Perang Uhud menjadi satu diantara sekian lembar peristiwa pilu dalam sejarah Islam. Pada pertempuran melawan kafir Quraisy ini, mulanya pasukan muslim optimis akan menang, hanya saja tim pemanah tidak mematuhi instruksi Rasulullah. Kemenangan yang sudah di depan mata justru berbalik. Pasukan lawan kini mengambil kendali medan. Tentara muslim tercerai berai. Panik. Sampai Rasul dikepung oleh kawanan musuh yang lengkap dengan ayunan pedang di tangannya dan anak panah yang siap dilepaskan dari busurnya.
Dalam keadaan terdesak ini, sejumlah sahabat yang menyadari Rasulullah dalam keadaan bahaya segera bergegas melindungi sebisanya. Betapa pun tubuh sendiri sudah tak berdaya. Abu Thalhah, misalnya, menghalau serangan musuh dari arah depan. Ia menjadikan tubuhnya sebagai perisai dari serbuan anak panah yang menyasar sang Rasul. “Biarkan dadaku saja yang terluka, wahai Rasul,” katanya penuh teguh. Sementara Abu Dujanah melindungi Rasul dari arah belakang. Kendati tubuhnya sudah terhunus anak panah, tak sedikit pun ia beranjak.
Di sisi lain ada Thalhah bin Ubaidillah. Ketika Rasulullah kesulitan memanjat gunung untuk berlindung dari serangan lawan, ia membungkukkan tubuhnya untuk dijadikan pijakan bagi Rasul. “Surga bagimu, wahai Thalhah,” kata Muhammad Saw.
Kisah heroik lainnya juga datang dari Nusaibah binti Ka’ab, seorang sahabat perempuan. Semula ia turut serta dalam perang Uhud bertugas di bagian logistik. Tapi begitu melihat Rasulullah dikepung kawanan musuh, perempuan dari suku Anshar itu segera mempersenjatai dirinya dan dengan gagah berani menjadi perisai Rasul. Tampak gagah bagaikan “dewi perang”. Hingga ada 12 luka pada tubuhnya, Nusaibah tetap berdiri tegak menghalau semua serangan yang mengancam keselamatan Nabi.
Sepenggal kisah heroik para sahabat dalam melindungi Rasulullah di atas adalah satu bukti bahwa demi Nabi tercinta, mereka rela mengorbankan dirinya. Tidak peduli tubuh penuh luka, bahkan nyawa sendiri terancam pun tak apa. Kisah-kisah ini cukup masyhur dicatat oleh para sejarawan klasik seperti Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Jarir ath-Thabawi dalam Tarikhul Umam wal Muluk, Ibnul Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh, dan sebagainya.
Momen haru lainnya juga dikisahkan dari perang Badar Kubra. Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan kesetiaan dan kecintaan para sahabat kepada Rasulullah dengan ungkapan berikut,
يا رسول الله، هذه أموالنا بين يديك، خذ منها ما شئت ودع منها ما شئت، وما أخذته منها كان أحب إلينا مما تركته، لو استعرضت بنا البحر لخضناه معك ما تخلف منا أحد، إنا والله لصبر في الحرب صدق عند اللقاء، فامض بنا يا رسول الله حيث أمرك الله.
Artinya, “Wahai Rasulullah. Di hadapanmu ini adalah semua harta yang kami punya. Silahkan ambil berapapun yang engkau mau. Sungguh, kami lebih senang jika engkau berkenan membawa harta-harta kami. Sekalipun engkau menyuruh kami terjun ke dalam lautan, kami akan mematuhinya tanpa penolakan sedikitpun. Kami pun selalu setia ikut berperang bersamamu. Apapun yang engkau instruksikan, kami selalu siap melaksanakannya. Sebab, kami tahu apa yang engkau instruksikan adalah perintah Allah.”
Bagaimana Mencintai Rasul?
Tentu tidak mudah untuk mendefinisikan arti “cinta”, termasuk cinta kepada Rasul. Sebab, cinta adalah entitas yang tak berwujud. Karenanya, Ibnul Qayyim pernah mengatakan,
المَحَبَّةُ لَا تُحَدُّ -أَيْ لَا يُذْكَرُ لَهَا تَعْرِيْفٌ- إِذْ هِيَ أَمْرٌ يَنْبَعِثُ بِنَفْسٍ يَصْعَبُ التَّعْبِيْرُ عَنْهُ.
Artinya, “Cinta tak mampu didefinisikan, sebab ia merupakan luapan emosional yang sulit untuk diungkapkan dalam kata.”
Ketika seseorang membicarakan cinta kepada Rasul, tentu akan sulit karena cinta adalah pengalaman emosional yang hanya bisa dipahami olah mereka yang sudah merasakannya. Dalam konteks mencintai Rasulullah, tentu dibutuhkan pengalaman spiritual yang tidak biasa, yang membuat seseoarang memiliki keterhubungan kuat dengan sang Baginda. Pengalaman ini bisa terbentuk dengan banyak hal; bisa dengan perbanyak shalawat, mengamalkan setiap yang Nabi ajarkan, dan sebagainya, hingga akhirnya tumbuh rasa mahabbah kepada Rasulullah.
Cinta Rasul adalah Fitrah
Sejatinya cinta kepada Rasulullah adalah fitrah. Artinya, rasa mahabbah kepadanya adalah sikap yang sudah sepatutnya tertanam pada hati setiap musim. Sungguh pun alam raya ini, termasuk kita sebagai manusia, diciptakan oleh Allah berkat perantara Rasulullah. Cinta Allah kepada Rasul-Nya yang membuat dunia seisinya ini ada. Maka, jika keberadaan kita di muka bumi karena Rasulullah, sudah seharusnya kita mencintai sosok yang menjadi sebab kita terlahir di dunia ini. Oleh karena itu tidak heran jika dalam salah satu hadis qudsi Allah pernah menyampaikan,
لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمَّدُ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلَاكَ
Artinya, “Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan aku ciptakan alam semesta ini.”
Bayangkan, jika bukan karena kecintaan Allah kepada Rasul-Nya, boleh jadi kita tidak akan pernah ada di dunia ini.
Memang, keabsahan redaksi hadis di atas diperdebatkan kebenarannya. Dr. Ali Jum’ah sampai menegaskan bahwa kendati redaksi hadis ini tidak bisa dibuktikan keotentikannya, hanya saja kandungan di dalamnya bisa dibenarkan. Sebab begini, dalam Al-Qur’an sendiri sudah ditegaskan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk menyembah Allah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Aż-Żāriyāt [51]:56)
Jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, dan mereka bisa beribadah sebab perantara Nabi Muhammad yang menyampaikan dakwah ajaran Islam. Tanpa kehadiran Rasulullah, tidak mungkin mereka bisa mengenal nilai-nilai Islam dan beribadah kepada-Nya. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa Rasulullah dari musabbab dari keimanan makhluk-makhluk Allah. Demikian ditegaskan Ali Jum’ah.
Rasulullah sendiri pernah menyampaikan bahwa rasa cinta kepadanya harus lebih besar dibanding cinta orang tua kepada anak-anaknya, juga cinta anak-anak kepada orang tuanya. Beliau menyampaikan,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya, “Tidak seorang pun di antara kalian beriman (dengan iman yang sempurna) sampai aku (Nabi Muhammad ﷺ) lebih dicintainya daripada anaknya, orangtuanya, dan seluruh umat manusia.” (HR Muslim).
Maksud tidak beriman pada hadis ini bukan berarti orang yang tidak memprioritaskan rasa cintanya kepada Rasulullah, kemudian dia tidak dianggap lagi beriman. Sebab cinta Rasul bukan termasuk rukun iman. Sebagaimana ditegaskan Syihabuddin al-Qastalani dalam Irsyadus Sari, maksud yang benar adalah orang yang rasa cinta kepada Nabi lebih besar dibanding cinta kepada anak-anak dan orang tua sendiri, maka ia akan memperoleh kesempurnaan iman. Sehingga, jika rasa cinta kita masih kalah dengan cinta kepada anak-anak atau orang tua sendiri, maka keimanan kita belum disebut sempurna. (al-Qastalani, 2016: vol. 1, h. 138)
Konsekuensi orang yang mencintai Rasulullah pasti orang tersebut akan menempatkannya sebagai punjer, pusat. Mengikuti apa yang Rasulullah ajarkan, hakikatnya adalah bentuk ketaatan kepada Allah swt. Sebab, semua yang Nabi ajarkan pada dasarnya adalah wahyu dari-Nya. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا
Artinya, “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka.” (An-Nisā' [4]:80)
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Zunus


