Anak, Alam, Kerusakan, dan Kepedulian

Anak, Alam, Kerusakan, dan Kepedulian

"Bacaan anak Indonesia kurang berkualitas." Itu kalimat liar yang tidak ditemukan siapa pemiliknya, tapi berhasil melahirkan kalimat-kalimat turunan: "Bacaan anak Indonesia terlalu menggurui, bacaan anak Indonesia memuat sejuta tanda seru, bacaan anak Indonesia terlalu melangit, bacaan anak Indonesia tidak out of the box, bacaan anak Indonesia titipan proyek pemerintah."

Mereka yang punya pengalaman demikian, tentu manggut-manggut sambil mengacung-acungkan buku impor dari negara-negara yang melibatkan pesawat untuk menjangkaunya. Sementara orang yang punya pengalaman lain, mungkin mengerutkan dahi sembari menunjuk beberapa buku lokal yang diyakini sanggup bersaing dengan deretan judul berbahasa asing.

Kita mungkin punya kedua pengalaman itu. Menemukan bacaan yang buruk sekaligus bagus. Yang akan dipertunjukkan adalah opsi kedua: bacaan bagus. Buku termiliki dari pemberian seseorang yang mengaku mencintai anak-anak. Bacaan mewah dan menarik mata. Cover bersampul emboss, kombinasi warna sangat ciamik, dan isi buku dibanjiri warna juga gambar-gambar.

Kisah Bumi (2021) adalah kumpulan karya pemenang sayembara cerpen anak kisah bumi. Penulis hampir semuanya bersinggungan dengan dunia anak. Kejuaraan diselenggarakan UMKM Sayur Kendal. Buku terbitan Cikal Aksara. Para pemenang mengisahkan kondisi lautan, daratan, dan langit yang kian hari makin meregang nyawa dan harus  diketahui anak-anak.

Cara para penulis menggambarkan tidak dengan teori menara gading atau kalimat kaku seperti buku-buku teks pelajaran. Buku lebih luwes untuk dibaca karena mengandung kisah. Kisah itu memuat beragam imajinasi yang mempertemukan pembaca pada bambu yang bisa tertawa, hujan yang khawatir, pohon yang menangis, burung cikalang yang heroik, dan beberapa tokoh lain yang mengasyikkan untuk dibaca.

Lima belas cerpen mengisi halaman buku. Yang paling teringat Sang Pencuri dan Sihir di Teluk Jakarta gubahan Imelda Naomi, Tana Ulen gubahan Fadila Hanum, Memburu Hujan Belek karya Panji Sukma, Petualangan Sekelompok Air Hujan gubahan Friska Julia, dan Tangis di Pohon Jati karya Dian Kristiani.

Lima cerpen tersebut mengisahkan lautan yang mendekati kondisi sekarat, kesakralan tanah adat yang dicoreng pemerintah, dampak over industrialisasi bagi manusia dan lingkungan, tata kelola sampah di kota dan desa, dan keserakahan manusia dalam mengeksploitasi hutan.

Membaca cerpen-cerpen itu bisa ditemani secangkir wedang rempah sambil menatap ke luar jendela dan dinaungi musik Iwan Fals berjudul Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi (1982). Pada jendela, kita menatap pohon-pohon masih tumbuh kokoh, tapi di buku dan beberapa daerah lain kabarnya pohon banyak menangis. Manusia semakin serakah menggusur pohon-pohon dari tanah leluhurnya.

Realitas itu makin mengesahkan lirik lagu yang terdengar: “Menatap rimba yang dulu perkasa/Kini tinggal cerita/Pengantar lelap si buyung.” Kita boleh khawatir, bertambahnya tahun kian mengekalkan keserakahan manusia menggerogoti alam. Itu baru soal hutan, di lembar buku itu masih ada banyak cerita tentang laut yang juga menyayat hati ketika dibaca.

Membaca cerpen-cerpen itu tidak hanya memberi banyak pengetahuan tentang alam, pembaca bisa bertemu banyak kutipan menarik. Mata menemukan puluhan kutipan apik untuk dikunyah lalu ditelan anak-anak. Bersama proses itu, kita berharap kesadaran ekologis tumbuh seiring berkembangnya fisik anak.

“Air putih. Benda-benda aneh yang semakin banyak di laut. Ini penyebab makin sedikit makanan di laut. Juga penyebab banyaknya burung yang hilang.” Demikianlah salah satu nukilan dari seekor burung Cikalang yang tersaji pada cerita Sang Pencuri dan Sihir di Teluk Jakarta. Yang paling utama menyadari dan menerima dampak dari perubahan alam adalah para hewan. Efek domino kerusakan itu pada akhirnya akan memantul pada manusia.

Untuk sampai pada makna dari kalimat “Jangan Merusak Alam” tidak cukup hanya dengan peraturan perundangan, ancaman akan dilaknat Tuhan, dan pengenalan dampak sampah pada lingkungan secara positivistik. Kita butuh pengisahan. Kisah telah sejak dahulu menemani manusia dalam mentransfer nilai dan menjaga keberlangsungan bumi. Orang-orang biasa menyebutnya mitologi, dongeng, juga folklor.

Meike Lusye Karolus dalam Feminisme dalam Dongeng (2013) menyebut bahwa dongeng mampu mempengaruhi pembaca lewat proses ketidaksadaraan yang kemudian dianggap sebagai kewajaran. Kisah Bumi (2021) adalah salah satu karya fiktif yang bisa mengantarkan anak untuk sampai pada makna mencintai alam.
 
Sudah begitu banyak kalimat beredar memposisikan alam sebagai makhluk kelas dua. Kita bisa menemukannya dalam cerita anak juga kitab-kitab suci. Dalam buku berjudul Penciptaan (2002) gubahan Helen Haidle terjamah Yorry Anderson, diterbitkan Adolos Publishing, kita disuguhkan proses penciptaan alam.

Salah satu halaman menampilkan kutipan ayat suci yang mengkhawatirkan untuk dibaca tekstual: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kata “taklukkanlah, berkuasalah” mengesankan superioritas manusia di tengah alam. Asosiasi kata itu menghadirkan pemaknaan bahwa manusia berhak untuk menundukkan makhluk lain.

Dalam Kisah Bumi (2021) kita tidak menemukan kutipan serupa di atas. Tapi, di tengah setumpuk kelebihannya, kalimat “Kesempurnaan Hanya Milik Tuhan” sepertinya diamini oleh buku.  Dalam salah satu cerita, kita masih menemukan bias gender yang mendiskreditkan perempuan.

“Ya, iya. Tapi kita belum minta izin. Lagipula langit gelap. Kalau hujan deras, bahaya main di sungai.”

“Yah. Macam anak perempuan,” seloroh Rokan.

“Kau mengatai aku kah?”

“Aku hanya bercanda," ujar Rokan.

Yang bisa dimaknai oleh pembaca adalah perempuan tidak memiliki keberanian, perempuan adalah golongan manusia yang perlu sejuta izin dalam hal apapun, dan selalu menghindari segala resiko-resiko. Kalimat “Aku hanya bercanda” makin menegaskan kebolehan bagi mulut-mulut untuk mengucapkan kalimat seksis dengan dalih hiburan.

Kita boleh menyayangkan, buku yang diberi pengantar oleh Kepala Sekretariat Presiden RI, lalu diapresiasi oleh Irjen Kementerian Pertahanan RI dan Komandan Kodiklat TNI AD  ini masih bisa meloloskan cerita yang berpotensi melanggengkan bias gender dalam masyarakat.

Namun, setitik noda itu biarlah menjadi catatan tersendiri agar tidak mengurangi bobot cerita lain yang sudah sangat apik mengenalkan anak untuk mencintai dan menjaga alam. Sebab, penceritaan semacam itu amat dibutuhkan agar mata manusia tidak lagi melihat alam sebagai objek, melainkan sahabat bahkan kesatuan dari semesta.
 


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo