Banyak orang besar lahir dari tumpukan pertanyaan. Kalimat tanya menuntun manusia untuk terus bepikir. Konon, manusia terlanjur ditakdirkan mencari makna meski tidak mudah menyepakatinya. Kerap kali, pencarian dianggap telah selesai sejak baik-buruk, benar-salah sudah dipasok oleh suatu ajaran, kita seolah hanya perlu melaksanakannya.
Mengapa, saat dewasa, jumlah pertanyaan yang dimiliki punya selisih sangat jauh dengan masa anak-anak? Setiap hari, anak-anak tak lelah menanyakan hal yang ia lihat, sentuh, dan dengar. Semua dilakukan riang gembira untuk mencari tahu, mencoba, dan melakukan inovasi.
Namun, ketika dewasa, pertanyaan mendekati kepunahan. Bertanya menjadi terkesan negatif. Banyak tanya bisa berarti memusingkan, sok tahu, dan terlalu kritis, sering kali dinilai tidak baik.
Di era yang semakin canggih (katanya), pencarian makna hidup seperti berada di ambang pesimis. Kita tak lagi tertarik melakukan pertarungan batin dengan tanya, karena jawaban tersedia melimpah. Ibarat belanja online, hanya perlu mengetikkan kata kunci, lalu seabrek produk yang diinginkan muncul. Dalam waktu singkat, barang yang dicari lekas ada di depan pintu. Tidak perlu ada pertarungan pikiran dan gerak tubuh yang capek.
Selain kemudahan dalam menerima jawaban, keseharian dan perhatian kita juga sering terjebak dalam urusan material-fisikal. Ambisi tentang karir, kesuksesan, kenyamanan dan berbagai obsesi dunia memenuhi kepala dan dada. Pencarian makna tidak masuk dalam agenda hidup. Demikian kata filsuf Prancis Merleau-Ponty.
Viktor Frankl, psikiater, penyintas Holocaust, menulis di buku Man’s Search for Meaning tentang makna hidup. Ia berujar kalau makna hidup adalah kekuatan utama dalam diri manusia. Saat berada dalam kamp konsentrasi Nazi, ia melihat orang-orang yang kehilangan makna, kehilangan itu turut merenggut semangat untuk hidup.
Tanpa makna, penderitaan menjadi tak tertanggungkan, dan hidup terasa hampa. Frankl percaya meski berada dalam penderitaan paling kelam, manusia masih bisa bertahan ketika berhasil menemukan makna.
Jika manusia kehilangan makna, yang tersisa hanyalah rutinitas kosong. Kita bisa tetap bernapas, bergerak, tapi jiwa perlahan akan meredup. Kehilangan makna bisa menjelma menjadi keputusasaan, kekosongan, bahkan kehancuran batin. Seperti kapal tanpa arah, kita terombang-ambing di lautan kehidupan tanpa tahu ke mana harus berlabuh.
Pencarian makna memang bukan proses instan. Ia lahir dari perenungan dan pertanyaan yang tak selalu punya jawaban. Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal Kartini (1879-1904), perempuan Jepara yang pikirannya banyak berjasa bagi bangsa.
Biografi Kartini terbentuk dari banyak pertanyaan. Salah satu pertanyaan paling penting berangkat dari sahabat Belandanya: “Akan jadi apa setelah lulus sekolah?” Perenungannya untuk tekun mencari jawaban itu mengantarkannya menjadi manusia yang peka pada persoalan agama, ekonomi, kebudayaan, tanaman, perempuan, anak, dan lainnya.
Dalam sejarah keagamaan, kita mengenal bapak para Nabi, Ibrahim As. Beliau punya pengalaman intim dengan pertanyaan. Perenungan dan tanya telah menuntunnya menemukan Tuhan. Mungkin, makna hidup yang sesungguhnya muncul dari berpindah dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain.
Upaya membangkitkan pertanyaan bisa dimulai lewat buku. Novel Anak Rusa Mencari Tuhan (2024) disebut banyak orang sebagai bacaan menarik. Buku ini adaptasi dari karya Ibnu Thufail berjudul Hayy bin Yaqzhan (1200) yang ditulis ulang oleh Wassenberg dan Essabane.
Novel Anak Rusa Mencari Tuhan memberi angin segar bagi para perenung. Esensi dari novel aslinya untuk mengajak pembaca berfilsafat masih sangat kental, meski telah dialih wahanakan menjadi bacaan anak-anak.
Daya kritis dan imajinasi berlimpah dalam setiap babnya. Kehadiran novel ini, bisa menjadi alarm sekaligus kendaraan untuk mempromosikan gaya hidup tafakur yang kian tersisih oleh mode hidup serba cepat dan serba instan.
Novel ini berkisah tentang seorang anak bernama Hay, hidup dalam asuhan seekor rusa di sebuah pulau terpencil. Ia satu-satunya manusia di tengah makhluk hidup lain. Pada suatu hari, Hay mulai berfikir bahwa ia berbeda dengan semua makhluk di sekitar, perasaan itu mendorongnya untuk melakukan pengamatan dan penyelidikan eksistensi, dimulai dengan pertanyaan: “Tapi, siapa aku? Dari apa dan dari siapa aku berasal?”.
Kalimat itu membawanya pada perenungan dan petualangan intelektual.
Anak Rusa Mencari Tuhan (2024) sangat memikat, karena menampilkan kesimbangan antara hujjah rasional dan hujjah skriptual dalam menelisik makna hidup. Lalu, interaksi Hay dengan hewan, tumbuhan dan manusia ditampilkan seimbang, ini menarik. Biasanya, posisi manusia selalu mendominasi dari makhluk lain. Sering kali mengarah pada objektifikasi dan berdampak pada eksploitasi alam. Dalam cerita kali ini, yang terjadi sebaliknya: keselarasan hidup terjalin seimbang antara makhluk hidup.
Bagian paling menarik dalam novel ini, menurut saya ketika Hay mengatakan bahwa orang-orang menjelaskan padanya tentang berbagai cerita, aturan, hikmah yang berasal dari kitab suci mereka sendiri. Tapi, mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar, tidak punya pendapat dan pengalaman terkait Sang Misteri. Kalimat itu menjadi semacam alarm yang membangunkan manusia untuk tidak berhenti bertanya.
Kalau mau ditinjau kekurangan buku ini dari segudang kelebihannya, saya akan menyoroti pada metode untuk membangun pertanyaan dalam diri pembaca. Buku ini memikul terlalu banyak tanda tanya dan tanda seru. Pembaca bisa cepat kelelahan. Misalnya, pada salah satu bab, saya menemukan 9 tanda tanya hanya dalam 4 halaman.
Ada buku yang hampir serupa dengan Anak Rusa Mencari Tuhan, misalnya Life of Pie (2001) gubahan Yaan Martel dan Kumpulan Cerita dan Fabe Jalaludin Rumi (2021). Kedua buku itu memuat perjalanan spiritual dengan jalan pengisahan. Meski tidak meletakkan tanda tanya secara eksplisit, cerita di dalamnya bisa menstimulus pertanyaan bagi pembaca. Buku yang mengandung pertanyaan menjadi kian terasa penting di tengah dunia yang terlalu banyak menyediakan jawaban.
Editor:


