Arina.id - KH Ulil Abshar Abdalla dalam sesi Ngaji Ihya Ulumuddin edisi keempat, memaparkan tentang dua tentara atau pasukan yang selalu patuh pada hati manusia. Dalam pembahasan ini, Imam Al-Ghazali memulainya dengan mengutip firman Allah dalam surat Al-Muddatstsir ayat 31, sebagaimana berikut:
وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَ
Artinya: “Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri,”
Gus Ulil menjelaskan, keunikan pemikiran Imam Ghazali dalam kitab Ihya ini adalah dicantumkannya dalil-dalil naqli di setiap pembahasan, baik berupa kutipan ayat Al-Qur’an, hadits, maupun pendapat ulama salaf. Hal ini yang membedakannya dengan para filsuf muslim lain, mereka tidak pernah mengutip dalil-dalil naqli dalam karya tulisnya.
Alasannya, kata Gus Ulil, sejak awal Imam Ghazali menegaskan bahwa kitab Ihya Ulumuddin ini memiliki orientasi utama pada kehidupan akhirat, berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang cenderung berfokus pada kehidupan dunia. Oleh karena itu, bangunan ilmu dalam kitab ini perlu didasari fondasi yang kuat berupa ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, serta pendapat para ulama salaf.
“Tetapi, nah ini yang menarik, Imam Ghazali juga menggunakan prosedur dan ilmu filsafat di dalam membangun ilmu baru ini. Jadi bagi saya kitab Ihya ini luar biasa, karena ada filsafat di dalamnya, ada mistik, ada ilmu-ilmu ortodoksi. Semuanya digabungkan, diolah oleh Imam Ghazali secara kreatif dan imajinatif menjadi apa yang disebut dengan ulumul akhirah,” ungkap Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Ahad (17/11/2024).
Imam Ghazali menjelaskan bahwa dalam hati manusia ada dua tentara atau pasukan yang selalu mendampingi hidupnya. Hal ini sebagaimana diungkap dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 880 berikut ini:
وله جندان جند يُرى بالأبصار، وجند لا يُرى إلا بالبصائر، وهو في حكم الملك، والجنود في حكم الخدم والأعوان، فهذا معنى الجند
Artinya: “Bagi hati ada 2 jenis tentara: [1] tentara yang bisa dilihat dengan indera mata dan [2] tentara yang tidak bisa dilihat kecuali dengan mata hati. Posisi hati seperti seorang raja dan tentara-tentara itu berstatus sebagai pelayan dan pembantu. Maka inilah pengertian tentara.”
Menurut Imam Ghazali, dalam diri manusia terdapat dua pasukan yang selalu setia dan patuh pada semua perintah seorang raja. Dalam hal ini, raja yang dimaksud adalah hati. Tentara pertama adalah pasukan yang bisa dilihat secara kasat mata, yaitu tangan, kaki, telinga, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Pasukan ini akan selalu patuh dan tunduk pada semua perintah yang datang dari seorang raja, yaitu hati.
Ketika hati memerintahkan mata untuk membuka, mata pun akan terbuka. Ketika hati memerintahkan kaki untuk melangkah, kaki akan berjalan. Demikian pula ketika hati memerintahkan lidah untuk berbicara, lidah akan berbicara. Begitu pun dengan seluruh anggota tubuh lainnya akan selalu patuh dan tunduk pada semua perintah hati.
Menurut Imam Ghazali, ketaatan anggota tubuh manusia terhadap hati menyerupai kepatuhan para malaikat kepada Allah. Para malaikat tidak memiliki kemampuan untuk membantah atau melawan perintah Allah. Demikian juga dengan anggota tubuh yang tidak mampu menolak perintah yang diberikan oleh hati.
Namun demikian, keduanya memiliki perbedaan dari sisi kesadaran. Para malaikat taat dan patuh pada perintah Allah dengan penuh kesadaran dan konsisten. Sementara anggota tubuh mematuhi perintah hati tanpa disertai kesadaran karena ketaatannya itu bersifat mekanik. Misalnya, kelopak mata dapat membuka dan menutup sesuai perintah hati, namun dalam prosesnya ini bersifat mekanik.
“Kelopak mata kita itu, membuka dan menutup atas perintah hati, itu mekanik saja. Dia tidak sadar bahwa itu diperintahkan. Tidak seperti malaikat, malaikat taat kepada Tuhan itu sadar karena malaikat itu cerdas dan punya kesadaran,” tambah Gus Ulil.
Selanjutnya, semua anggota tubuh ini dibutuhkan oleh hati sebagai sarana atau kendaraan untuk menjalani suatu perjalanan menuju Allah. Imam Ghazali mengungkapkan:
وإنما افتقر القلب إلى هذه الجنود من حيث افتقاره إلى المركب والزاد لسفره الذي لأجله خلق، وهو السفر إلى الله سبحانه وقطع المنازل إلى لقائه، فلأجله خلقت القلوب
Artinya: “Sesungguhnya hati membutuhkan pada pasukan ini sebagai kendaraan dan bekal untuk menempuh perjalanannya sebagaimana tugas pokok hati diciptakan, yaitu perjalanan menuju Allah Swt dan menempuh perjalanan menuju pertemuan dengan Allah. Karena itulah hati diciptakan.”
Menurut Gus Ulil, hati yang dimaksud oleh Imam Ghazali di sini adalah hati dalam pengertian organ spiritual. Sebagaimana telah diuraikan pada penjelasan sebelumnya, Imam Ghazali memaknai hati dengan dua pengertian, yaitu hati fisik dan hati spritual.
Untuk menguatkan argumentasinya tersebut, Imam Ghazali kemudian mengutip firman Allah dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Menurut Gus Ulil, Imam Ghazali tidak menulis kitab tafsir secara khusus, tetapi di dalam kitab Ihya ini Al-Ghazali berperan seperti seorang mufassir. Misalnya, dalam menafsirkan ayat di atas, ia memaknai kata "beribadah/menyembah" sebagai "berjalan kembali kepada Allah." Proses perjalanan tersebut dilakukan melalui hati dalam pengertian organ spiritual.
“Ini tidak kita temukan dalam tafsir biasa, ini tafsir khas Al-Ghazali, ini tafsir mistik. Ihya ini sebetulnya dalam satu segi sebuah karya tafsir juga,” ujar Gus Ulil.
Perjalanan manusia
Menurut Gus Ulil, konsep “perjalanan” ini identik dengan pemikiran tasawuf dan mistik. Di kalangan ahli tasawuf, manusia hidup di dunia ini digambarkan seperti orang yang sedang berjalan menuju Allah. Di dalam mistik Jawa pun ada filosofi “urip iku mung sak dermo mampir ngombe”, artinya hidup itu hanya sekedar minum. Ada juga filosofi “sangkan paraning dumadi” yang artinya bahwa manusia itu punya asal-usul dan punya tujuan akhir.
Dalam mistik Kristen pun ada tokoh bernama Santo Bonaventura yang hidup sezaman dengan Ibnu Rusyd. Dalam karyanya yang berjudul The Journey of the Mind into God, Santo Bonaventura mengungkapkan bahwa jiwa manusia itu mengalami perjalanan menuju kepada Tuhan.
“Artinya, metafora tentang manusia itu berjalan dalam kehidupan ini menuju kepada tujuan akhir, itu adalah sesuatu yang lazim atau populer, dikenal dalam dunia mistik. Mistik Islam begitu, mistik Kristen juga sama, mistik Jawa juga mengenal hal yang sama,” jelas Gus Ulil.
Perjalanan menuju Allah ini dapat berlangsung ketika ada dukungan dari anggota tubuh. Untuk itu, Imam Ghazali mengumpamakan anggota tubuh ini sebagai kendaraan. Adapun bekal atau bahan bakarnya adalah ilmu. Selanjutnya, kendaraan dan bahan bakar ini bisa berfungsi dan didayagunakan dengan baik jika didukung dengan amal saleh.
“Jadi badan ini adalah mobil, ilmu itu adalah bahan bakarnya. Nah, yang memungkinkan hati untuk bisa memanfaatkan modal ini bisa berguna dan menjadikannya sebagai modal dalam perjalanan ini adalah amal saleh. Jadi amal saleh ini adalah salah satu dimensi atau aspek penting dalam perjalanan ini. Tanpa amal saleh, kendaraan dan modal ilmu itu tidak ada gunanya,” papar Gus Ulil.
Menurut Gus Ulil, Al-Ghazali memandang positif pada tubuh manusia karena menganggapnya sebagai instrumen penting dalam proses perjalanan menuju Allah. Hal ini berbeda dengan ajaran Neoplatonisme yang menganggap jiwa manusia terpenjara dalam tubuh, selama manusia belum terselamatkan dari penjara tubuh, maka dia selalu mengalami penderitaan.
“Jadi kematian misalnya, itu digambarkan sebagai proses manusia lepas dari penjara ini, tubuh itu dianggap sebagai penjara yang mengungkung jiwa. Di sini Al-Ghazali memandang tubuh sebagai sesuatu yang yang penting sekali di dalam perjalanan manusia menuju balik kepada Allah,” tambah Gus Ulil.
Tubuh dianggap penting karena menurut Imam Ghazali, dunia ini diibaratkan sebagai rumah dekat bagi umat manusia dan akhirat sebagai rumah jauhnya. Saat hidup di rumah dekat (dunia), manusia dipaksa untuk mencari bekal untuk kehidupan di rumah kedua (akhirat). Imam Ghazali mengungkapkan:
فالدنيا مزرعة الآخرة
Artinya: “Maka dunia itu adalah ladang akhirat,”
Untuk itu, Imam Ghazali menegaskan bahwa tubuh atau badan ini harus dijaga dan dipelihara dengan baik karena hal itu menjadi bagian dari perjalanan manusia menuju Tuhan. Adapun cara merawat badan adalah dengan memberi makanan yang sehat dan menjauhkannya dari hal-hal yang bisa merusaknya.
Dua Tentara Hati
Menurut Al-Ghazali, ada dua tentara yang bertugas membantu manusia dalam merawat dan memenuhi kebutuhan badannya. Pertama adalah tentara batin, yaitu syahwat yang akan mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, misalnya makanan dan minuman. Kedua adalah tentara dhahir, yaitu anggota tubuh yang akan membantu membawakan makanan dan minuman tersebut.
Begitu pun dalam menjaga badan dari ancaman, dalam hati manusia ada dua tentara yang akan melindunginya dari kerusakan. Pertama adalah tentara batin, yaitu ghadab atau marah. Tentara ini akan menghadang terhadap segala sesuatu yang dapat mengancam tubuh.
“Jadi sebetulnya marah dalam diri manusia itu berguna sebagai alat untuk melindungi diri, alat untuk kita bertahan supaya badan kita tidak rusak, supaya badan kita tetap bisa menjalani perjalanan menuju kepada Allah,” terang Gus Ulil.
Kedua adalah tentara dhahir, yaitu tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya. Tentara ini akan bekerja menjaga tubuh dengan mengikuti arahan atau tuntutan tentara batin, yaitu marah. Imam Ghazali mengumpamakan anggota tubuh ini seperti senjata untuk mempertahankan diri.
Imam Ghazali mengakui, penjelasan mengenai dua tentara ini terhitung singkat karena pembahasan mendalam tentangnya memerlukan penjabaran yang sangat panjang, bahkan perlu berjilid-jilid. Meski demikian, penjelasan lebih lanjut dapat ditemukan pada bab yang membahas tentang Syukur. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi


