Jakarta, Arina.id — Panggung Synchronize Fest 2025 kembali menghadirkan kejutan saat penonton di Forest Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jumat sore (03/10/2025) diajak bersalawat. Bukan oleh ustaz, melainkan musisi Kunto Aji yang berkolaborasi dengan kelompok musik Yogyakarta Hadroh Clan (YKHC).
Kolaborasi itu menjadi oase di antara deru festival musik yang dikenal dengan ragam genre populer. Dari atas panggung, lantunan Lir Ilir juga menggema, diiringi rebana, saksofon, trombone, simbal, hingga sentuhan hip hop dari Balance Perdana, beatmaker dan rapper dari Jogja Hip Hop Foundation.
Di layar LED, wajah para wali songo berganti-ganti, menambah aura spiritual di tengah hingar-bingar. Penonton pun larut. Banyak yang ikut bersenandung. Puncak penampilan datang ketika Aji melantunkan Shalawat Tibbil Qulub—atau dikenal juga sebagai Shalawat Nurul Abshar, doa yang diyakini bisa menjadi obat bagi hati dan badan sebagaimana yang ditulis KH Muhammad bin Abdullah Faqih dalam Majmu’ah Maqruat Yaumiyah wa Usbu’iyah
“Shalawat Tibbil Qulub ini teruji (berfaedah) untuk menjaga kesehatan tubuh dan menjadi obat segala penyakit zahir maupun batin."
Potongan video momen itu viral di media sosial. Warganet ramai memuji penampilan tersebut menyebutnya ngaji rasa festival. Bagi para personel Yogyakarta Hadroh Clan, tampil di Synchronize Fest adalah pengalaman yang tak pernah mereka bayangkan.
“Awalnya kita nggak kepikiran bisa main di Synchronize Fest. Tapi dari awal, tujuan utama kami tetap sama: membiasakan diri bershalawat,” kata Wowok personel YKHC lewat akun Instagram resmi mereka dikonfirmasi Arina, Minggu (5/10/2025).
Di sisi penonton, kesan yang tertinggal bukan sekadar musikal. Dzulfikri, mengaku tak percaya lagu-lagu Islami bisa dinikmati seindah itu. "Lagu sesufistik ini bisa seasyik ini dan dinikmati di event hits anak Gen Z, keren sih," kata Dzulfikri.
Menurutnya, kolaborasi ini mampu menyirami jiwa-jiwa urban yang haus akan irama tembang-tembang sufi. "Cukup bikin merinding," katanya.
Dzulfikri menyebut ruang dan momen yang tepat membuat musik-musik religius yang sarat spiritual jadi spotlight. Ia berharap momentum seperti itu terus dirawat.
"Setidaknya, jadi khazanah yang patut hadir di setiap festival. Tentu, agar dakwah-dakwah tersublimasi dalam laku. Tanpa spiritualitas, dakwah hanya seperti suara tahu bulat digoreng dadakan yang tak dihiraukan," imbuhnya.
Editor:


