Khutbah Jumat: Hari Santri dan Kewajiban Mempertahankan Kemerdekaan

Khutbah Jumat: Hari Santri dan Kewajiban Mempertahankan Kemerdekaan

Khutbah I

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. .أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Maasyiral Muslimin, Jamaah Jumat hafidzakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Di antara wujud penguatan takwa kepada Allah adalah dengan meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat yang di antaranya adalah nikmat hidup bebas tanpa ada tekanan dari penjajah. Ini karunia nikmat besar yang jika kita kufuri maka kita akan mendapatkan adzab dari Allah.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7: 

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Maasyiral Muslimin, Jamaah Jumat hafidzakumullah,

Alhamdulillah kita ditakdirkan hidup di negara bernama Indonesia. Negara yang saat ini sudah merdeka setelah sekian lama berada di bawah penjajahan. Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi tonggak sejarah lahirnya Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Namun ternyata, proklamasi bukanlah akhir perjuangan. 

Kemerdekaan yang telah diproklamasikan ternyata masih harus dipertahankan dengan pengorbanan jiwa dan raga. Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia menjadi ancaman nyata terhadap kedaulatan negara yang baru saja berdiri.

Dalam situasi genting itulah, kaum santri dan ulama mengambil peran penting. Pada 22 Oktober 1945, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama Nusantara mengeluarkan seruan bersejarah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. Seruan tersebut menegaskan kewajiban umat Islam dan seluruh elemen bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan.

Resolusi Jihad ini menjadi landasan keagamaan khususnya bagi umat Islam sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan. Membela dan cinta tanah air tidak lagi dipandang sebatas perjuangan mempertahankan wilayah, tetapi juga sebagai bagian dari kewajiban agama. 

حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ

Artinya: "Adalah bagian dari iman"

Puncaknya terjadi pada 10 November 1945 ketika pertempuran besar meletus di Surabaya antara pejuang kemerdekaan dengan pasukan Inggris. Peristiwa heroik tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Jika 17 Agustus mengajarkan bahwa kemerdekaan merupakan hak setiap bangsa, maka 22 Oktober mengingatkan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban. Adapun 10 November membuktikan bahwa kewajiban tersebut membutuhkan aksi nyata, keberanian, persatuan, dan kesediaan berkorban.

Ketiga peristiwa yang memiliki keterkaitan erat ini harus menyadarkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari bangsa lain. Kemerdekaan lahir melalui perjuangan panjang seluruh komponen bangsa, termasuk kontribusi besar para ulama dan santri. 

Lalu, Maasyiral Muslimin, Jamaah Jumat hafidzakumullah,

Bagaimana mempertahankan kemerdekaan pada masa kini? Delapan dekade lebih setelah Indonesia merdeka, tantangan yang dihadapi bangsa tentu telah berubah. Generasi sekarang tidak lagi berada dalam situasi peperangan fisik sebagaimana yang dihadapi para pejuang pada 1945. Namun, bukan berarti kewajiban membela kemerdekaan telah berakhir.

Justru dalam kehidupan berbangsa saat ini, semangat Resolusi Jihad perlu diterjemahkan dalam bentuk perjuangan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Jika dahulu ulama dan para santri mengangkat senjata untuk mengusir penjajah, maka santri masa kini harus mengangkat ilmu pengetahuan untuk melawan kebodohan. Allah berfirman: 

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ 

Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS Al-Mujadilah: 11)

Jika dahulu para pahlawan mempertaruhkan nyawa untuk merebut dan mempertahankan kedaulatan, maka generasi sekarang harus memiliki keberanian melawan korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, perpecahan.

Membela negara bukan semata-mata tugas tentara dan aparat keamanan. Setiap anak bangsa mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kemampuan, profesi, dan bidang pengabdiannya masing-masing.

Seorang guru membela kemerdekaan dengan mencerdaskan generasi bangsa. Petani membela kemerdekaan dengan menjaga ketahanan pangan. Pelajar dan santri membela kemerdekaan dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan membangun akhlak. Para pemimpin membela kemerdekaan dengan menjalankan amanah secara jujur dan menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

Demikian pula para tokoh agama memiliki tanggung jawab menjaga persatuan, merawat kerukunan, dan memastikan nilai-nilai agama menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa, bukan sebaliknya. Rasulullah bersabda:

 مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ 

Artinya: “Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, ia akan sulit mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak mau berterima kasih pada manusia, berarti ia tidak bersyukur pada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah bentuk syukur. Enggan menyebutnya adalah bentuk kufur. Bersatu dalam satu jama’ah adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah azab.” (HR. Ahmad)

Maasyiral Muslimin, Jamaah Jumat hafidzakumullah,

Memperingati Hari Santri berarti mengingat kembali kewajiban untuk bersyukur dan menjaga kemerdekaan. Generasi sekarang tidak boleh cukup hanya menjadi penikmat hasil perjuangan para pahlawan. Kita harus menjadi penerus yang mampu menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.

Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangsa terbebas dari penjajahan, tetapi juga bagaimana mampu menjaga kedaulatan, menghadirkan keadilan, mencerdaskan rakyat, dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh warganya.

Semoga kita senantiasa diberi perlindungan oleh Allah dan Indonesia senantiasa menjadi bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

            أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung


Editor:
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo