Kilas-balik Tradisi Maulid Nabi

Kilas-balik Tradisi Maulid Nabi

Sebelum kelahiran Nabi Muhamad saw bangsa Arab Makkah adalah orang-orang dengan karakter yang sangat jenius, kreatif  dan terpandang sebagai dermawan. Namun, dibalik sifat-sifat baik ini, mereka menenggelamkan dirinya sendiri dalam kubangan kotor yang menyeretnya pada gelar yang selalu diingat dalam rentetan sejarah; jahiliyah.

Mereka dibingkai dengan nama jahiliyah bukanlah karena bodoh dan terbelakang, tetapi lantaran mereka tidak mengetahui hakikat ketuhanan yang benar dan cara-cara yang benar dalam berperilaku kepada sesamanya.

Hingga pada akhirnya, muncullah seorang utusan Allah Swt yang menyelamatkan mereka dari jerat kegelapan yang selama ini menyeliputinya menuju kebenaran cahaya terang secerah matahari.

Pada dasarnya, lahirnya Nabi saw telah mengubah arah kehidupan manusia secara umum. Jika saja, seorang Muhamad tidak lahir, maka dunia ini akan selalu dalam kegelapan yang artinya kelahirannya adalah nikmat terbesar yang pernah Allah Swt berikan kepada manusia. Untuk itu, rasa syukur kita selayaknya sebagai penerima nikmat yang begitu besar ini juga harus berbanding lurus dengan nikmatnya.

Apakah Nabi saw Merayakan Maulid?

Nabi Muhamad saw sendiri ikut merayakan hari lahirnya, ini terlihat dalam satu riwayat yang menyatakan bahwa Nabi saw suatu ketika setelah masa nubuat pernah mengakikahkan dirinya sendiri, meskipun dalam riwayat masyhur disebutkan Muhammad Saw telah diakikahi oleh kakeknya, Abdul Mutholib saat umur tujuh tahun. Imam Suyuti dalam kitabnya al-Hawi li al-Fatwa mensinyalir bahwa Nabi saw bukan mengakikahkan dirinya sendiri saat itu, tetapi hanya ingin mengekspresikan rasa syukurnya atas nikmat dilahirkannya ke dunia sebagai rahmat kepada seluruh alam semesta.

Sebenarnya secara subtansi apa yang dilakukan oleh Nabi saw kemudian ditiru oleh para sahabatnya itu sama dengan apa yang di kemudian hari dilakukan oleh generasi Muslim setelahnya. Hanya saja karena perkembangan sebuah zaman menuntut prosesi sebuah perayaan tertentu berubah kepada bentuknya masing-masing.

Maka ditemukan di buku-buku sejarah, bahwa perayaan maulid —dengan bentuk yang tidak ada pada zaman nubuat—dikatakan sebagai bidah hasanah, yakni sesuatu yang tidak pernah dilakukan di zaman Nabi saw. Bahkan para ahli sejarah mengatakan perayaan dalam bentuk ini tidak pernah dilakukan sampai kurun ketiga hijriyah.

Hemat penulis, perayaan maulid yang kita lihat di zaman sekarang adalah evolusi dari bentuk perayaan-perayaan yang dilakukan generasi sebelum kita yang berakar dari zaman Nabi saw. Sehingga perayaan maulid memang bidah hasanah, tetapi itu tidak menafikan bahwa pada zaman nubuat lalu ke kurun satu sampai ketiga, mereka juga merayakan, namun dengan bentuk yang berbeda, secara subtansial sama dengan kita.

Orang Pertama Mentradisikan Perayaan Maulid

Para generasi sebelum kita dalam merepresentasikan rasa syukur atas kelahiran Baginda Nabi saw adalah dengan memperingati hari kelahiraanya. Bentuk-bentuk memperingati hari lahirnya barmacam-macam. Ada yang dengan membacakan kitab sirah nabawiah, membagikan makanan dan minuman, meramaikan bulan Rabiulawal dengan memasang lampu-lampu di jalanan umum atau lainnya.

Jika kita menelaah kitab-kitab Tobaqot (kumpulan biografi), kita akan menemukan bahwa orang pertama kali yang mentradisikan perayaan maulid Rasul adalah wali besar asal Mosul, Irak bernama Syekh Umar Mala, seorang yang alim, zuhud, dan wara’. Dijuluki sebagai orang yang paling mirip dengan Umar bin Abdul Aziz karena orang-orang soleh tunduk kepadanya. Selama masa hidupnya ia mengisi seluruhnya dengan kebaikan. Setiap mendapatkan harta, selalu ia dermakan kepada orang lain. Bahkan ia pernah membuatkan khoniqoh dan zawiyah untuk para sufi.

Kecintaanya terhadap Nabi membuatnya mengarang satu buku tentang sirah nabawiyah dan menurut kesaksian Abu Syamah, ia tidak meninggal kecuali telah berhasil menciptakan tradisi yang baik berupa merayakan maulid rasul.

Setelah itu estafet tradisi ini dilanjutkan oleh Solahudin al-Ayubi. Ia mencoba menghentikan tradisi perayaan-perayaan Syiah yang sudah mendarah daging di Mesir selama dua tahun, diganti dengan perayaan maulid Rasul. Karena sebelum kedatangannya, Mesir masih dalam gengaman Dinasti Fatimiyah yang notabenenya beralirah Syiah. Sampai akhirnya orang-orang mulai terbiasa dan lupa dengan perayaan-perayaan yang biasa mereka lakukan di hari Asyura.

Selain itu, ia juga membuat khaniqoh dan zawiyah serta madrasah-madrasah yang berkurikulum ahlisunah wal jamaah. Berkat peran inilah, di kemudian hari salah satu panglima perangnya yang bernama Mudlofar Abu Said al-Kaukabari yang juga adik iparnya berhasil meniru jejaknya dalam mengaggungkan maulid Rasul.

Ketiga tokoh ini adalah cikal-bakal perayaan maulid yang biasanya kita saksikan sekarang. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah Swt, mencintai Nabi saw dan mempunyai ilmu agama yang kuat serta otoritas yang tinggi.

Dengan berbagai privilleg yang mereka punya, mereka berhasil mentradisikan tradisi baik berupa perayaan maulid Nabi saw yang tidak hanya sekadar perayaan belaka; tanpa ada ruh kebaikan di dalamnya. Dalam praktiknya mereka seringkali menyelipkan kegiatan-kegiatan baik seperti membagi-bagikan makanan, manisan, minuman, uang kepada kaum fakir dan miskin. Terkadang juga diisi dengan membaca kitab-kitab bergenre sirah nabawiah beserta ijasah yang menyambung kepada pengarangnya. Dengan begini Nabi saw yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta bukanlah hanya sebatas ketika Nabi saw hidup saja, tetapi ketika sudah wafat pun pengaruh rahmatnya masih terasa sampai sekarang.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Reza
Mahasiswa Al-Azhar Mesir, menempuh S1 Jurusan Tafsir


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo