Kematian merupakan sesuatu yang pasti akan dialami oleh semua makhluk, termasuk manusia. Ketika ajal sudah tiba, tidak ada seorang pun yang bisa lari dari Malaikat Maut atau Izrail. Berlari atau sembunyi pun akan percuma sebab akan tetap ditemukan oleh Izrail.
Lari dari Malaikat Maut pernah dilakukan oleh seseorang di zaman Nabi Sulaiman. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Ahmad ibnu Hijazi Al-Fasyani dalam kitab Al-Majalisus Saniyyah (Semarang, Karya Thoha Putra: t.t) halaman 19.
Dikisahkan, Malaikat Maut datang mondar-mandir di istana Nabi Sulaiman bin Dawud. Saat itu, malaikat pencabut nyawa yang menyamar sebagai pria bertampang seram itu menatap tajam pada salah seorang sahabat Nabi Sulaiman. Sebaliknya, ia juga mengetahui dan merasakan tatapan tajamnya.
"Siapakah pria itu, wahai Nabi Allah?" tanya sahabat Nabi Sulaiman setelah melihat pria seram itu berlalu keluar.
"Dia itu Malaikat Maut," jawab Nabi Sulaiman.
Mendengar jawaban tersebut, sahabat Nabi Sulaiman ini langsung merinding ketakutan karena merasa nyawanya terancam. Ia pun meminta agar dikirim ke sebuah negeri yang jauh dengan harapan tidak akan ditemukan oleh Malaikat Maut.
"Wahai Nabi Allah, tadi dia menatap tajam kepadaku, aku khawatir dia akan mencabut nyawaku. Tolong bantu selamatkan aku," ucapnya meminta tolong kepada Nabi Sulaiman.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nabi Sulaiman.
"Tolong panggilkan angin lalu bawa aku ke negeri Hindi. Mudah-mudahan Malaikat Maut kehilangan jejakku dan tidak menemukanku di sana," ucapnya.
Nabi Sulaiman kemudian memanggil angin dan memerintahkan agar membawa laki-laki ini ke negeri Hindi. Dalam sekejap, dia pun sampai di sana.
Tidak lama kemudian, Malaikat Maut datang kembali menemui Nabi Sulaiman. Merasa penasaran, Nabi Sulaiman pun mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Mengapa tadi kamu menatap tajam kepada laki-laki itu?" tanya Nabi Sulaiman.
Malaikat Maut kemudian menjawab bahwa sebenarnya tadi dia merasa heran. Pasalnya, ia mendapatkan tugas untuk mencabut nyawa orang tersebut di negeri Hindi sementara saat itu, orang yang dimaksud sedang berada di istana Nabi Sulaiman. Ternyata, dia dibawa oleh angin ke Hindi tepat dengan habis ajalnya.
Demikianlah, ketika seseorang telah sampai pada ajalnya maka hal itu tidak akan bisa diundur atau dipercepat, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-A'raf ayat 34:
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Artinya: “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Kematian bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Sebagai umat Islam, kita mesti mawas diri dan bisa menyiapkan diri untuk mencari bekal untuk kehidupan berikutnya dengan banyak melakukan ibadah dan amal saleh. Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Faizin


