Khutbah Jumat: Peduli pada Lingkungan Jadi Barometer Keimanan

Khutbah Jumat: Peduli pada Lingkungan Jadi Barometer Keimanan

Khutbah I

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَمَرَ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ، وَنَهَىٰ عَنِ ٱلْفَسَادِ فِي ٱلْأَرْضِ، وَجَعَلَ ٱلْخَلِيفَةَ فِي ٱلْأَرْضِ لِيَعْمُرَهَا بِٱلطَّاعَةِ، وَلَا يُفْسِدَهَا بِٱلْمَعَاصِي، نَحْمَدُهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ ٱلْجَلِيلَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ نِعْمَائِهِ ٱلْكَثِيرَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ حَقٍّ وَصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ، نَرْجُو بِهَا ٱلنَّجَاةَ وَٱلْفَوْزَ فِي يَوْمِ ٱلْقِيَامَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ ٱلرِّسَالَةَ، وَأَدَّى ٱلْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ ٱلْأُمَّةَ، وَكَشَفَ ٱلْغُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ أَوَّلًا بِتَقْوَى ٱللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ ٱلتَّقْوَىٰ هِيَ زَادُكُمْ فِي ٱلدُّنْيَا، وَنُورُكُمْ فِي ٱلْقُبُورِ، وَسَبَبُ نَجَاتِكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ. وَقَالَ أَيْضًا وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Ma’syiral Muslimin jamaah sidang Jumat rahimakumullah

Awwalan, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, sebagai bentuk kesadaran dan ketaatan sejati kepada-Nya. Khatib mengajak diri pribadi dan seluruh jamaah sekalian, untuk terus menjaga dan memperkuat takwa baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam suasana suka maupun duka, ketika sendiri maupun di tengah keramaian.

Sebab ketakwaan adalah kunci keberkahan hidup. Dengan takwa, hati menjadi tenang saat menjalankan perintah-perintah Allah, dan jiwa menjadi kuat untuk menjauhi larangan-Nya. Bahkan, takwa bukan hanya membawa kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, mari kita jadikan takwa sebagai kompas dalam setiap langkah dan keputusan hidup kita. Karena siapa yang hidup dengan takwa, niscaya hidupnya akan dipenuhi petunjuk, rezeki yang tak disangka-sangka, dan perlindungan dari Allah SWT.

Ma’syiral Muslimin jamaah sidang Jumat rahimakumullah

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada berbagai fenomena yang menunjukkan krisis kepedulian terhadap lingkungan. Keadaan ini sungguh memprihatinkan. Banyak pihak yang lebih mementingkan keuntungan jangka pendek, tanpa mempertimbangkan dampak dan kerugian jangka panjang yang ditimbulkan.

Kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa banyak kerusakan alam yang terjadi, mulai dari eksploitasi sumber daya secara berlebihan seperti tambang yang merusak hutan dan tanah, hingga perilaku membuang sampah sembarangan yang mencemari sungai dan laut. Semua ini adalah bentuk ketidakpedulian terhadap amanah yang Allah titipkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Padahal, Allah SWT secara tegas melarang perusakan bumi dalam bentuk apa pun. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Perilaku abai terhadap kelestarian lingkungan, disadari atau tidak, sering kali menjadi bagian dari kebiasaan kita sehari-hari. Misalnya, membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara liar, atau menggunakan sumber daya alam secara berlebihan tanpa memperhatikan dampaknya. Perbuatan-perbuatan ini bukan hanya merusak alam, tetapi juga mengganggu kenyamanan dan keselamatan orang lain.

Padahal, dalam Islam, menjaga agar tidak mengganggu sesama merupakan salah satu bentuk keimanan terendah, Dalam hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: ”Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR.Muslim no. 58)

Menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan cabang iman yang paling rendah. Ini menunjukkan bahwa usaha untuk tidak mengganggu atau merugikan orang lain adalah kewajiban dasar setiap Muslim. Jika seseorang tidak mampu menjaga hal yang paling dasar ini, maka pantas dipertanyakan sejauh mana keimanannya.

Menyingkirkan gangguan dari jalan bertujuan agar tidak mencelakakan orang lain. Maka, perilaku yang merusak lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, menebang pohon semaunya, atau mencemari sungai dan udara sejatinya adalah bentuk gangguan yang nyata terhadap sesama manusia.

Ketika kita melakukannya atau membiarkannya terjadi, artinya kita telah mengabaikan salah satu unsur keimanan paling dasar. Jika iman paling rendah saja kita abaikan, yakni menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, maka patut kita bertanya dalam hati: apakah kita benar-benar telah mengamalkan Islam secara utuh? Jangan sampai kita hanya Muslim secara identitas saja.

Ma’syiral Muslimin jamaah sidang Jumat rahimakumullah

Seharusnya kita merasa malu. Sering kali kita melihat negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, namun tingkat kepedulian mereka terhadap kebersihan sangat tinggi. Bahkan selokan di pinggir jalan pun airnya jernih, udaranya bersih, dan lingkungannya tertata rapi. Padahal, mereka tidak pernah menggembar-gemborkan slogan “kebersihan adalah sebagian dari iman” di dinding-dinding kota mereka.

Sebaliknya, kita yang hidup di negara dengan mayoritas Muslim justru memperlihatkan kondisi yang sebaliknya. Kita bisa melihat sungai-sungai dipenuhi sampah, lingkungan sekitar kumuh dan tercemar, serta budaya buang sampah sembarangan seolah dianggap biasa. Ini sangat memprihatinkan, karena ajaran Islam telah dengan tegas mendorong umatnya untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

Padahal, menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya berdampak positif terhadap keberlangsungan hidup dan keseimbangan alam di dunia, tetapi juga mengandung nilai spiritual yang tinggi. Upaya merawat dan melestarikan alam merupakan bentuk kasih sayang terhadap makhluk ciptaan Allah. Dan dalam ajaran Islam, siapa yang menyayangi makhluk di bumi, maka Allah akan menyayanginya pula.

Layaknya seseorang yang disayangi, hidupnya akan terasa lebih terjamin, penuh ketenangan, dan limpahan kebahagiaan dari Sang Maha Pengasih. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits Rasulullah:

الرَاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ 

Artinya: ”Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dia yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR Al Baihaqi)

Maka, marilah kita mulai menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Tidak perlu menunggu hal-hal besar, cukup dimulai dari langkah-langkah dasar dan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar sampah yang dapat mencemari udara, serta mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan bahan berbasis plastik yang sulit terurai.

Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, akan memberikan dampak besar bagi keberlangsungan alam dan menjadi bentuk nyata dari keimanan serta kepedulian kita sebagai umat Islam.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِآيآتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ, إِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنْ. وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَاتِ وَخُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَةِ قُدْسِهِ, فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا. إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفآءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلآءَ وَالْوَبآءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلْدَتِنَا هَذِهِ خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِىْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبُ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزُّ وَأَجَلُّ وَأَكْبَرُ


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo