Arina.id - Jodoh adalah salah satu misteri kehidupan yang sering datang dari arah yang tak terduga. Ada kalanya hubungan yang telah terjalin lama malah kandas di tengah jalan, sementara pasangan yang baru saja bertemu justru berakhir dalam ikatan pernikahan. Salah satu contohnya adalah kisah seorang lelaki saleh yang dijodohkan dengan putri majikannya, kelak ia juga menjadi ayah seorang ulama besar.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 1409 H) halaman 122-123 mengisahkan, di Kota Marw yang saat ini masuk wilayah Turkmenistan, ada seorang pemimpin sekaligus hakim bernama Nuh bin Maryam yang dikenal kaya raya dan terpandang.
Nuh juga diketahui mempunyai seorang putri yang sangat cantik hingga membuat sejumlah pemimpin dan orang kaya datang untuk melamarnya. Namun, Nuh menolak semua lamaran tersebut karena merasa ragu dan bingung dalam mengambil keputusan.
“Jika aku menikahkannya dengan orang ini, tentu akan mengecewakan orang lain,” gumamnya dalam hati.
Di sisi lain, Nuh mempunyai seorang pelayan berkebangsaan Hindia yang saleh dan bertakwa, namanya Mubarak. Salah satu tugas utama Mubarak adalah menjaga serta merawat kebun anggur milik Nuh yang subur dengan pepohonan, buah-buahan, dan hasil alam lainnya.
“Mubarak, pergilah ke kebun dan petiklah seikat anggur untukku,” perintah Nuh pada Mubarak.
Mubarak pun langsung melaksanakan perintah majikannya itu. Tidak lama kemudian Mubarak datang membawa seikat anggur. Sayangnya, semua anggur yang dipetik Mubarak rasanya masam.
“Petik lagi dan berikan anggur yang lain,” perintahnya lagi.
Lagi-lagi anggur yang dipetik dan dibawa Mubarak rasanya tetap sama, semuanya masam.
“Mengapa kamu hanya memberiku anggur asam, padahal di kebunku banyak anggur?" tanya Nuh sedikit emosi.
“Maaf tuan, aku tidak tahu mana anggur manis dan masam,” jawab Mubarak dengan tenang.
Mendengar jawaban Mubarak tersebut, Nuh pun terkejut karena Mubarak sudah menjaga kebun sekian lama tetapi tidak bisa mengetahui ciri-ciri anggur yang rasanya manis.
“Subhanallah, sudah lama kamu mengurus kebun ini tapi tidak tahu mana anggur masam dan manis?” tanya Nuh mulai penasaran.
Mubarak kemudian menjawab bahwa sesungguhnya dia tidak pernah mencicipi anggur tersebut sehingga tidak bisa mengetahui anggur manis dan masam.
“Mengapa kamu tidak memakannya?” tanya Nuh.
“Karena tuan memerintahkanku untuk menjaganya, bukan untuk memakannya. Aku tidak mau mengkhianatimu,” jawab Mubarak yang membuat Nuh kagum atas kejujuran dan kesalehannya.
“Jujur Mubarak, aku kagum padamu, kamu harus melakukan apa yang kuperintahkan,” ujar Nuh pada Mubarak.
"Tuan, aku akan patuh kepadamu karena Allah," jawab Mubarak.
Ketahuilah Mubarak, kata Nuh, aku memiliki seorang putri yang cantik. Banyak pemimpin dan bangsawan yang ingin meminangnya sampai membuatku bingung kepada siapa aku harus menikahkan putriku.
“Coba, apa saranmu untukku?” sambung Nuh melontarkan pertanyaan.
“Tuan, orang-orang di masa jahiliah menginginkan asal-usul dan garis keturunan. Orang Yahudi dan Nasrani mencari kecantikan. Di masa Rasulullah, orang mencari agama dan ketakwaan. Di zaman kita ini, orang mencari harta. Sekarang, tinggal tuan pilih dari keempat hal ini,"jelas Mubarak.
Mendengar saran dari Mubarak, Nuh kemudian menegaskan bahwa dia akan menikahkan putrinya dengan seorang lelaki saleh yang beriman dan bertakwa. Ternyata, Nuh melihat kriteria ini ada pada sosok Mubarak.
"Wahai Mubarak, aku ingin menikahkanmu dengan putriku karena aku telah menemukan agama dan kesalehan dalam dirimu, serta melihat ketakwaan dan amanahmu,” tegas Nuh.
Mubarak sangat terkejut dengan ucapan majikannya itu. Ia pun merasa minder karena menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan, sementara wanita yang hendak dijodohkan dengannya adalah putri dari majikannya sendiri.
“Tuan, aku adalah pelayanmu, mana mungkin aku menikahi putrimu,” jawab Mubarak merendah.
“Sudahlah, mari kita bahas ini di rumah,” ajak Nuh pada Mubarak.
Setelah sampai di rumah, Nuh meminta pendapat istrinya terkait perjodohan putri mereka dengan pelayannya yang saleh dan bertakwa.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Nuh pada istrinya.
Istrinya kemudian menjawab bahwa dia setuju selama suami dan putrinya setuju dengan perjodohan ini.
“Aku akan memberitahu putri kita tentang ini, nanti jawabannya ku sampaikan kepadamu,” jawab istri Nuh.
Sesaat kemudian istri Nuh menemui putrinya dan menyampaikan pesan ayahnya terkait perjodohan dengan Mubarak.
"Aku akan taat pada perintah ayah dan ibu,” jawab putrinya.
Singkat cerita, Mubarak dan putri Nuh dinikahkan. Pengantin baru ini pun diberikan banyak harta oleh Nuh. Dari pernikahan ini lahirlah Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar yang dikenal dengan kezuhudannya dan keahliannya dalam ilmu hadis.
Dari kisah ini, Imam Ghazali berpesan kepada umat Islam agar menjadikan agama, kesalehan, dan ketakwaan sebagai kriteria utama dalam mencari pasangan hidup karena hal itulah yang akan membawa keberkahan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika hanya menjadikan harta atau kecantikan sebagai prioritas utama, hal ini dipandang kurang baik karena cenderung mengikuti hawa nafsu atau hal-hal duniawi yang bersifat sementara.
Selain itu, kisah ini menunjukkan bahwa upaya membentuk anak saleh tidak dimulai setelah anak lahir, melainkan sejak dalam proses pemilihan pasangan hidup yang tepat, yaitu dengan menjadikan kesalehan dan ketakwaan sebagai kriteria utama, Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar yang dikenal atas kesalehannya, adalah bukti dari orang tua yang membangun kehidupan mereka di atas fondasi agama yang kokoh. Wallahu a’lam.
Editor:


