Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَ ۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ ۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىࣖ ٣٢
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk terus menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat, maka kita akan diberikan jalan terbaik dalam mengarungi kehidupan dan akan diberi jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi.
Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada khutbah kali ini, khatib mengajak jamaah untuk merenungkan penyakit-penyakit hati yang bisa dengan mundah tumbuh dalam hati kita. Perlu kita sadari bahwa penyakit hati tidak selalu tumbuh dari kebencian kepada orang lain. Terkadang, penyakit hati justru bersembunyi dalam kebaikan yang ingin dipuji, ibadah yang ingin diakui, dan kerendahan hati yang diam-diam merasa lebih mulia daripada manusia lainnya.
Inilah salah satu penyakit batin yang paling sulit kita kenali. Sebab, bisa saja kita terlihat baik secara lahiriah di mata orang lain, namun sebenarnya menyimpan keinginan untuk mendapatkan kedudukan istimewa di hadapan manusia. Kita bisa saja tidak sedang meninggalkan kebaikan, tetapi tanpa disadari telah mengotori kebaikan yang kita lakukan dengan niatan-niatan yang tidak benar.
Kita mungkin rajin bersedekah, tetapi kecewa ketika tidak ada yang mengetahui sedekahnya. Kita mungkin tekun beribadah, tetapi merasa kurang dihargai ketika orang lain tidak mengakui ibadah kita. Bahkan, kita bisa tampil begitu rendah hati, sementara dalam batin kita tersimpan perasaan bahwa diri kita lebih tawadhu dan mulia dibandingkan orang lain.
Di sinilah penyakit hati menjadi berbahaya. Penyakit dalam hati kita tidak selalu mengajak untuk meninggalkan ibadah, tetapi terkadang justru menumpang dalam ibadah itu sendiri. Tanpa sadar penyakit ujub tumbuh subur dalam diri kita.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, pada pembahasan tentang hakikat ujub, menjelaskan:
الْعُجْبُ هُوَ اسْتِعْظَامُ النِّعْمَةِ وَالرُّكُونُ إِلَيْهَا مَعَ نِسْيَانِ إِضَافَتِهَا إِلَى الْمُنْعِمِ
Artinya: "Ujub adalah menganggap besar suatu nikmat dan merasa tenteram dengannya, disertai kelalaian untuk menisbatkan nikmat tersebut kepada Zat yang memberikannya."
Penjelasan Al-Ghazali ini memberikan pelajaran penting bahwa penyakit hati dapat muncul ketika kita mulai mengagumi amal dan kelebihan diri kita sendiri, tetapi melupakan Allah sebagai sumber segala karunia.
Kita yang mampu melaksanakan shalat malam, misalnya, seharusnya bersyukur karena Allah telah memberi kita kesempatan dan kekuatan untuk bangun beribadah. Namun, ketika ibadah tersebut justru membuat kita merasa lebih mulia daripada orang yang masih tertidur, saat itulah ujub mulai mengotori hati kita.
Demikian pula kita yang bersedekah. Seharusnya menyadari bahwa harta yang dibagikan merupakan titipan Allah. Namun, jika sedekah itu membuat kita merasa lebih baik daripada orang yang tidak mampu bersedekah, kebaikan tersebut justru dapat menjadi pintu masuknya kesombongan.
Imam Al-Ghazali juga membedakan antara ujub dan kesombongan. Ujub berkaitan dengan kekaguman terhadap diri sendiri, sedangkan kesombongan melibatkan perasaan lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Karena itu, kita bisa saja tidak pernah merendahkan orang lain melalui perkataan, tetapi diam-diam menyimpan perasaan bahwa kita lebih saleh, lebih ikhlas, atau lebih pantas mendapatkan kemuliaan. Naudzubillah min dzalik.
Allah SWT mengingatkan dalam Surat An-Najm ayat 32:
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
Artinya: "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."
Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan kemuliaan diri kita sendiri. Banyaknya ibadah, luasnya pengetahuan agama, ataupun besarnya pengabdian sosial tidak otomatis menjadikan seseorang lebih mulia daripada orang lain.
Sebab, kemuliaan di sisi Allah tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat, tetapi juga oleh ketulusan hati yang tidak selalu diketahui oleh orang lain.
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Menjaga hati tidak cukup hanya dengan menghindari kebencian, iri, dan dengki kepada sesama. Kita juga perlu memeriksa kembali niat di balik setiap kebaikan yang kita lakukan.
Apakah kita tetap bersemangat berbuat baik ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita tetap bersedia membantu ketika tidak mendapatkan ucapan terima kasih? Apakah kita mampu menerima kenyataan bahwa orang lain mungkin jauh lebih mulia daripada diri kita meskipun secara lahiriah amalnya tidak sebanyak yang kita lakukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting sebagai sarana muhasabah. Sebab, terkadang yang paling membutuhkan perbaikan bukanlah amal yang terlihat oleh orang lain, melainkan niat yang tersembunyi di dalam hati kita.
Pada akhirnya, kebaikan sejati bukanlah kebaikan yang menjadikan kita semakin kagum terhadap diri kita sendiri, melainkan kebaikan yang membuat kita semakin bersyukur kepada Allah.
Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ، اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


