Dulu, bermain berarti bergerak bebas, tertawa bersama, dan berkeringat di bawah matahari. Tapi kini, makna itu perlahan bergeser. Di mata anak-anak dan orang tua, permainan tak lagi identik dengan kebersamaan dan alam, melainkan kesendirian di ruang tertutup, terpaku pada layar. Anak-anak tumbuh tanpa mengenal lapangan, hujan, atau angin yang dulu menjadi bagian hidup. Mereka seolah didorong lekas melompati masa kecil, langsung dihadapkan pada dunia orang dewasa, dunia gawai dan kesunyian digital.
Saat ini, pemandangan anak-anak yang larut dalam layar gawai sudah menjadi bagian dari keseharian. Mereka terbiasa diam selama berjam-jam, tanpa banyak gerak atau interaksi. Banyak orang tua memilih jalan praktis: membiarkan anak tenang diasuh gawai, daripada menghadapi riuhnya pertanyaan, lompatan, dan tawa dari anak. Perlahan, teknologi menggeser ruang bermain menjadi ruang sunyi. Anak-anak kehilangan kesempatan emas untuk menjelajahi dunia dengan tubuh dan rasa. Masa kanak-kanak yang seharusnya penuh petualangan kini tergantikan oleh tatapan kosong ke arah layar.
Ketika anak mulai menunjukkan kecenderungan untuk menarik diri, enggan bergerak, dan menolak terlibat dalam berbagai aktivitas, semestinya menjadi peringatan serius bagi orang dewasa. Sikap semacam itu bisa menjadi tanda bahwa proses tumbuh kembang mereka, baik secara fisik maupun emosional, tidak berjalan optimal. Jika dibiarkan, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa, memengaruhi cara mereka berinteraksi, berpikir, dan menjalani hidup.
Pengalaman masa kecil punya pengaruh besar terhadap pembentukan. Seperti yang diungkapkan Irena Yulianti dalam Mengenal Dunia Anak-Anak (1985). Ia mengungkapkan jika kebutuhan batin anak tidak terpenuhi sejak dini, beresiko memunculkan sikap, cara pandang, atau perilaku yang merugikan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain dan lingkungan sosialnya. Karena itulah, aktivitas bermain dan eksplorasi di masa anak-anak bukan sekadar hiburan, melainkan fondasi penting dalam membentuk pribadi yang sehat dan seimbang di masa depan.
Paparan gawai dalam hidup anak, menimbulkan efek yang tidak remeh. Kompas, 15 Januari 2023 bertajuk Kecanduan Terhadap Gawai Mengganggu Emosi dan Mental Anak oleh Hidayat Salam menginformasikan, kecanduan gawai pada anak-anak bisa menyebabkan sejumlah permasalahan, mulai dari fisik hingga sosial. Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyebutkank bahwa adiksi atau kecanduan terhadap gawai berisiko menimbulkan masalah emosional pada anak.
Apakah anak tidak boleh dikenalkan pada gawai dan harus dijauhkan seketika? Di dunia serba digital ini, tentu anak perlu mengenal teknologi agar tidak gagap berinteraksi dengan zamannya. Yang menjadi permasalahan adalah apabila gawai menggeser posisi bermain dalam hidup anak dan menutup interaksinya dengan lingkungan sekitar.
Dalam dunia anak, gerak yang aktif dan nyata adalah tempat untuk memainkan fantasi dan mencurahkan daya kreativitasnya. Hal itu tidak bisa tergantikan oleh kecanggihan teknologi yang berbasis virtual. Inilah pentingnya bermain bagi anak-anak.
Sebenarnya, kecanggihan permainan dalam teknologi tidak selalu lebih baik dari permainan konvensional. Di Indonesia, kita mengenal banyak permainan, misalnya petak umpet, engklek, congklak, patok lele, rangku alu, gobak sodor, lompat tali karet, kelereng, layang-layang, kucing-kucingan dan sederet permainan lain. Melalui permainan tersebut, anak belajar berinteraksi, melatih rasa empati, menanamkan kejujuran, kerjasama dan menyehatkan tubuh. Hal-hal yang kurang dimiliki dalam gawai.
Dalam sebuah novel klasik berjudul The Secret Garden (1911) gubahan Frances Hodgson Burnett, dikisahkan gadis cilik bernama Marry Lennox yang menjadi lebih sehat dan bahagia setelah hidupnya diisi oleh aktivitas bermain. Sebelumnya, ia dikenal sebagai anak yang berwajah muram, lemah, pucat, keras kepala dan egois.
Perpindahannya dari India ke London mempertemukannya dengan keluarga yang mengerti dunia anak-anak. Suatu ketika, Marta meminta Marry untuk bermain di padang, ia mengatakan bahwa bermain di luar tiap hari akan membuat anak menjadi gemuk dan tidak pucat lagi. Marry menolak karena tidak memiliki alat bermain. Mendengar hal itu, Marta mengungkapkan rasa kaget dan simpatinya: “Tak punya apa-apa untuk bermain? Adik-adikku bermain dengan kayu dan batu. Mereka berlari-larian, berteriak-teriak dan memperhatikan segala sesuatu”.
Lalu dalam kutipan lain, Martha juga mengatakan hal demikian: “Kata ibu, anak yang tidak menghirup udara segar dan tak berbuat apa-apa selain berbaring, membaca buku bergambar, dan minum obat tidak bisa hidup…dia juga mudah kedinginan dan katanya itu membuat sakit."
Di Inggris, negeri yang boleh disebut sebagai imperium cerita anak, banyak menggambarkan kehidupan anak-anak yang aktif bermain. Selain The Secret Garden (1911), kita juga bisa menemukannya dalam Little Princess (1905) gubahan Frances Hodgson Burnett, The Railway Children (1905) gubahan Edith Nesbit, Matilda (1988) gubahan Roald Dahl, The Wind in the Willows (1908) gubahan Kenneth Grahame dan sederet judul lain. Cerita-cerita itu yang menghantarkan lahirnya banyak orang-orang besar.
Dari Inggris, kita beralih ke Jepang. Negara ini tidak hanya memproduksi film dan lagu anak-anak, tetapi juga bergerak lewat jalur pendidikan. Jepang memasukkan permainan dalam kurikulum sekolah. Wendy Koshino dalam Amazing Japan (2018) mengisahkan bahwa dari TK hingga SD, anak-anak Jepang akan diajarkan untuk akrab dengan mainan tradisional seperti nawatobi atau lompat tali, koma atau gasing dan permainan lainnya.
Dalam bukunya, Wendy menyebut: “Negara yang sudah sangat canggih dan modern dalam segala bidang, tetap tidak lupa dan tidak ingin melupakan budaya tradisional termasuk mainan tempo dulu yang dimainkan para leluhurnya.” Jepang sadar, permainan akan memenuhi kebutuhan jiwa sekaligus raga dalam diri anak-anak.
Berkaca dari beberapa hal diatas, barangkali sebagai orang tua, kita perlu lekas menarik anak-anak untuk kembali pada dunianya. Dunia yang lekat dengan gerak, teriakan, nyanyian imajinasi dan petualangan. Mengajak anak untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia vitual yang disebut Roal Dahl dalam salah satu novelnya, sebagai pembunuh imajinasi dan tubuh anak-anak.
Editor:


