Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Relasi antara Hati dengan Tentaranya

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Relasi antara Hati dengan Tentaranya

Arina.id - KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil dalam sesi Ngaji Ihya Ulumuddin edisi keenam, memaparkan tentang relasi atau hubungan antara hati yang berperan sebagai raja, dengan tentara yang tak nampak sebagaimana telah diulas pada edisi sebelumnya. Imam Ghazali menerangkan, 2 tentara hati, yaitu kekuatan syahwat dan ghadab (marah) memiliki 2 kecenderungan. Pertama, keduanya tunduk pada hati sehingga mampu mengantarkannya kepada Allah. Kedua, keduanya melakukan tindakan indisipliner atau membangkangkan sehingga menjauhkan hati dari Allah.

Demikian dijelaskan Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 881, sebagaimana berikut:

اعلم : أن جندي الغضب والشهوة قد ينقادان للقلب انقياداً تاماً، فيعينه ذلك على طريقه الذي يسلكه وتحسن مرافقتهما في السفر الذي هو بصدده، وقد يستعصيان عليه استعصاء بغي وتمرد حتى يملكاه ويستعبداه، وفيه هلاكه وانقطاعه عن سفره الذي به وصوله إلى سعادة الأبد

Artinya: “Ketahuilah: Sesungguhnya dua tentara yaitu kekuatan marah dan kekuatan syahwat (dalam diri manusia), terkadang keduanya tunduk secara sempurna kepada hati, maka dia akan menolongnya dalam perjalanan yang sedang ditempuh dan menjadi teman baik dalam perjalanan tersebut. Terkadang keduanya juga memberontak dan membangkang hingga menguasai dan memperbudak hati. Dalam kondisi ini, terjadi kerusakan dan terputusnya hati dari perjalanan yang membawa kepada kebahagiaan abadi.”

Menurut Gus Ulil, tentara syahwat dan ghadab ini harus dikendalikan dengan baik, sebab jika tidak demikian keduanya akan melakukan tindakan indispliner. Misalnya, saat ini banyak terjadi kecenderungan agresif terhadap orang lain terlebih di media sosial, baik itu secara lisan, fisik, dan individual maupun sosial. Kecenderungan agresif ini adalah manifestasi dari tentara ghadab yang tidak terkontrol. Adapun manifestasi dari pemberontakan tentara syahwat adalah adanya konsumerisme tanpa batas, perilaku mengonsumsi yang berlebihan dan pada akhirnya akan merusak alam.

“Jadi tentara ini kalau bisa dikendalikan, dia bisa menjadi kekuatan yang positif, begitu dia melakukan desersi, melakukan tindakan indisipliner, maka dia bisa menjadi senjata makan tuan,” jelas Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Senin (9/12/2024).

Imam Ghazali kemudian menyebut tentara lain selain syahwat dan ghadab, yaitu akal yang mempunyai ilmu (pengetahuan), hikmah (kebijaksanaan), dan tafakkur (kontemplasi). Idealnya, hati meminta bantuan kepada akal karena dia adalah pasukan Allah yang bisa menangkis serangan serta pemberontakan dua pasukan setan, yaitu syahwat dan ghadab.

“Jadi, ini adalah pertarungan dalam diri kita yang terus terjadi antara kubu Tuhan dengan kubu setan,” tambah Gus Ulil.

Dalam pengajian ini, Gus Ulil menampilkan lukisan kaca yang menggambarkan pertarungan yang terjadi di dalam manusia. Dalam lukisan tersebut terlihat gambar kaligrafi berbentuk manusia sedang memegang bambu runcing, di setiap pojok gambar manusia tersebut tertulis empat nafsu, yaitu Amarah, Lawamah, Sawiyah, dan Muthma’innah.

“Kalau dalam kitab Ihya itu hanya ada tiga nafsu, tapi di sini ditambahkan satu jenis nafsu. Ini sebetulnya menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kitab-kitab seperti Ihya ini di dalam pemahaman masyarakat mengenai jiwa. Dan penggambaran soal peperangan dalam diri kita divisualisasikan dengan lukisan kaca semacam ini,” jelas Gus Ulil.

Gus Ulil mengungkapkan rasa penasarannya pada alasan Imam Ghazali menggambarkan pertarungan dalam diri manusia. Dugaan Gus Ulil, alasan Al-Ghazali menggambarkan adanya peperangan ini dilatarbelakangi sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa jihad paling besar adalah melawan hawa nafsu. Rasulullah bersabda:

رَجَعْنَا مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَي اْلجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا جِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قَالَ: جِهَادُ اْلقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ

Artinya: “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Sahabat bertanya: Apakah jihad besar itu? Nabi saw bersabda: Jihad hati atau jihad nafsu.”

Hadits ini, kata Gus Ulil, cukup populer di kalangan ahli tasawuf yang kemudian dijadikan sebagai satu dasar untuk menjelaskan tentang betapa di dalam diri manusia itu ada jihad yang jauh lebih penting dari jihad senjata atau jihad militer. Nah, karena hadits tersebut menggunakan istilah jihad yang selama ini sering dimaknai sebagai perang, maka sangat bisa difahami ketika Al-Ghazali menggunakan metafora tentara karena memang haditsnya sendiri menggambarkan jihad dalam diri manusia. Selanjutnya, jihad yang berlangsung dalam diri manusia ini digambarkan sebagai jihad yang jauh lebih utama.

“Jadi bisa dimaklumi kalau metafor tentara atau pasukan ini dipakai secara ekstensif atau berkali-kali oleh Al-Ghazali,” terang Gus Ulil.

Imam Ghazali menyatakan, banyak orang gagal mengendalikan kekuatan syahwat dan ghadab, pada akhirnya kekuatan tersebut memicu perilaku konsumtif dan agresif. Terjadinya kekalahan dalam menghadapi kekuatan syahwat dan ghadab ini adalah karena akal telah ditundukkan oleh keduanya, sehingga akal malah mencari alasan dan pembenaran untuk memuaskan keduanya. Padahal, seharusnya akal berperan dalam menundukkan syahwat dan ghadab.

Relasi Hati dan Tentaranya

Imam Ghazali kemudian memberikan perumpaan terkait relasi atau hubungan antara nafsu dengan tentara-tentaranya. Pengertian nafsu dalam konteks ini adalah jiwa atau kekuatan spiritual yang lembut, bukan nafsu dalam pengertian syahwat dan ghadab. Menurut Gus Ulil, pengertian nafsu dan hati dalam konteks ini mempunyai pengertian yang sama.

“Di sini, jiwa dan hati itu dipakai secara berganti-ganti oleh Al-Ghazali dalam pengertian yang kurang lebih sama. Al-Qalbu dan An-Nafsu dalam pengertian latifah, rabbaniyah, itu keduanya sama sebetulnya, dua-duanya raja dalam diri kita” ujar Gus Ulil.

Menurut Al-Ghazali, badan manusia itu diumpamakan seperti wilayah teritorial sebuah kerajaan dan rajanya adalah jiwa. Adapun kekuatan atau tentara yang tidak nampak, seperti marah, syahwat, akal, kognisi, dan sejenisnya itu diumpamakan seperti para pekerja yang menghamba kepada raja yang bernama jiwa (nafs) atau hati (qalb). 

Adapun kekuatan akal yang bisa melakukan tafakkur, diumpamakan seperti para menteri yang memberikan nasihat kepada raja (nafsu/hati) untuk membantunya dalam mengambil keputusan. Sebagaimana dibahas pada edisi sebelumnya, tafakkur berperan dalam menata atau menjahit data-data yang berserakan di dalam diri manusia.

“Ingat, ada lima proses bagaimana pengetahuan terbentuk dalam diri manusia, dimulai dari khayal, kemudian hifdzu, tafakkur, kemudian tadzakkur, dan terakhir hissul musytarak. Jadi kekuatan-kekuatan intelektual dalam diri kita itu adalah menteri-menteri bagi raja nafsu tadi,” tambah Gus Ulil.

Imam Ghazali juga mengumpamakan syahwat seperti seorang hamba yang punya tendensi buruk pada raja. Misalnya mendatangkan makanan yang bisa saja mengandung racun, cenderung berbohong, berbuat makar atau tipu daya, menentang menteri (akal), licik, bermuka dua dengan memberikan nasihat padahal di balik itu ada rencana jahat, dan sejenisnya. Adapun rasa marah diumpamakan seperti polisi yang tugasnya adalah menjaga keamanan karena rasa marah itu bisa berguna bagi badan seseorang ketika mendapat ancaman dari musuh.

“Jadi hamba berupa syahwat itu bermanfaat buat tubuh kita. Tubuh kita lapar, kita butuh syahwat untuk misalnya kita mencari makanan. Tapi kadang-kadang syahwat ini licik, dia menginginkan kita makan terus sampai kita melewati batas dan obesitas misalnya. Jadi syahwat itu licik, penuh dengan kejahatan sebetulnya, karena itu kita harus hati-hati,” tambah Gus Ulil.

Menurut Al-Ghazali, agar syahwat dan ghadab tidak menguasai jiwa (an-nafsu/al-qalb), akal yang berperan sebagai menteri perlu melakukan politik adu domba agar syahwat dan ghadab saling berseteru. Jika syahwat bergejolak tak terkendali, maka akal meminta bantuan kepada ghadab yang berperan sebagai polisi untuk mengontrolnya. Sebaliknya, jika ghadab memuncak, akal meminta bantuan kepada syahwat untuk mengontrolnya. Jika sudah demikian, jiwa manusia bisa menjadi stabil dan akhlaknya pun menjadi lebih baik.

“Kalau hati atau nafsu kita sebagai raja di dalam diri kita mampu melakukan itu semua, maka bisa menjadi tegak, menjadi seimbang kekuatan-kekuatan dari nafsu tadi, dan menjadi baik akhlaknya,” tambah Gus Ulil.

Dengan kata lain, sambung Gus Ulil, badan manusia diibaratkan seperti sebuah kerajaan. Dalam metafora ini, nafsu atau hati berperan sebagai raja, akal sebagai perdana menteri, syahwat dan ghadab sebagai hamba-hamba licik yang terkadang setia terkadang tidak. Untuk menciptakan situasi aman, tertib, dan kondusif di dalam kerajaan ini, seorang raja (an-nafsu / al-qalb) perlu mendengarkan nasihat perdana menteri (akal) dan menghindari godaan hamba-hambanya yang licik (syahwat dan ghadab). Jika seseorang tidak mampu menjalankan skema ini, dia akan masuk dalam kelompok orang yang termaktub di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: 

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ

Artinya: “Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya,” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Al-Ghazali menafsirkan ayat tersebut dalam kerangka metafora yang dibuat sebelumnya, yaitu tubuh manusia seperti sebuah kerajaan. Dalam ayat ini disebutkan bahwa ada orang yang disesatkan oleh Allah, yaitu orang yang menjadikan hawa nafsu, yaitu kekuatan syahwat dan ghadab, sebagai raja yang menguasai dirinya. Padahal, orang tersebut mempunyai akal yang sebelumnya diibaratkan Al-Ghazali seperti perdana menteri.

“Orang ini sebetulnya punya kekuatan akal, dia punya perdana menteri yang namanya kekuatan intelek, tapi tidak mau mendengarkan, yang didengarkan adalah saran-saran dari syahwat dan rasa marah tadi itu. Akhirnya, dia menjadikan kedua kekuatan tadi itu sebagai Tuhan. Sesatlah dia, negaranya menjadi hancur,” terang Gus Ulil.

Selain itu, Al-Ghazali juga mengutip firman Allah dalam Surat Al-A‘raf ayat 176, sebagaimana berikut: 

فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

Artinya: “Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia menjulurkan lidahnya (juga).” (QS. Al-A‘raf: 176)

Menurut Gus Ulil, ayat yang mengandung metafora anjing ini dikutip Al-Ghazali berkaitan dengan pembahasan yang akan dijelaskan pada bab berikutnya mengenai dua kekuatan yang destruktif dalam diri manusia, yaitu anjing dan babi. Penyebutan dua binatang ini, kata Gus Ulil, tidak bertujuan untuk merendahkan atau menjelekkan binatang. Metafora ini hanya untuk mempermudah pemahaman karena dua binatang ini sudah dipahami oleh masyarakat umum.

“Jadi kekuatan marah itu simbolnya adalah anjing, syahwat atau nafsu untuk mengkonsumsi secara eksesif tanpa kontrol, itu simbolnya babi,” ujar Gus Ulil.

Gus Ulil kemudian menjelaskan perbedaan tafsir dan ta’wil. Tafsir adalah penjelasan terhadap Al-Qur'an yang dilakukan sesuai dengan kaidah bahasa dan aturan yang lazim, bersifat literal atau harfiah, dengan fokus pada makna denotatif yang ada di permukaan teks. Adapun ta'wil biasanya menjelaskan pesan-pesan Al-Qur’an berdasarkan penjelasan yang metaforis dan menekankan makna batin.

“Di dalam Ihya ini sebetulnya setiap Al-Ghazali mengutip ayat Al-Qur’an di dalam kerangka penjelasan dia, berkali-kali kita melihat contoh tafsir yang dalam kategori ta'wil tadi itu,” imbuh Gus Ulil.

Sebaliknya, seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dia akan mendapatkan surga. Allah berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ [٤٠] فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ [٤١ 

 Artinya: “Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya). (QS An-Naba: 40-41)

Dikatakan Gus Ulil, surga dalam ayat tersebut dimaknai dengan ketenangan batin. Dengan demikian, orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya akan mendapatkan ketenangan batin. Di akhir pembahasan, Al-Ghazali menerangkan bahwa cara untuk memerangi pasukan-pasukan destruktif ini akan dibahas lebih lanjut pada bab riyâdlatun nafsi.


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo