Jakarta, Arina -- Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayeb menghadiri forum Interfaith and Intercivilizational Reception yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Pullman Central Park, Jakarta pada Rabu (10/7/2024).
Dalam forum itu, ia menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam agama sebagaimana Allah swt memfirmankannya dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 256 dan Al-Kahf ayat 28. Nabi Muhammad saw pun memberikan kebebasan bagi orang untuk meyakini kepercayaannya.
Sebab, Nabi Muhammad saw tidak memiliki kekuasaan atas hati dan keyakinan manusia lainnya. Menjelaskan ini, Syekh al-Tayeb mengutip Al-Qur’an Surat Al-Ghasyiyah ayat 22, Surat Qaf ayat 45, dan Surat Yunus ayat 99. Sebab, tugas Nabi Muhammad saw hanyalah menyampaikan dakwahnya seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 48.
Allah swt melalui Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 48 dan Surat Hud ayat 118, menegaskan bahwa Dia bisa saja menjadikan manusia ini dalam umat yang satu. Namun dalam praktiknya, Allah Swt menciptakan manusia dengan berbeda-beda untuk saling mengenal sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13.
Oleh karena itu, Syekh al-Tayeb menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang menghormati beragam perbedaan. Dengan begitu, Islam juga terbuka dengan agama, keyakinan, atau kebudayaan lain untuk berdialog, bahkan menganjurkan umatnya untuk menjalin silaturahim.
"Islam sangat terbuka terhadap agama, aliran, dan menghormati pengikut agama lain. Ini dasar bagi silaturahim antara umat Islam dengan lainnya," kata ulama kelahiran Luxor, 6 Januari 1946 itu.
Al-Qur’an dan hadis Nabi memberikan prinsip bagi umat Islam untuk membangun hubungan dengan umat lain. Sebab, bagi Islam, perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah. Bahkan, Islam memiliki pandangan untuk menentang permusuhan terhadap segala perbedaan umat manusia.
"Islam yang kita ingin tunjukkan, bukanlah penghambat untuk dialog. Islam dari dasar akidahnya adalah agama dialog, agama yang mempertemukan semua peradaban," ujar ulama yang menuntaskan studinya pada bidang aqidah dan filsafat di kampus tempat mengabdinya itu.
Ia melihat hambatan untuk terwujudnya dialog di era saat ini adalah jurang yang memisahkan peradaban dan orang Barat dengan peradaban dan umat Islam dan Timur. “Ini jurang yang sangat dalam sekali dan belum ada upaya sungguh-sungguh dari para cendekiawan di Barat untuk memahami peradaban islam dan kebudayaan yang ada di Timur secara menyeluruh,” katanya.
Ia juga melihat belum ada upaya dan cara mengenali Islam dan memahami islam secara serius dari turats masa lalu. Dalam pandangannya, hal tersebut disebabkan para ilmuwan Barat itu kurang mengenal peradaban di Timur dengan segala macam keragamannya.
Di satu sisi, peradaban Barat tampak menghegemoni. Hal ini tidak bisa dianggap ideal. Di sisi lain, ada kecemasan berlebihan di kalangan Timur terhadap dominasi Barat sehingga membuat mereka tidak nyaman. Keduanya tidak bisa dibiarkan begitu saja karena akan terus menimbulkan benturan peradaban.
Oleh karena itu, ia melihat peradaban Barat dan Timur bisa saling melengkapi satu sama lain. Barat telah banyak mengajarkan ilmu dan teknologi. Sementara bangsa Timur bisa mengisinya dengan nilai-nilai luhur. Karenanya, dialog bangsa Timur dan Barat itu perlu dilaksanakan.
Grand Syekh pernah membuat dialog dan menandatangani dokumen persaudaraan dunia bersama Paus Fransiskus pada 2019 lalu. Karenanya, ia melihat ada harapan besar Barat bisa mengurangi kesombongan dan hegemoninya sehingga mereka bisa bertemu dengan bangsa Timur dan lainnya di tengah jalan.
"Dengan pertemuan yang penuh kasih sayang dan kerja sama nyata untuk mewujudkan perdamaian abadi dan peradaban yang indah di dunia ini," pungkasnya.
Syakir NF
Jurnalis tingkat muda. Peserta program Micro-Credential di Amerika Serikat, Beasiswa non-Degree Dana Abadi Pesantren Kementrian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan LPDP dan Lembaga Pendidikan di Amerika Serikat.
Editor:


