Allah menciptakan makhluk-Nya, termasuk manusia, sudah satu paket dengan rezekinya yang sesuai dengan kadarnya masing-masing. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari pemberian rezeki-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Surat Hud ayat 6:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: "Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
Meski demikian, tidak sedikit orang yang ragu pada jaminan rezeki dari Allah, satu di antaranya adalah Imam Az-Zahidi, seorang ulama besar di zamannya. Untuk menumbuhkan keyakinannya soal rezeki, Imam Az-Zahidi mencoba sembunyi di sebuah tempat yang diprediksi tidak mungkin ada makanan dan tidak ada akses untuk mendapat makanan.
Syekh Utsman Al-Khaubawi dalam kitab Durratun Nashihin (Semarang, Toha Putra: t.t) halaman 93 mengisahkan, suatu hari Imam Az-Zahidi lari ke gunung dan masuk ke sebuah gua. Di sudut gua tersebut ia duduk seorang diri.
"Aku ingin tahu bagaimana Tuhanku memberi rezeki kepadaku di tempat ini," gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian ada rombongan kafilah yang tersesat. Pada saat yang sama, hujan turun mengguyur mereka. Agar tidak basah kuyup, mereka pun mencari tempat berteduh yang kemudian menemukan sebuah gua yang sebelumnya sudah dimasuki oleh Az-Zahidi. Tanpa berpikir panjang, rombongan kafilah ini masuk ke gua tersebut.
"Wahai hamba Allah," sapa mereka ketika melihat Imam Az-Zahidi yang mematung seorang diri.
"Mungkin dia kedinginan sehingga tidak mampu berbicara," ucap salah seorang dari kafilah tersebut.
Anggota kafilah pun mulai mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api di dekat Az-Zahidi. Harapannya ketika sudah tidak lagi kedinginan dia bisa diajak bicara. Namun ternyata setelah api menyala tidak juga membuat Az-Zahidi mau berbicara.
"Mungkin dia orang fakir dan kelaparan sehingga tidak punya tenaga untuk berbicara," ucap salah satu dari kafilah ini.
Mereka kemudian membuka bekal makanan dan mempersilahkan Imam Az-Zahidi untuk menyantapnya. Lagi-lagi Imam Az-Zahidi hanya diam membisu dan tidak mau membukakan mulutnya apalagi menyentuh makanan yang sudah ada di hadapannya.
Para kafilah ini mengira bahwa Az-Zahidi sudah lama tidak mendapat asupan makanan sehingga membuatnya lemah dan pencernaannya menjadi terganggu. Mereka kemudian menghangatkan susu dan membuat kue dari gula yang dinilai sebagai makanan enak dan sehat. Diharapkan ketika melihat susu dan kue tersebut 'penghuni gua' ini tergiur dan mau menyantapnya. Namun lagi-lagi tidak ada respons apapun ketika hidangan itu sudah tersaji.
"Gigi orang ini mungkin sudah menempel rapat sehingga mulutnya tidak bisa dibuka," kata mereka.
Dua orang dari rombongan ini kemudian membawa sebilah alat yang akan digunakan untuk membantu membukakan mulut Az-Zahidi. Upaya itu berhasil dan mulutnya bisa terbuka.
Tidak disangka, ketika makanan sudah siap masuk ke dalam mulut, Az-Zahidi malah tertawa terbahak-bahak. Perilakunya ini jelas membuat kedua orang itu heran bahkan menganggapnya sebagai orang gila.
"Kamu gila?" kata kedua laki-laki.
"Tidak. Aku sedang menguji Tuhanku tentang rezekiku. Maka sekarang aku tahu bahwa Dia akan tetap memberikan rezeki kepada hamba-Nya di mana pun berada,” jawab Az-Zahidi.
Demikian cara Az-Zahidi menguatkan keyakinannya soal rezeki. Kisahnya ini membuktikan bahwa Allah akan selalu menganugerahkan rezeki kepada semua orang. Bagi umat Islam, apalagi yang sedang terlilit masalah ekonomi, sebaiknya tidak perlu khawatir dalam urusan rezeki.
Sebaliknya, umat Islam mestinya selalu optimis yang dibarengi dengan bekerja serta berdoa memohon rezeki yang halal dan berkah. Setelah keduanya dilakukan, tahap selanjutnya adalah bertawakal dan memasrahkan semuanya kepada Allah. Jika sudah melakukan hal demikian, hidup pun akan terasa lebih ringan. Wallahu a‘lam.
Editor:


