Di Paris, sekian hari lalu, Indonesia bergirang dengan pemerolehan dua emas untuk panjat tebing dan angkat besi. Para pemain, pelatih, dan penonton berseru bahagia dan terharu. Mereka tetap saja mengucap dalam bahasa Indonesia, Inggris, atau Arab. Sekian orang Indonesia di sana mungkin sudah fasih berbahasa Inggris. Mereka dalam ajang Olimpiade Paris 2024, tak diwajibkan mengerti bahasa Perancis. Sedikit pengetahuan bahasa Perancis dimiliki pasukan Indonesia saat berada di Paris bisa memberi pengantar ke pengetahuan mengenai seni, makanan, busana, filsafat, dan lain-lain.
Di Indonesia beragam buku diterbitkan untuk menimbulkan rangsang mengetahui atau mengenali Perancis. Buku-buku menjadi bekal bagi pengimajinasi Perancis atau pegangan saat orang-orang Indonesia pergi ke Perancis dalam misi studi, dagang, politik, atau seni. Pada 1986, terbit buku berjudul Perancis. Buku diterbitkan UGM Press mendapat dukungan dari Kedutaan Perancis di Indonesia.
Perancis menjadi negara maju disokong industri buku. Kita mengutip: “Buku-buku tentang panduan praktis dan buku-buku yang berisi aktualitas sangat menyerap minat masyarakat yang menggemari buku roman percintaan serta petualangan. Kreasi sastra sangat hidup. Setiap tahun lebih dari 700 hadiah sastra dibagikan dan beberapa pemberian hadiah penting (Goncourt, Femina, Renaudot, Interalle, Medics).” Buku itu mengukuhkan Perancis. Buku-buku terbit dalam bahasa Perancis lekas beredar ke pelbagai negara dalam edisi terjemahan beragam bahasa. Buku-buku dari Perancis pun berdatangan ke Indonesia.
Buku berjudul Perancis itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh lima orang. Mereka memiliki penguasaan bahasa Indonesia dan Perancis untuk kerja penerjemahan demi mengenalkan Perancis untuk para pembaca di Indonesia. Penerjemahan memerlukan pijakan pengetahuan-pengetahuan. Mereka pun memerlukan kamus-kamus agar terjemahan bermutu.
Di Indonesia, kamus-kamus berkaitan Perancis terbit sejak puluhan tahun lalu. Kamus-kamus berukuran kecil besar dan tebal-tipis diminati para pembaca memiliki keinginan mengerti Perancis dan bepergian ke sana. Kita ajukan kamus besar dan tebal berjudul Kamus Perancis-Indonesia (1991) susunan Winarsih Arifin dan Farida Soemargono.
Di halaman pengantar, terbaca penjelasan:
“Penyusunan kamus ini kami lakukan berdasarkan kamus ekabahasa Micro-Robert yang sudah ada. Hal ini kami tempuh dengan alasan praktis mengingat kebutuhan kamus dwibahasa ini sangat mendesak. Hubungan antara Indonesia dan Perancis makin berkembang, terutama dalam bidang pembinaan para pelajar dan sarjana kita, juga dari pihak Perancis makin banyak pula mereka yang berkecimpung dalam dunia Indonesia."
Kamus itu penting. Kamus untuk jalinan dua negara. Kamus digunakan dalam pelbagai kepentingan.
Pierre Labrousse memberi tanggapan:
“Penyusunan kamus seperti ini memang memakan waktu yang lama, lebih dari lima belas tahun dan meminta banyak kegigihan dari penyusunnya.”
Pekerjaan besar dan berat. Kamus berhasil disusun dan terbit, memberikan dampak:
“Kamus ini merupakan suatu tahap yang penting, setidak-tidaknya yang kami harapkan, karena membuka jalan untuk menyebarkan kosa kata Perancis melalui bahasa Indonesia.”
