Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak, Tempat Komunitas Muslim Aboge Menggelar Tiga Lebaran secara Damai

Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak, Tempat Komunitas Muslim Aboge Menggelar Tiga Lebaran secara Damai

Berada di bawah kepungan areal hutan pinus milik Perhutani Banyumas Barat dan hutan rakyat, kompleks Masjid Saka Tunggal Baitussalam 1 Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah itu masih kokoh berdiri. Bertiang tunggal dengan ukiran angka Arab 1288 inilah, masjid ini masih dijaga dan dimakmurkan warga komunitas adat muslim pengikut Kalender Jawa Alif Rebo Wage (Aboge). 

Angka 1288 yang tertera sebenarnya masih misterius dan multitafsir. Warga setempat juga tak mengetahui secara pasti angka itu adalah angka hijriyah atau masehi. Angka itu apakah angka tahun berdirinya masjid, pemugaran masjid atau pun lainnya. Padahal di luar, banyak yang sudah menafsirkan kalau masjid ini adalah masjid tertua di Jawa bahkan sebelum Masjid Demak didirikan. 

"Selain Saka Tunggal ini, ada sejumlah benda peninggalan yang masih asli antara lain beduk. Untuk lainnya sudah banyak yang diperbaiki dan perbarui. Namun untuk bentuk asli dari dulu hingga sekarang memang masih terjaga," kata Suyitno, mantan Kepala Desa Cikakak yang kini turut menjadi pengurus masjid tersebut.

Selain menjaga keaslian artefak masjid, warga juga terus melestarikan tradisi muslim terutama yang diyakini sebagai peninggalan dari Mbah Toleh atau Kiai Mustolih yang makamnya menjadi tempat keramat para peziarah dari berbagai kota. Mereka menjalankan tradisi Muludan dengan membawa salawat di Bulan kelahiran Nabi Muhammad, mereka juga menyelenggarakan bersih kubur dan mengganti pagar kompleks Masjid dan Makam Kiai Toleh setiap Bulan Rajab yang akrab disebut tradisi kolosal Jaro Rojab. 

Yang paling menjadi perhatian warga umum dan luar desa adalah mereka menjalankan ibadah Idul Fitri atau lebaran versi Aboge.  Akibatnya setiap perayaan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha, ratusan jemaah Masjid Saka Tunggal ini harus menjalani ibadah lebih akhir dengan lebaran versi pemerintah, NU ataupun Muhammadiyah.

"Bahkan di sini bisa jadi ada tiga lebaran karena perbedaan perhitungan ini. Ada yang sekarang ikut lebaran pemerintah, ada yang ikut Aboge dan ada juga yang ikut Asapon (Alif Selasa Pon). Jadi Asapon itu sebelum Aboge," jelas Farid Dimyati, warga asal Cikakak yang kini telah merantau di ibukota Jakarta. 

Dua hingga tiga hari lebaran di satu desa ini, kata Farid, telah menjadi hal yang biasa terjadi di desa Cikakak. Tak ada gesekan yang berarti bagi masyarakat setempat. Karena mereka meyakini semua keyakinan punya dasar masing-masing yang tak bisa dipaksakan. 

Berbeda dengan warga NU dan Muhammadiyah berpandangan sudah ada pergantian rumus falakiyah menghitung dan penyesuaian metodologi, pengikut Aboge tetap meyakini rumus pokok perhitungan kalender Jawa Aboge sudahlah final. Awal Muharam/Syuro tahun Alif akan selamanya akan jatuh pada hari pasaran Rabu Wage (Aboge) sebagai rumus awal.

Makanya pokok rumusan itu tetap mereka gunakan untuk menghitung hari, pasaran, tanggal, bulan, tahun, windu berikutnya. Dengan kalender itulah mereka hidup untuk menjalankan kehidupan, pekerjaan hingga menjadi dasar penentu waktu ibadah tertentu. 

Meski berbeda dalam hisab waktu dan kalender, namun keharmonisan hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bisa dipastikan selalu terjaga di lingkungan komunitas Aboge ini hidup. Di desa tempat pengikut Aboge hidup, perbedaan pengalaman ajaran agama terutama dalam metodologi awal Puasa dan Syawal tak pernah menjadi masalah. Namun dengan perbedaan itu, keharmonisan, kerukunan dan kegotongroyongan masyarakat tetap terjaga. 

"Selain tiga versi lebaran ini, dulu memang ada informasi kalau ada sejumlah warga yang mempunyai keyakinan lain yaitu Budha Geseng. Namun memang sekarang sudah tertutup bahkan mungkin sudah hilang. Jadi memang kami yang ikut versi pemerintah atau NU, biasanya juga turut meramaikan lagi dengan bersalaman dengan mereka yang ada di Masjid Saka Tunggal," kata Farid. 

Keunikan artefak masjid cagar budaya serta tradisinya ini juga sering menarik perhatian warga luar termasuk para peneliti untuk mengulik berbagai nilai akademis di lingkungan ini. Telah banyak sarjana lahir dan telah banyak tulisan akademik, jurnalistik lahir dari desa tiga lebaran ini. 

Sementara itu banyak juga warga luar dalam dan luar kota hadir untuk melihat rupa masjid purba beserta keunikannya. Di hari-hari biasanya aktivitas ibadah di masjid ini terlihat sebagaimana umumnya warga muslim lainnya. Sementara di Hari Jumat, ibadat shalat Jumat dilaksanakan dengan kumandang adzan oleh 4 muadzin dan khutbah keseluruhan dengan Bahasa Arab dengan mimbar tertutup. Para petugas ibadah jumat pun menggunakan jubah putih dan memakai iket kepala, bukan kopiah. 

"Di sini (kompleks Masjid Saka Tunggal) ini rupanya sebagian merupakan penganut tarekat Satariyah. Namun mereka lebih tertutup. Bahkan mereka punya ritual dan tahapan tertentu ketika seseorang hendak mengikutinya. Kalau ditelusur gurunya adalah sosok Kiai Nurhakim," kata Dini Rahmat Aziz, alumni Sosiologi Unsoed Purwokerto yang menulis tugas akhirnya tentang pengikut Aboge di Cikakak ini. 

Dengan keunikan artefak serta tradisi warga pengikut Aboge inilah yang turut menjadi daya tarik wisata religi sejak dulu. Para peziarah hadir di hari-hari tertentu terutama saat Jaro Rojab di Bulan Rajab. Namun demikian di hari-hari tertentu banyak juga yang sowan kepada Juru Kunci yang  berjumlah tiga yaitu Juru Kunci Dhuwur, Tengah dan Lebak. Para juru kunci inilah yang turun temurun menjadi penjaga dan pengantar para peziarah untuk berziarah ke Makam Kiai Tolih yang berada di lereng perbukitan. 

Selain minat para wisatawan peziarah, Masjid Saka Tunggal ini juga menjadi tempat wisata edukasi di mana lokasi kompleks masjid ini menyatu dengan habitat monyet ekor panjang. Tak heran, hingga saat ini di kompleks masjid ini berkeliaran kawanan monyet ekor panjang. Mereka akan turun mencari makanan terutama ketika para pengunjung hadir. 

"Sekarang juga diadakan festival Rwanda Bojana di mana menjadi tradisi pesta para monyet. Ini menjadi agenda wisata tahunan di sini. Rwanda Bojana ini juga menjadi ajang kita memberikan gunungan makanan khususnya dari buah dan sayur untuk monyet di sini. Jadi warga pengunjung tak hanya melihat masjid saka tunggal tetapi juga keramaian satwa yang telah hidup berdampingan ratusan tahun dengan warga di sini," kata Akim Kepala Desa Cikakak. 

Ya, meski selain masjid Saka Tunggal, di tepi jalan nasional Ajibarang-Wangon telah berdiri masjid lain yaitu Baitussalam II dan sejumlah musala, namun aktivitas muslim tak pernah berbenturan. Hingga kini, di desa inilah, perayaan hari  besar dan hari raya dapat dirayakan bersama dan bergantian. Tak hanya pengikut Aboge saja yang menghargai perbedaan, umat Islam lainnya dari ormas NU dan Muhammadiyah juga turut menghormati apa yang menjadi kepercayaan dan keyakinan pengikut Aboge. 

"Silaturahmi bersama atau halal bihalal yang menjadi ciri khas budaya Indonesia juga dilaksanan bersama. Di hari kemenangan seperti Idul Fitri dan Idul Adha, semua golongan melebur. Perbedaan metode penentuan awal bulan qomariyah melalui hisab, Aboge hingga rukyat bulan seperti tak ada lagi," kata Akim. 

 

*Susanto, Ketua LTN NU Banyumas


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo