Sejarah disusun di tempat jauh. Pada 1925, sejarah itu digerakkan oleh Perhimpunan Indonesia dengan “manifesto politik”. Seruan politik mendahului Sumpah Pemuda (1928). Sekian sejarawan menganggap “manifesto politik” bukti kaum terpelajar atau kaum muda Indonesia melek nasib tanah jajahan. Mereka mengadakan kesadaran politik menanggapi kolonialisme saat menempuh studi di Belanda dan berkelana di Eropa.
Kini, kita berhak mengadakan peringatan seabad untuk pembentukan sejarah Indonesia berupa “manifesto politik” di Belanda. Peringatan tak harus melulu politik. Kita justru tergoda mengingat kehidupan kaum muda di Belanda melalui makan(an). Kedatangan mereka ke Belanda memang berpamrih studi tapi urusan makan tetap penting. Mereka sadar perbedaan selera makanan antara tanah asal dan hari-hari di Belanda. Makan menentukan kemauan sehat, cerdas, akrab, rindu, dan persatuan.
Ingatan-ingatan makan(an) tercatat dalam tulisan-tulisan Abdoel Rivai selama kunjungan ke Belanda dan Eropa (1926-1928). Tulisan-tulisan semula terbit di Bintang Timoer. Pada 2000, warisan Abdoel Rivai itu diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia berjudul Student Indonesia di Eropa. Buku menguak agenda-agenda politik dan pengetahuan, tak ketinggalan mengikutkan masalah makan(an).
Pada saat bergerak di kota-kota (Belanda), Abdoel Rivai (3 Oktober 1927) mencatat: “Tempo ada selamatan, saya diundang. Di sinilah, saya dapat berkenalan dengan lebih dari 40 student Indonesia.” Peristiwa mengharukan dan mengobarkan rasa keindonesiaan: “Dari Den Haag, Leiden, Delf, Rotterdam, dan Wageningen, datang semua lid Perhimpunan Indonesia itu. Masa Soeleiman membaca doa dan si pendengar menyebut ‘amin’. Sesudahnya pembacaan doa barulah makan.”
Mereka sedang dihadapkan masalah atas tuduhan-tuduhan sedang mengobarkan perlawanan atas pemerintah kolonial Belanda. Mereka pun dituduh komunis. Di mata kaum politik berpihak kolonialisme, kaum muda atau “student” itu selalu dianggap bersalah dan gangguan. Ikhtiar melawan tak pernah rampung. Mereka pun sadar bawaan tradisi dari kampung halaman. Selamatan menandai mereka tetap berpijak Indonesia, terhubung tata cara hidup di tanah masih terjajah.
Abdoel Rivai mengisahkan: “Bahasa yang dibicarakan bahasa Jawa atau Melayu. Makan dengan tangan. Repotnya selamatan itu seperti repot yang dilihat di Indonesia kalau orang bikin selamatan. Artinya, semuanya kerja, semua mondar-mandir. Ada yang menyendok nasi, ada yang menyendok makanan yang lain. Ada yang bawa piring, ada yang menuang air. Biarpun repot tetapi pada temponya makanan sedia dengan rapi. Anggur atau bir tidak ada sebab orang Islam tidak minum-minuman itu. Air, air teh atau kopi, itulah saja yang diminum. Kopinya bukan kopi saringan tetapi kopi tubruk sebab kopi ini katanya ‘nationaal’. Gulanya gula Jawa. Susu tidak dipakai sebab tidak ‘nationaal’. Rokoknya kelobot. Selamatan itu terus sampai pagi hari.” Peristiwa itu tak diramaikan dengan perbincangan politik. Selamatan atau makan bareng itu jeda.
Kita mengimajinasikan kehangatan, keakraban, dan kelezatan selama selamatan. Peristiwa mengandung tanda seru. Selamatan kaum Indonesia di tanah penjajah. Mereka menjadikan makanan dan minuman itu pembuktian keindonesiaan. Mereka sedang membuat “manifesto kuliner” agar kaum kolonial makin gemetar dan geram.
Kita membaca cerita itu turut girang. Abdoel Rivai berbagi cerita memang bersuasana bahagia meski ia pun menulis kesusahan-kesusahan dialami kaum muda Indonesia di Belanda. Mereka belajar di pelbagai perguruan tinggi sambil berpolitik, berkesenian, dan berpiknik. Kondisi keuangan mereka sering mepet atau terbatas. Mereka cermat dalam berhitung anggaran untuk makan. Duit digunakan dalam pelbagai kepentingan, termasuk iuran saat ada anggota Perhimpunan Indonesia sedang sakit, berurusan dengan polisi, mengalami musibah, atau terpaksa pulang ke tanah air.
Di pengisahan Darsiti Soeratman (1981), kita mengingat Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) menjadi sosok berbelas kasih selama di Belanda. Sejak awal abad XX, kaum muda dan kaum (buangan) politik di Belanda menjalin hubungan agar saling menguatkan dan memuliakan Indonesia. Soewardi Soerjaningrat tak sekadar menjadi pengoceh ide-ide sedang bertumbuh berlatar gerakan nasionalisme dan pendidikan. Ia pun biasa memasak nasi goreng saat kaum muda berkumpul. Makan dan percakapan bersama itu membentuk persatuan selama berada di Belanda.
Catatan selamatan Indonesia di Belanda oleh Abdoel Rivai menjelaskan gerakan pemuliaan tanah air tak mutlak dalam ceramah dan risalah politik. Kaum muda mengerti makanan itu menguak identitas dan sodoran kehendak nasional. Kita kembali lagi ke peristiwa di Belanda melalui tulisan Abdoel Rivai: “Tempo promosinya Mr Soepomo dapat dilihat dengan nyata pendapatan ‘nationaal’ itu dinyatakan (demonstratie) di muka orang banyak (publiek). Mr Soepomo dan kedua pendamping berpakaian Jawa: pakai setangan sarung dan keris. Sesudahnya promosi itu di Wastraat No 1 diadakan makan siang (dejeune dinatoir) tetapi ‘nationaal’ betul-betul! Sate, bakmi, ayam soto, ayam panggang, nasi goreng disediakan buat tetamu… Dari atas atap rumah ini berkibar bendera Perhimpunan Indonesia, yang ada gambaran kepala kerbau yang bengis di tengah-tengahnya.”
Kita makin mendapat kesaksian tentang makanan itu identitas dan nasionalisme di negeri penjajah masa 1920-an. Mereka makan di bawah kibaran bendera merah putih di tengah bergambar kepala kerbau.
Kehadiran kaum terpelajar atau kaum muda Indonesia di Belanda ikut membawa pengaruh sebaran kuliner. Di buku berjudul Rasa Tanah Air: Awal Perkembangan Kuliner Indonesia di Mancanegara Pada Akhir Abad XIX Hingga 1940-an (2023), Fadly Rahman menjelaskan: “Melalui makanan khas tanah air, ikatan kebersamaan para pelajar sebagai sesama bangsa dari Hindia ini terjalin makin kuat. Makanan-makanan Hindia seperti sare, soto, nasi tumpang, dan nasi goreng turut memberi asupan spirit kebangsaan bagi orang-orang Hindia di Belanda.” Makanan-makanan diadakan di sana menjadi identitas komunal. Di situ, kita memastikan peran Perhimpunan Indonesia tak sekadar dalam politik. Mereka sengaja mengadakan “manifesto kuliner”. Fadly Rahman pun menerangkan situasi itu berbarengan dengan perkembangan restoran-restoran Hindia di Belanda.
Masalah studi, politik, dan makan itu terkandung dalam autobiografi Ahmad Subardjo berjudul Kesadaran Nasional (1978). Ia mengisahkan kedatangan kaum muda untuk studi dan keberanian berpolitik melalui Perhimpunan Indonesia. Kaum muda itu getol meraih pengetahuan dan berpolitik dengan membuat jalinan dengan pelbagai gerakan politik di Eropa. Kita menemukan ingatan tentang bendera mengiringi seruan politik dan agenda makan bersama di Belanda.
Ahmad Subardjo mengusulkan lambang itu berupa bendera dengan warna merah dan putih. Gambar kepala kerbau pun diusulkan. Semaoen ikut menjelaskan arti kepala kerbau: “kesabaran, ketabahan, dan keberanian dari orang-orang Indonesia.” Kita mendapat kutipan cukup panjang mengaitkan bendera, kerbau, petani, dan makan: “Pada pukul lima pagi, petani Indonesia membawa kerbaunya ke sawah untuk menggarap, dari pagi sampai petang dengan beristirahat selama satu jam untuk makan di bawah terik matahari. Pada waktu matahari terbenam, ia pulang ke rumah diikuti oleh kerbau melewati hutan. Dapat terjadi suatu waktu macan yang kelaparan menerkam kerbau dari belakang. Kerbau berkelahi dan melempar macan tersebut dari belakangnya, menyerang dengan tanduknya, dan dengan pertempuran hebat dapat mematikannya.”
Kita merasakan heroisme di negeri agraris. Kini, kita mengingat kaum muda pernah mengadakan “manifesto politik” berlanjut mengadakan “manifesto kuliner”. Mereka menikmati kelezatan beragam makanan dan kangen tanah air di bawah kibaran bendera. Konon, Ahmad Subardjo memikirkan lambang itu sambil minum kopi. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