Kerja tak sembarangan dalam leksikografi. Hasil kerja untuk raihan pengetahuan dan pengalaman bagi orang-orang di dua negara.
Kita ingin mengenali sosok pemberi tanggapan atas penerbitan Kamus Perancis-Indonesia. Di tabloid Mutiara edisi 10-20 Oktober 1984, kita mendapat keterangan: “Orang Perancis yang ini rupanya amat tertarik pada Indonesia. Pierre Labrousse, bukan sekali dua kali memasuki Indonesia. Bukan semata-mata karena istrinya wanita Indonesia kelahiran Pacitan, Jawa Timur, tetapi karena ia Ketua Jurusan Bahasa Indonesia pada Fakultas Bahasa dan Budaya Indonesia di Universitas Sorbonne, Paris. Istrinya, Farida Soemargono, adalah asistennya sebagai native-speaker di perguruan tinggi berpengaruh itu.”
Kita mengetahui Pierre Labrousse sebagai pengamat Indonesia. Ia pun pengajar berkepentingan mengeratkan hubungan Perancis-Indonesia. Pernikahan dengan orang Indonesia makin memberi panggilan dalam menjelaskan dan mengisahkan Indonesia. Istri membuat kamus, mendapat tanggapan dari suami dalam kepentingan membekali para pelajar dan sarjana berurusan dua bahasa: Perancis dan Indonesia.
Pada masa Orde Baru, Pierre Labrousse mengikuti perkembangan-perkembangan berdalil pembangunan nasional. Ia sempat mengatakan: “Indonesia adalah surga bagi turis. Indonesia adalah surga bagi penanam modal. Dan, neraka bagi politik.” Ia tidak mau kebablasan memberi pujian dan kritik untuk Indonesia. Pierre Labrousse memilih membuat riset-riset dan menerbitkan buku-buku.
Ia membuktikan dengan penerbitan Kamus Umum Indonesia-Perancis (1991). Kamus diterbitkan oleh Association Archipel (Paris) dan Gramedia Pustaka Utama. Kamus berwarna merah: besar dan tebal. Kamus terbit dengan album kenangan memuat pemikiran para tokoh penting asal Perancis serius membuat riset-riset di Indonesia.
Pierre Labrousse memberi pengakuan:
“Untuk melihat kelanjutan sejarah kamus ini, sepantasnya kami mengingat kelahirannya pada tahun 1966, yang dimulai dengan perbincangan bersama Louis-Charles Damais yang sudah memikirkan untuk menyusun kamus sejarah, juga Claudine Salmon dan Denys Lombard di Jakarta. Masih segar dalam ingatan kami tahun-tahun pertama di Bandung, sejumlah kotak kayu yang penuh dengan kartu-kartu dikumpulkan oleh sejumlah pembaca atas permintaan kami.”
Pierre Labrousse sebagai leksikograf, memiliki siasat dan memerlukan sokongan pelbagai pihak. Kamus itu disusun dalam waktu lama, membuktikan gairah dan tabah. Ia tentu mendapat bantuan dari sosok penting: Farida Soemargono. Kini, kita mengetahui Pierre Labrousse-Farida Soemargono tak sekadar suami-istri. Mereka memberi persembahan kamus.
Dua kamus itu menerangkan jalinan erat Perancis-Indonesia. Kita sulit memastikan kamus-kamus itu digunakan oleh pasukan Indonesia menjelang dan saat berada di Paris (Perancis). Kamus mungkin tak pernah dimengerti memiliki pengaruh dalam raihan medali emas, perak, atau perunggu dalam Olimpiade Paris 2024. Kita menduga saja para peraih medali sempat mengucap kata-kata dalam bahasa Perancis sebagai tanda penghormatan kepada Paris. Di sana, mereka mencipta sejarah dan menginsafi pesona bahasa-bahasa. Begitu.
=============
Baca artikel terkait MOZAIK atau tulisan lainnya dari Bandung Mawardi
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


