aku menjawab: makanan manis, Rasulullah berkata: berikan padaku, kemudian Nabi memakannya sembari berkata padahal aku mungkin masih kuat berpuasa." (HR. Muslim 8/ 221)

Hadits ini kemudian dijelaskan dalam kitab Asnal Matalib juz 5/281

 لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعَائِشَةَ يَوْمًا هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ قَالَتْ لَا قَالَ فَإِنِّي إذًا أَصُومُ قَالَتْ وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ قُلْت نَعَمْ قَالَ إذًا أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْت فَرَضْت الصَّوْمَ . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ

Artinya: "Sebab Nabi Muhammad suatu hari bertanya pada Aisyah, apakah engkau memilki makanan pagi? Aisyah menjawab tidak, Nabi berkata maka aku saat ini juga berpuasa, Aisyah berkata, pada suatu ketika di hari lain Nabi bertanya padaku: apakah engkau punya sesuatu untuk dimakan?, aku menjawab, iya. Nabi berkata, saat ini aku batalkan puasa meskipun aku yang mewajibkan puasa." (Daruqutni dan sanadnya sahih)

Dari keterangan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa jika seseorang yang tidak sahur, maka dipersilakan kepada yang bersangkutan, apakah masih kuat menjalani puasa ataukah tidak. Jika kuat berpuasa tanpa sahur, maka lebih baik dilanjutkan. Dan jika tidak kuat, lebih baik batalkan saja. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo