Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ القَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ القَائِلِ أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلَاقِ, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah
Sudah menjadi suatu kewajiban bagi khathib untuk mengingatkan kepada para jamaah khususnya diri khatib sendiri untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan juga selalu berharap belas kasih dan rahmat kepada-Nya terutama ketika kita melakukan kesalahan dan dosa.
Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah
Imam Ibnu Atha’illah al-Sakandari, penulis kitab Alhikam menyampaikan sebagai berikut:
مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ
Artinya: Salah satu tanda seseorang bersandar kepada amal perbuatannya adalah minusnya harapan (terhadap rahmat Allah) ketika dia melakukan kesalahan.
Syekh Sa’id Ramdhan al-Bouthi menjelaskan kalam hikmah tersebut sebagai bentuk ironitas dari seorang hamba yang hanya berpijak kepada amal perbuatannya saja, sedangkan dia mengurangi harapan terhadap rahmat Allah ketika dia tidak sengaja melakukan kesalahan atau dosa.
Dalam arti seorang hamba memang harus selalu beramal saleh sebagai bentuk ketakwaanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi dia juga harus ingat bahwa faktor utama yang bisa menjadikannya masuk surga adalah ridha Allah itu sendiri, bukan serta merta dari amal yang dia perbuat, sehingga dia harus mempunyai harapan besar dalam dirinya akan keridhaan Allah atas segala amal perbuatannya, dan tujuan dia beramal saleh hanya untuk menggapai ridha-Nya dan tidak serta merta hanya karena pahala.
Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallama bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لَا، وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Artinya: Tidak ada satu orang pun yang masuk surga karena amalnya, sahabat bertanya: bahkan engkau juga wahai Rasulallah? Nabi menjawab: Bahkan aku juga, hanya saja Allah menyelimutiku dengan fadhal dan rahmat-Nya.
Hadits itu menunjukkan bahwa amal perbuatan hamba bukan merupakan tiket utama untuk masuk surga, akan tetapi ridha Allah-lah yang menjadi penentu seorang hamba bisa hidup bahagia di akhirat kelak.
Oleh karena itu yang harus kita lakukan ketika melaksanakan ketaatan kepada Allah adalah pertama-tama selalu berharap ridha-Nya dan kemudian pahala dari-Nya sebagai bentuk harapan atas keutamaan, ampunan, dan belas kasih-Nya, bukan serta merta menginginkan pahala atas amal yang telah kita lakukan. Sebab tidak ada jaminan akan diterimanya amal yang kita perbuat kecuali kita hanya bisa berharap bahwa Allah menerimanya dan menjadi sebab Allah ridha kepada kita.
Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat Rahimakumullah
Termasuk hal penting yang harus dipahami oleh seorang hamba adalah dia harus selalu berharap ampunan kepada Allah ketika dia melakukan dosa dan kesalahan, jika saja dia hanya bertumpu kepada amal salehnya saja tanpa bertumpu kepada harapan akan rahmat Allah, dia akan putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah ketika dia tidak sengaja melakukan dosa.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallama pernah mengajarkan suatu doa pelebur dosa kepada seseorang yang mengeluh atas dosa-dosanya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dari sahabat Jabir bin Abdullah berikut:
اَللَّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوْبِيْ وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِيْ
Artinya: Ya Allah, ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku, dan rahmat-Mu lebih aku harapkan daripada amal perbuatanku.
Oleh sebab itu kita harus selalu merasa percaya diri akan rahmat dan ampunan Allah kepada kita selama kita berdoa, dan berharap kepada-Nya, dan tidak putus asa untuk selalu meminta ampunan atas segala dosa dan kesalahan yang kita perbuat sebagai bentuk kesempurnaan dalam bertaubat, sebab ampunan Allah lebih luas daripada dosa-dosa hamba-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu beramal saleh dan diterima disisi-Nya serta menajadikan kita sebagai hamba yang selalu mempunyai harapan tinggi atas fadhilah, rahmat, dan maghfirah Allah subhanahu wa ta’ala agar kita menjadi hamba yang medapatkan ridha-Nya sehingga kita bisa menjadi orang yang ditakdirkan untuk masuk surga kelak di akhirat, Aamin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَ ﷲ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
واعلموا أِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ, يٰۤـاَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَهُمْ يَعْدِلُوْنَ, أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيْ, وَعَنْ السِّتَّةِ الْمُتَّمِّمِيْنَ لِعَشْرَةِ الكِرَامِ وَعَنْ سَائِرِ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنْ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Editor:


