Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Mengawali khutbah Jumat ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ketakwaan hendaknya tidak hanya tercermin dalam ibadah pribadi, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan keluarga, termasuk dalam menjalankan amanah mendidik anak-anak yang telah Allah titipkan kepada kita.
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan bersama terlebih di era kehidupan modern saat ini yakni: Generasi seperti apakah yang ingin kita tinggalkan setelah kita tiada? Dalam konteks ini, ada tiga target utama yang perlu kita perkuat dalam mendidik anak, yakni menjadikan mereka generasi yang pintar dari sisi kognitif, benar dari sisi afektif, dan segar dari sisi psikomotor.
Ketiga hal ini merupakan satu kesatuan yang harus kita persiapkan sejak dini agar anak-anak tidak tumbuh menjadi generasi yang lemah. Allah telah mengingatkan:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar” (QS An-Nisa: 9).
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Pertama, mendidik anak agar pintar. Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Bahkan, wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW diawali dengan kata-kata: Iqra' yakni perintah membaca. Allah SWT juga menegaskan dalam surah Al-Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ
Artinya: "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
Dalam mencari ilmu, kita juga harus menanamkan kepada anak-anak kita bahwa kepintaran tidak diperoleh secara instan. Semuanya membutuhkan proses, ketekunan, kesabaran, dan kesediaan untuk terus belajar. Termasuk kita perlu mengingatkan agar mereka mencari ilmu dengan cara yang baik yakni melalui guru yang jelas sanad atau silsilah keilmuannya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim).
Ma’asyiral Jamaah Jumat hafidzakumullah,
Kedua, mendidik anak agar benar. Kepintaran saja tidak cukup. Anak-anak juga harus memiliki iman, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah.
Apa gunanya seseorang memiliki kecerdasan tinggi apabila kecerdasannya justru digunakan untuk menipu? Apa manfaatnya menguasai teknologi apabila kemampuannya digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, dan merugikan orang lain? Apa gunanya kepintaran jika mereka tidak memiliki etika, adab, dan akhlak yang mulia?
Rasulullah bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)
Hadirin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah.
Ketiga, mendidik anak agar segar. Segar dalam hal ini bukan sekadar sehat secara fisik, melainkan juga memiliki semangat hidup, kreativitas, kesehatan mental, kemampuan beradaptasi, serta daya juang dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah menyerah, tidak cepat putus asa, dan tidak kehilangan harapan ketika menghadapi kegagalan.
Dalam pembicaraan tentang generasi muda, kita mengenal istilah generasi strawberry. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan sebagian anak muda saat ini yang memiliki banyak potensi dan kreativitas, tetapi rentan menghadapi tekanan dan kesulitan.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
Artinya: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah." (HR Muslim).
Hadirin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah.
Menyiapkan generasi berkualitas yakni pintar, benar, dan segar, bukan hanya tugas pemerintah, sekolah, atau lembaga pendidikan. Semua harus dimulai dari keluarga.
Para ayah memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan nafkah, pendidikan, perlindungan, dan keteladanan. Demikian pula para ibu memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai agama, serta mendampingi pertumbuhan anak.
Keduanya harus saling bekerja sama dalam menjalankan amanah pendidikan keluarga. Masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh harta yang kita wariskan, tetapi juga oleh nilai-nilai yang kita tanamkan sejak sekarang.
Oleh karena itu, jangan hanya mempersiapkan anak agar mampu mencari penghidupan, tetapi persiapkan pula mereka agar mampu menjalani kehidupan dengan benar. Jangan hanya mendidik mereka agar mampu bersaing dengan orang lain, tetapi didiklah pula agar mampu memberikan manfaat bagi sesama. Jangan hanya berharap mereka menjadi generasi yang sukses secara duniawi, tetapi jadikan mereka generasi yang selamat dan bahagia hingga kehidupan akhirat.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankan amanah tersebut dan menjadikan anak keturunan kita sebagai generasi yang pintar ilmunya, benar akhlaknya, serta segar semangat dan daya juangnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ،
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا مِنَ الصَّالِحِيْنَ وَالصَّالِحَاتِ، وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ، وَعِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْهُمُ الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ، وَالْأَخْلَاقَ الْكَرِيْمَةَ، وَالْهِمَّةَ الْعَالِيَةَ، وَالْقُوَّةَ فِي الْحَقِّ وَالثَّبَاتَ عَلَى دِيْنِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H. Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinai Lampung
Editor: Muhammad Faizin


