Dark
Light
Dark
Light

Kartini dan Tanaman

Kartini dan Tanaman

Anne Of Green Gables (1908) karya Lucy M. Montgomery adalah sebuah novel klasik asal Kanada yang sangat harum namanya. Kita boleh menduga, tokoh utama Anne Shirley adalah kunci keberhasilan. Gadis muda itu hidupnya penuh imajinasi, kritis dan semangat. Karakternya menghantarkan  novel ini melintasi abad. Salah satu hal yang lekat dari sosok Anne adalah ketertarikannya dengan berbagai tanaman mulai dari pohon, rumput, dan berbagai jenis bunga. Tumbuhan membentuk pikiran, cara hidup dan cita-citanya.

Menyebrang ke Nusantara, kita mengenal  tokoh serupa yang juga melintasi abad: Kartini. Dalam naungan April, sepanjang tahun kita mengenalnya sebagai tokoh emansipasi, pendidikan dan hal-hal menyoal perempuan. Ternyata, kita bisa mengenalnya dari sisi lain, yaitu seorang botani.

Biografi kehidupan Kartini tumbuh dikelilingi tanaman. Tempat tinggal, isi surat, karya intelektual, dan kunjungannya ke beberapa tempat mempertebal dugaan kedekatan Kartini dengan tanaman.

 

Mayong, Jepara, adalah daerah pesisir laut yang menyuguhkan panorama pantai berjejer pohon kelapa. Sisi jalanan Jepara juga lekat dengan pohon kenari yang tumbuh sebelah-menyebelah. Buku RA Kartini (1985) gubahan Tashadi menyuguhkan potret sebuah paviliun Kabupaten Jepara, tempat R.A Kartini tinggal dan dipingit. Pada sisi-sisinya tumbuh berbagai jenis pohon dan berbagai jenis bunga. 

Surat tanggal 17 Agustus 1902, kepada Ny. Abendanon menggambarkan rasa senang Kartini pada tanaman: “… setelah berhar-hari turun hujan, kamipun bergilah melihat-lihat bunga-bunga kesenangan hati kami, yang sangat menanggung, ditimpa oleh air hujan yang sangat derasnya itu. Tampaklah bunga mawar kami, yang dibasahkan air hujan itu, menghijau karena tunas baru”.

Kartini Sebuah biografi (1979) ditulis Sitisoemandari Soeroto menampilkan sebuah foto lahan yang cukup luas ditumbuhi banyak tanaman dengan keterangan “kebun belakang dari Kabupaten Jepara, tempat tiga saudara menanam bunga-bunga”. Kata “menanam” dalam keterangan tersebut membuat kita lekas berfikir Kartini mengerti jenis, cara menanam, juga merawat tanaman.

Di sekolah, sebuah pohon menjadi saksi awal mula tumbuhnya rasa ingin tahu Kartini yang kelak membawanya pada cabang-cabang pengetahuan. Dikisahkan dalam serial buku Tempo berjudul Gelap Terang Hidup Kartini (2019), Kartini menemui seorang gadis Belanda bernama Letsy Detmar yang sedang asik membaca buku di bawah pohon. Terjadi percakapan intelektual hingga bermuara pada pertanyaan: “Hendak menjadi apa nanti setelah mendapat surat tamat belajar?” Pertanyaan itu mengusik Kartini untuk mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia juga perempuan.

Dalam surat untuk Nyonya Abendanon tanggal 24 September 1900, Kartini menceritakan kunjungannya ke Kebun Raya Bogor bersama keluarga de Booy (Ajudan Gubernur Jenderal Hindia Belanda): “Tadi pagi kami ke Kebun Raya bersama keluarga de Booy. Tuan membawa alat potretnya dan memotret kami beberapa kali. Nyonya de Booy manis dan lemah lembut dan anak mereka laki-laki berumur 2 tahun menyenangkan sekali. Kami segera bersahabat akrab. Kami gembira ria bermain-main dengan si kecil sayang berambut pirang itu."

Kebun Raya Bogor merupakan wadah awal bagi para ilmuan di bidang botani, beberapa lembaga penelitian Indonesia terlahir seiring dengan berdirinya Kebun Raya. Dalam sebuah artikel di situs National Geographic Indonesia berjudul Sejarah Kebun Raya Bogor: Mengapa Penting Untuk Perkembangan Sains? dijelaskan pada tahun 1817, Profesor Caspar Georg K.R, seorang ahli botani asal Jerman merintias  berdirinya Kebun Raya Bogor sebagai wadah penelitian.

Penemuan-penemuan ilmiah di bidang botani berkontribusi pada kesejahteraan umat manusia, Misalnya pada penelitian tanaman domestik berbagai tanaman ekspor. Dalam catatan sejarah, perkembangan Kebun Raya Bogor mulanya hanya digunakan sebagai kebun percobaan tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan di Hindia Belanda. Namun, seiring berjalan waktu, inovasi dalam bidang ekonomi menghasilkan peningkatan kekayaan pemerintahan Belanda kala itu melalui agroindustri spesies yang eksotis seperti kopi, teh, kina, tembakau dan masih banyak lagi.

Dalam surat tentang Kebun Raya, kita tidak menemukan pembahasan seputar pemikiran Kartini tentang botani. Ia hanya menggambarkan rasa senang dan pujian pada keluarga de Booy. Apakah dalam kunjungannya itu Kartini hanya sekedar bersenang-senang? Kita boleh menduga Kartini berpikir hal-ihwal tentang tanaman.

Sejarah pendirian Kebun Raya sarat dengan pengetahuan, perkembangan ekonomi, dan terkait politik. Kartini punya kecerdasan melihat peristiwa melampaui permukaan, terlebih kehadiran Roekmini dan Kardinah dalam kunjungan, menguatkan dugaan mereka berpikir melampaui kalimat yang dituliskan dalam surat.

Sebuah lukisan cat minyak berjudul Taman Kembang Leli yang dibuat sekitar tahun 1900 juga terlihat terinspirasi oleh Kebun Raya Bogor. Ukir kayu dan design batik juga melibatkan beberapa jenis tanaman. Mungkinkah Kebun Raya meninggalkan sebuah pengetahuan dalam dirinya?

Di surat tanggal 31 Januari 1901, Kartini menulis permenungannya: “Bermenung aku merenungi ke luar, menatap langit biru, seolah-olah disanalah aku mengharap mendapat jawaban akan pertanyaan yang membadai di dalam rohaniku. Dengan tiada setahuku mataku menurunkan awan melancar di angkasa, hilang lenyap ke belakang daun nyiur hijau melambai-lambai. Tiba-tiba mataku tertambat pada daun-daun kecil bersinar bergetar-getar, berkilau-kilauan keemasan karena sinar cahaya matahari—dan tiba-tiba berkilat di dalam sanubariku, pernahkan orang bertanya, mengapa matahari itu bersinar? Siapa, apakah yang dikiriminya cahaya?...” Penggalan surat tersebut menegaskan karakter Kartini yang detail, kritis dan perenung. Ia tidak melihat sesuatu apa adanya.

Kartini kerap menyebut tanaman dalam tulisannya. Salah satunya surat tanggal 10 Juni 1902: "Kalau orang mengawinkan tumbuh-tumbuhan atau binatang yang berlainan bangsa, maka diperoleh macam tumbuhan-tumbuhan dan binatang yang lebih baik keadaannya. Tidak akan demikian pulakah halnya dengan adat kebiasaan bangsa yang berlainan keadaannya? Bila barang sesuatu yang bagus dari pada barang lain, tidakkah akan timbul ada kebiasaan yang lebih baik dan lebih bagus, dari percampuran itu?” Logika pikiran Kartini memberi informasi ia mengetahui persoalan hibrida (biologi), perkawinan silang yang berbeda  secara genetik atau proses penyerbukan pada tumbuhan.

Perumpamaan dengan menggunakan analogi tanaman juga ditemukan dalam surat Kartini tanggal 28 Juli 1902 kepada Nyonya Abendanon: “…kehidupan manusia itu sama betul dengan keadaan alam… Air hujan yang menjadikan sebatang tumbuh-tumbuhan berdaun dan bertunas, menumbuhkan yang lain, dan menjadikan tumbuhan itu busuk.” Kartini mengetahui proses pertumbuhan tanaman. 

Surat tanggal 25 Agustus 1903 menggambarkan daya tangkap Kartini yang peka pada hal sekitarnya: “Kira-kira Rembang itu negeri baik buat pengukir kayu; disana tanah jati, dan banyak pula disana kayu sono”. Ide peningkatan ekonomi masyarakat Rembang melalui usaha ukir kayu memberikan indikasi kesadaran pengetahuan Kartini menyoal tanah, tanaman dan nilai guna.

Berkat berbagai kontribusi pemikiran Kartini, telah lahir bibit-bibit Kartini selanjutnya  dalam bidang botani. Di Indonesia kita mengenal Eunike: Seniman botani dunia asal Semarang, Suswaningsih: perempuan penyulap tanah tandus menjadi teduh, Aleta Baun: Perempuan Penenun di Gunung Mutis, Rikarda Maa: Penggerak solidaritas perempuan tanah adat, Anne Kusumawati: illustrator botani dari herbarium bogoriense pusat penelitian biologi LIPI dan sederet nama lain.

Menyebrang ke belahan dunia lain, kita akan menemukan kisah perempuan lain dengan tanaman. Sosok itu bernama Maathai, perempuan yang merintis gerakan sabuk hijau pada tahun 1977. Sebuah usaha untuk menanam pohon, memunculkan kembali mata air dan menganjurkan untuk melestarikan tanaman sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan. Aktivisme Wangari Maathai telah menginspirasi PBB menggerakkan penanaman lebih dari 11 miliar pohon sejak 2006 dan terdokumentasi dalam buku berjudul Gerakan Sabuk Hijau.

Di era saat ini, melalui film kita juga dapat belajar tentang botani. WALL-E (20008) garapan Andrew Stanton mengisahkan akhir bumi yang diramalkan terjadi pada abad ke 22. Kelangsungan manusia mengkhawatirkan dan bumi disesaki sampah elektronik. Kehadiran WALL-E dan sebuah bibit tumbuhan membuka harapan baru untuk kelangsungan hidup manusia yang lebih baik. Film lain yang bisa tersebut adalah The Botany Of Desire (2009), sebuah film dokumenter garapan Michael Schwarz.

Pengetahuan menyoal tanaman menuntun kita tidak hanya berputar pada pengetahuan tentang tumbuhan tetapi berkeliling menyambangi sejarah, ekonomi, masa depan bumi, dan keselarasan hidup.
 
 
 
 
 
 
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo